Bukan Mengambinghitamkan Sosial Media, Tetapi Memositifkannya

MEDIA sosial telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita. Orang dengan leluasa bisa berbagi apa saja yang mereka inginkan, baik melalui twitter, Facebook, Instagram, dan berbagai media sosial lainnya. Begitu juga dengan seorang penulis bisa membagikan tulisannya melalui blog dengan berbagai platform.

Tak dapat dipungkiri lagi, media sosial menjadi suatu kebutuhan khusus. Pemanfaatannya pun beragam, ada yang sekadar berbagi aktivitas personal, sebagai media komunikasi dengan handai taulan di luar kota, dan juga sebagai media berbagi informasi mulai dari kalangan proletar hingga borjuis. Semuanya ternaung di satu platform yang sama.

Layaknya koin yang memiliki dua sisi berbeda walaupun senantiasa berdampingan, media sosial pun sama. Ada sisi positif dan negatif dari kehadiran sosial media yang menjadi tren saat ini. Jika sebelumnya disebutkan banyak hal yang dapat dipelajari di media sosial, maka banyak pula informasi yang beredar yang memaksa kita untuk berpikir beberapa kali serta mencari informasi tambahan terkait informasi yang beredar sebelum akhirnya meyakini apa yang baru saja kita dapatkan.

Pentingnya Tabayyun
Tabayyun dapat diartikan sebagai suatu proses mencari kebenaran atas suatu informasi secara teliti, memverifikasi data yang didapat, mengklarifikasi informasi baik untuk konsumsi pribadi ataupun informasi sebelum melakukan tindakan-tindakan tertentu atas informasi tersebut.

Dalam sejarah umat Islam, banyak sekali peristiwa-peristiwa yang menyebabkan kaum muslimin diminta untuk memastikan kebenaran berita tersebut sebelum beredar di masyarakat luas. Kisah Nabi Muhammad Saw pada perang uhud salah satunya. Setelah mengalami kekalahan dengan syahidnya 70 pasukan, sempat tersiar kabar bahwa Rasulullah turut syahid pada pertempuran itu. Jika saja berita itu diterima begitu saja tanpa ada seorang pun yang memastikan kebenarannya, tentunya kesedihan tak akan terelakkan. Faktanya, Nabi Muhammad hanya terluka, terkena panah hingga tembus ke pipinya.

Dalam Q.S Al-Hujurat Ayat 6 Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” Menurut tafsiran Ibn jar ath-Thabari, turunnya ayat ini dilatarbelakangi oleh praduga yang disampaikan oleh Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, utusan Nabi yang diminta untuk mengambil sedekah kepada Bani Musthalaq yang belum lama masuk Islam.

Walid bin Utah mengatakan pada Nabi bahwa Bani Musthalaq menolak mengeluarkan sedekah, telah keluar dari Islam dan mencoba menyerang sang utusan. Jika saja saat itu nabi tidak mencari informasi lebih lanjut dengan mengirim utusan lainnya untuk mencari kebenaran dari infromasi yang disampaikan oleh Walid, bisa saja segala kemungkinan terburuk terjadi pada masa itu.

Informasi yang berseliweran di media sosial juga sudah sepatutnya untuk diverifikasi kebenarannya. Tidak ada jaminan mereka yang terima cerdas di dunia nyata, terjebak dalam berita-berita yang terlihat benar namun masih diragukan kebenarannya.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universiti Putra Malaysia, dipaparkan bahwa di era media sosial seperti saat ini, urgensi dari sebuah tabayyun juga semakin besar. Berita yang beredar ibarat api liar yang dapat meluluh lantakkan bumi. Tabayyun adalah suatu keharusan, sehingga kesalahpahaman akan suatu informasi tidak semakin menyebar, sehingga kemudharatan dari kurang akuratnya informasi bisa diminimalisir dampaknya.

Mempositifkan Media Sosial
Media sosial bernilai negatif ataupun positif adalah pengguna dan pengambil manfaat dari keberadan media sosial tadi. Jika di awal keberadaannya media sosial ditujukan sebagai mendia untuk berinteraksi, untuk terkoneksi kembali dengan kerabat yang berada di lokasi yang tak memungkinkan untuk langsung bertatap muka, belakangan penggunaan media sosial pun semakin meluas. User memanfaatkan media sosial untuk mendapat informasi terkini akan suatu peristiwa yang terjadi entah di belahan dunia yang mana.

Sebagai contoh Twitter, layanan microblogging yang memungkinkan user untuk berbagi berita dalam 140 karakter. Banyak sekali buzzer, baik itu milik perusahan atau tokoh-tokoh terkenal yang memanfaatkan media ini untuk berinteraksi dengan masyarakat atau menjadikan topik-topik tertentu sebagai trending topic. Hal ini dimaksudkan agar pengguna Twitter lainnya dengan mudah melihat apa yang sedang hangat dibicarakan secara real time dan menjadikannya sebagai bahan obrolan yang tak jarang dibawa hingga ke dunia nyata.

Salah satu bukti positifnya penggunaan media sosial ini adalah ketika terjadi bencana alam gempa bumi. User di Twitter lebih cepat dalam berbagi informasi terkait gempa, walaupun tanpa menyertakan infromasi akurat di mana hanya badan resmi seperti BMKG yang mngkin membagikan informasi penting seperti itu.

Media sosial lainnya yang belakangan mulai banyak diminati adalah Steemit, sebuah media yang memanfaatkan teknologi blockchain di dalamnya. Jika pada media sosial lainnya tindakan seperti plagiarisme tidak serta merta mendapat teguran dari pemilik perusahan, ataupun user lainnya, Steemit justru memiliki beberapa akun yang serta merta siap membasmi user yang membagikan tulisan/foto hasil plagiarism.

Dua di antaranya adalah akun @cheetah dan @steemcleaner yang bertindak sebagai polisi bagi creative content writer. Steemit mengajarkan user untuk menjadi konten kreator yang kreatif tanpa unsur plagiasi.

Oleh karena itu mari kita jadikan media sosial sebagai media bernilai positif dapat dilakukan dengan hanya menjadi pengguna yang pintar (smart user). Pintar dalam memanfaatkan media sosial dan pintar dalam menyikapi informasi yang beredar.

Jangan cuma menanyakan fitur apa saja yang dimiliki sebuah media sosial, tapi cobalah memanfaatkan fitur-fitur yang ada dalam berbagai kepada user lainnya dengan segala sesuatu yang bernilai positif. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

KOMENTAR FACEBOOK