Dampak Memukul & Mengkritik Anak

Ilustasi. Sumber: Internet.

Oleh Soemarno*)

Kekerasan merupakan kejahatan yang telah membudaya di masyarakat. Tindak kekerasan yang dilakukan didasarkan pada tujuan-tjuan tertentu yang ingin dicapai. Kesalahpahaman yang terjadi antara orang tua dan anak sering kali memunculkan tindak kekerasan berupa memukul dan mengkritik anak.

Kekerasan merupakan tindak perilaku menonjol yang meninggalkan bekas luka baik secara fisik, psikologis dan yang berkelanjutan. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan perubahan sosial mengakibatkan perubahan perilaku yang signifikan pada anak-anak. Kesalahpahaman yang terjadi antara orang tua dan anak tanpa disadari memunculkan tindakan negatif dengan cara menghakimi perilaku anak. perilaku menghakimi yang dilakukan oleh orang tua cenderung beralasan bahwa hal tersebut merupakan cara untuk mendisiplinkan anak, dan dengan cara menghakimi anak dengan cara kekerasan itulah yang menjadi sebuah masalah yang mengakibatkan melemahnya hubungan antara orang tua dan anak. Anak yang memiliki hubungan yang tidak baik dengan orang tua cenderung memiliki kepercayaan diri yang rendah, konsep diri yang buruk, mengalami gangguan dalam bersosial, dan dapat dengan cepat terpengaruh dengan keadaan lingkungan sekitar. Perilaku yang sering muncul pada orang tua yang bermaksud mendidik anak adalah memukul dan mengkritik semua perilaku anak tanpa memperdulikan aspek fisik dan psikologis anak.

Ketika mendengar kata “memukul” pasti langsung “merasa” pasti itu sakit. Rasa sakit yang ditimbulkan dari pemukulan yang dilakukan oleh orang terdekat seringkali menimbulkan rasa sakit dan tidak nyaman pada diri individu. Rasa sakit itu akan membekas secara psikologis daripada secara fisik. Perilaku memukul tidak dapat dibenarkan dari segi apapun karena hal tersebut menimbulkan dampak negatif pada kehidupan seseorang. Dari memukul individu merasakan sakit, dari memukul juga individu merasa tidak dihargai dan tidak diterima oleh lingkungan. Alasan mendisipilinkan perilaku anak tidak harus dengan memukul anak. Disiplin merupakan cara untuk mengajarkan anak untuk membedakan hal baik dan buruk, bagaimana bertanggung jawab, dapat bekerja sama dengan orang lain dan mengendalikan diri di lingkungan. Selain itu disiplin juga merupakan jalan untuk mempersiapkan seorang individu menuju tahap kedewasaan. Memukul sering timbul ketika orang tua geram atau marah terhadap perilaku anak.

Emosi marah yang dikeluarkan melalu perilaku memukul dapat bukan menjadikan anak menjadi anak yang disiplin, melainkan anak menjadi takut dan memendam amarah terhadap orang tua. Hasil yang ditimbulkan dari memukul tak lain dan lebih hanya akan membuat hubungan orang tua dan anak semakin berjarak dan dapat merusak keharmonisan rumah tangga. Ketika perilaku memukul telah menjadi pilihan utama orang tua dalam mendisiplinkan anak hal ini telah disimpulkan menjadi sebuah penyimpangan pendisiplinan pada anak. perilaku memukul yang terjadi merupakan manifestasi dari masalah emosional dan psikologis yang terjadi pada orang tua.

Seorang anak berhak merasakan rasa aman dari lingkungannya. Rasa aman merupakan kebutuhan yang harus dimiliki oleh semua orang. Rasa aman tersebut mencakup di dalamnya adalah keamanan fisik, stabilitas, ketergantungan, perlindungan, dan kebebasan dari kekuatan kekuatan yang mengancam, seperti perang, terorisme, penyakit, rasa takut, kecemasan, bahaya. Ketika seorang anak telah memperoleh perlakuan dipukul sejak kecil, perilaku memukul tersebut akan tertanam dalam didalam ingatan dan akan dilakukan kepada anak-naka mereka kelak dan selanjutnya akan selalu berputar. Untuk menghindari perilaku memukul tersebut cara yang paling efektif dan tepat adalah memutuskan pola perilaku memukul tersebut. Pemutusan pola perilaku memukul dimulai dari individu yang menjadi aktor pemukul harus diberikan pemahaman tentang dampak dan solusi dalam menangani emosi marah yang dikeluarkan melalui perilaku memukul pada anak.

Kata “mengkritik” sudah biasa kita dengar dan mungkin telah kita lakukan berulang kali. Sebelum mengkritik apakah sempat terfikirkan dampak dari kritikan tersebut. Pandangan awam tentang kritikan pedas yang disampaikan akan membangun motivasi yang baru bagi anak-anak. hal tersebut berkebalikan dengan kondisi anak yang sebenarnya, ketika anak dikritik maka anak akan mengalami kecemasan,harga diri rendah, tidak percaya diri, pemalu, penakut dan lain sebagainya. Penghargaan diri yang diberikan dari orang lain merupakan kebutuhan dasar dari seorang manusia. Penghargaan diri tersebut bertujuan untuk mengejar kebutuhan akan penghargaan, yang mencakup penghormatan diri, kepercayaan diri, kemepuan, dan pengetahuanyang orang lain hargai tinggi. Ketika seseorang merasa tidak dihargai maka individu tersebut akan merasa tidak berharga dan berbagai kemungkinan negatif lainnya yang dapat memicu hal yang lebih serius kedepannya.

Untuk memunculkan motivasi baru pada anak tidak harus dengan cara mengkritik, anak akan dapat termotivasi ketika kebutuhan anak terpenuhi dan terdapat dukungan dari orang-orang terdekat yaitu lingkungan keluarga terutama orang tua. Ketika perilaku mengkritik telah dilakukan sejak anak berusia dini hal tersebut akan menjadi skema didalam otak anak untuk mengkritik orang lain dengan bebas. Untuk meningkatkan motivasi pada anak, perilaku mengkritik dapat di gantikan dengan cara memberikan reward pada perilaku anak. ketika anak melakukan perilaku yang melanggar peraturan dan norma yang berlaku, berikan reward negatif dengan cara memotong uang jajan dan lain sebagainya. Sebaliknya ketika anak memunculkan perilaku yang sesuai keinginan orang tua dan sesuai dengan peraturan serta norma reward positif dapat diberikan kepada anak berupa bonus uang jajan, bingkisan, hadiah dan sebagainya. Pemberian reward dari semua perilaku anak dapat memunculkan dampak positif dimana anak akan cenderung melakukan perilaku yang sesuai peraturan dan norma yang berlaku.

*)Penulis adalah warga Indonesia.

KOMENTAR FACEBOOK