Mahathir

Mahathir Mohamad. Foto: AFP.

Kemenangan Mahathir di Pemilu Malaysia adalah jawaban bahwa politik sepenuhnya soal harapan. Politik bukan soal yang muda lebih baik, yang tua lebih baik menyingkir. Sebaliknya, bukan pula lebih utama bagi yang tua, sedang yang lebih muda lebih utama menjadi pengikut saja.

Politik adalah soal bagaimana menangkap atau memberi harapan kepada rakyat untuk kemudian diwujudkan. Jika berhasil akan didukung kembali, bila tidak maka berakhir sudah.

Dan kembalinya Mahathir ke panggung politik dalam usia yang mendekati 100 tahun juga jawaban bahwa di dalam politik tidak ada istilah pensiun, apalagi kematian politik. Hanya ada jeda, berhenti sementara, dan pada waktunya bisa kembali lagi.

Mahathir juga mengajarkan bahwa politik yang selamat itu bukan melulu mendukung kekuasaan. Politik oposisi juga jalan terhormat yang bila dijalani dengan baik akan berbuah dukungan rakyat. Buktinya adalah Mahathir sendiri.

Itu maknanya, politik adalah sepenuhnya cara menempatkan diri dalam pikiran dan hati rakyat yang terus merindukan perubahan. Rakyat tidak menyoal sisi salah dan khilaf meski tetap menjadi pertimbangan. Rakyat meletakkan semuanya dalam timbangan yang cerdas, dan akhirnya memilih mereka yang dipandang mampu menghadirkan perubahan, menghadirkan kemajuan sekalipun di dalam sejarah memajukan negeri itu ada kisah-kisah yang tidak mengenakkan.

Itu maknanya, rakyat adalah hakim yang tidak berpihak pada kesalahan dan kejahatan, tapi sekaligus tidak menutup mata pada capaian-capaian yang ada, serta tidak pula mengabaikan harapan bersama. Di dalam timbangan inilah politik rakyat berada.

Malaysia telah mempraktekkannya, apakah ini akan berdampak kepada pemilu legislatif dan pilpres di Indonesia? Rakyat selalu bisa membuat kejutan, termasuk kejutan yang tidak masuk dalam prediksi pengamat politik.

KOMENTAR FACEBOOK