Sinopsis Buku Jejak Setapak di Tanah Rencong

Evi Susianti*)

Kepengarangan
Siti Rahmah adalah anak kedua dari delapan bersaudara, putri dari pasangan Bapak Hamdani dan Ibu Rosmiati. Lahir di Lhokseumawe 04 Juli 1983, penulis muda ini telah memiliki prestasi sejak kanak-kanak. Setelah musibah gempa dan tsunami tahun 2004, ia mulai tertarik untuk menulis buku dan mencatat hal-hal penting dan menarik terkait musibah dan konflik pasca tsunami. Baginya, menulis adalah tindakan nyata ketika tak lagi ada orang yang mau menyediakan waktu dan kesempatan untuk mendengarkan hingga akhirnya terlupakan. Pada tahun 2009, penulis bergabung dengan Pusat Studi Perdamaian dan Resolusi Konflik Universitas Syiah Kuala, yang didanai oleh World Bank.

Hasrat untuk menulis buku Jejak Setapak Di Tanah Rencong, bermula dari berbagai kisah dan pengalaman penulis sebagai seorang peneliti, yang jarang dipublikasi. Sebagai peneliti di bidang konflik dan perdamaian, penulis turun langsung ke lapangan untuk bertemu dan berinteraksi bersama tokoh-tokoh yang berperan dalam perdamaian Aceh, dan juga masyarakat umum sebagai korban konfik. Hasil laporan penelitian ini, penulis kumpulkan baik dari kisah-kisah human interest dicatat dan dianalisis dengan baik, disajikan dengan menarik dan dipublikasikan dalam bentuk feature.

Sinopsis
Buku ini bercerita tentang pengalaman orang-orang biasa dalam peristiwa luar biasa. Mereka bercerita tentang perjuangan dan masa-masa sulit pada saat konflik hingga masa damai.

Diawali dengan cerita “Bermula Dari Aktivis Mahasiswa”. Dalam cerita ini penulis mendalami perjalanan dan pengalaman kedua aktivis Erwanto dan Kautsar yang penuh dengan lika-liku pada masa konflik. Keduanya terlibat dalam perundingan di Jenewa, hingga terjun kedunia politik pada saat ini. Setelah Aceh Damai, Erwanto pernah menjadi staf khusus Wakil Gubernur Muzakir Manaf, mantan panglima GAM yang menjadi ketua Partai Aceh saat itu. Sementara Kautsar, melibatkan diri dalam kepanitiaan pembentukan Partai Aceh dan menjabat sekretaris pemenangan pemilu Partai Aceh pusat pada pemilu 2009. Lima tahun kemudian, dia mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), dan berhasil lolos dari daerah pemilihan Bireun.

Ada juga pengalaman dan perjuangan seorang perempuan hebat dalam cerita “Perempuan di Garis Depan”, kisah seorang gadis bernama Cut Farah Meutia, yang menggerakkan perempuan di masa konflik hingga memperjuangkan perdamaian Aceh. Bermula dari tragedi Beutong Ateuh, peristiwa pembantaian yang dilakukan oleh TNI di sebuah dayah yang didirikan oleh Teungku Bantaqiah, pada tahun 1999. Pada peristiwa ini, Farah terpanggil dan terlibat dalam aksi-aksi kemanusiaan hingga memutuskan untuk bergabung dengan Solidaritas Mahasiswa untuk Rakyat (SMUR). Dari sinilah akhirnya Farah menjadi aktivis perempuan hingga terlibat di meja perundingan bersama tokoh-tokoh GAM yang lainnya.

Tak lupa penulis juga memberikan apresiasinya terhadap serial drama komedi yang sedang popular di Aceh, yaitu “Empang Breuh”. Drama komedi ini bercerita tentang romatika sepasang remaja dalam percintaan yang rumit. Alur cerita yang dibumbuhi dengan tingkah kocak dari seorang pemuda miskin yang berupaya memikat si gadis pujaan hati yang cantik, karena tidak mendapat restu dari orang tua si gadis. Dengan memakai dialog bahasa Aceh, serial ini menjadi sangat digemari.

Dalam buku ini, ada 19 judul cerita yang sajikan oleh penulis, bagi saya pengalaman Bambang Darmono adalah cerita yang menarik. Cerita ini membuat saya penasaran untuk membaca secara tuntas. Penulis mengupas habis bagaimana perjalanan awal Bambang Darmono seorang Perwira Tinggi TNI, menjalani tugas di Aceh pada masa perang hingga damai. Bambang Darmono adalah seorang Kristen, dan dia tidak menyangka akan mendapat tugas di Aceh yang mayoritas Muslim pada tahun 2002. Selama bertugas di Aceh, ia menghargai orang muslim dan tidak menonjolkan bahwa dia nonmuslim. Hal itulah yang menyebabkan dia diterima oleh masyarakat Aceh.

Semua cerita yang disajikan penulis sangat menarik, mempunyai makna dan hakikat yang berbeda. Cerita ini, dikumpulkan berdasarkan hasil pengalaman masing-masing individual, yang beberapa pernah diterbitkan dalam media online

Kelebihan buku
1. Judul buku sangat menarik
2. Kualitas kertas cukup bagus
3. Ada cerita tentang dua jenderal, yang bisa digolongkan sebagai somebody, berpangkat, dan berjabatan, walaupun bukan tokoh kunci dalam proses merajut damai di Aceh
4. Ceritanya hanya pengalaman orang-orang biasa, bukan tokoh-tokoh terkenal, namun pembaca dapat menangkap sebuah kesan yang inspiratif di setiap ending ceritanya
5. Alur ceritanya stabil dan natural, tidak membosankan

Kekurangan buku
1. Bagian layout buku tidak memuaskan,
2. Warna cover sedikit gelap (kurang cerah)
3. Gambar foto tidak jelas (hitam)

Kesimpulan
Buku ini sangat cocok dan tepat, bagi Anda yang ingin menambah wawasan tentang proses damai Aceh. Penulis menyajikan cerita ini dengan santai, ringan dan sederhana.

*) Penulis adalah Librarian International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS)
Komplek PPISB Unsyiah, Kampus Darussalam, Jl. T. Nyak Arief, Banda Aceh 23111, Aceh, Indonesia
Tel. +62-(0)651-7552368, E-mail: evi.susianti@acehresearch.org. Website: www.acehresearch.org

KOMENTAR FACEBOOK