Sujud Terakhir HT Djohan di Baiturahman

Gubernur/ KDH I Dista Aceh Profesor Ibrahim Hasan (kiri) dan Wakil Gubernur/KDH I Dista Aceh HT. Djohan. Foto (koleksi keluarga.

Magrib itu, Kamis (10/5/2001) menjadi shalat fardhu terakhir yang ditunaikan oleh HT. Djohan. Tokoh Aceh asal Tanoh Abee, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar itu, bersimbah darah 50 meter jelang tiba di rumahnya. Ia ditembak dari jarak dekat oleh OTK.

Kepala Satgas Penerangan Operasi Cinta Meunasah II-2001 AKBP Sad Harun menyebutkan anggota MPR RI/Ketua DPD Golkar Aceh tersebut gugur usai melaksanakan shalat magrib di masjid Baiturrahman. “Beliau ditembak dari jarak antara satu dan dua meter dengan menggunakan senjata laras pendek. Korban meninggal di tempat setelah terkena tiga luka tembak di bagian kepala,” kata Sad Harun, seperti dilansir majalah Gatra yang kemudian tayang di Gatra.Com, Jumat (11/5/2001).

Informasi yang dihimpun dari kalangan masyarakat menyebutkan, almarhum meninggal saat perjalanan pulang usai melaksanakan shalat magrib dari Masjid Raya Baiturrahman. Penembakan terjadi sekitar 50 meter menjelang sampai di rumahnya. 

Masih berdasarkan informasi dari masyarakat, pelaku penembakan terdapat dua versi, yakni menggunakan kendaraan mobil Kijang dan ada yang menyebutkan pelaku naik sepeda motor GL Pro.

Teuku Djohan merupakan tokoh kedua yang menjadi korban selama konflik bersenjata di Daerah Istimewa Aceh, setelah yang pertama seorang tokoh ulama yaitu Prof Dr Teungku H Syafwan Idris, MA mengalami nasib sama, demikian laporan ANTARA Banda Aceh, Jumat.

Berita tewasnya Teuku Djohan secara cepat tersiar meluas, dan para tokoh masyarakat di kota Banda Aceh berbondong-bondong menuju rumah duka yang terletak sekitar 100 meter dari Masjid Raya “Baiturrahman” Banda Aceh.

Almarhum Teuku Djohan kelahiran Desa Tanoh Abee, Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar, sekitar 52 KM sebelah timur Banda Aceh, meninggalkan seorang istri bernama HJ Cut Ubit dengan enam orang anak, yaitu Cut Farizal, Teuku Irwan, Cut Dewi, Cut Ratu, Teuku Iqbal, dan Teuku Radja.

Teuku Djohan di kalangan masyarakat Aceh dikenal sebagai tokoh yang ramah, berwibawa dan disegani, sehingga pernah menduduki beberapa jabatan penting/strategis, baik dalam pemerintahan sipil maupun militer.

Lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1961 di Magelang itu, pernah menjabat Ketua DPRD Provinsi Aceh (1997-1999), Wakil Gubernur Aceh (1987-1992), dan sekarang masih menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Aceh serta anggota MPR RI Utisan Golongan.

Dilansir oleh Liputan6.com, pada Jumat (11/5/2001, Kepolisian Daerah Aceh memeriksa 12 saksi dalam kasus penembakan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Golongan Karya Aceh Tengku Johan, Kamis kemarin Para saksi adalah warga sekitar Jalan Profesor A. Majid Ibrahim, tempat kejadian berlangsung dan orang yang berada di lokasi itu. Sejauh ini, polisi belum menemukan pelaku penembakan tersebut. Demikian diungkapkan Kepala Polda Aceh Brigadir Jenderal Polisi Chaerul Rasyid, di Markas Kepolisian Resor Kota Banda Aceh, Jumat (11/5/2001). 

HT Djohan (kanan) bersama EE Mangindaan , putra Manado yang ketika muda pernah bertugas di Aceh serta menjadi pemain klub PERSIRAJA. Menjabat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara era SBY. (Foto: Koleksi keluarga).

Menurut Rasyid, keterangan saksi masih belum seragam. Sebagian saksi mengatakan pelaku mengendarai sepeda motor. Sedangkan sebagian lagi menyebutkan melihat sebuah mobil warna coklat berhenti sesaat dan melepaskan tembakan. Karena itu, lanjut dia, polisi masih mendalami semua keterangan saksi. Rasyid juga berjanji akan bekerja ekstra keras untuk mengungkap kasus tersebut. 

Menanggapi keterkaitan antara pembunuhan Rektor Institut Agama Islam Negeri Arraniry Profesor Sofyan Idris September silam dan kasus ini, Rasyid menegaskan, polisi belum menemukan adanya keterkaitan kedua kasus tadi. Sebab, sampai sekarang kasus pembunuhan Sofyan belum juga terungkap 

Tokoh Ketiga Tewas Dibunuh

Dalam laporan Gatra.Com, tokoh Aceh, Teungku Imam Suja’ meminta aparat keamanan mengusut tuntas kasus pembunuhan terhadap Teuku Djohan. 

“Kita cuma bisa mengimbau aparat dapat mengungkap kasus pembunuhan terhadap mantan Wakil Gubernur Aceh itu. Apalagi, meninggalnya tokoh Aceh itu sangat tragis dan di luar batas kewajaran karena ditembak,” katanya saat melayat ke rumah duka di Banda Aceh, Jumat. 

Dengan meninggalnya Ketua DPD Partai Golkar Aceh itu, berarti provinsi yang dijuluki daerah “Serambi Mekah” tersebut telah kehilangan tiga orang tokoh, yakni Rektor IAIN Ar-Raniry Darussalam, Prof. Safwan Idris dan seorang anggota DPR RI asal Aceh Teungku Nasiruddin Daud. Ketiga tokoh Aceh tersebut meninggal karena dibunuh, dan sampai sekarang belum ada yang terungkap pembunuh dan motifnya.

“Kita sudah kehilangan tiga orang tokoh yang selama ini menjadi panutan ummat. Yang cukup memprihatinkan kita adalah mereka
meninggal secara tragis akibat tindak kekerasan sebagai ekses konflik bersenjata,” kata Imam Suja’.

“Kondisi Aceh yang sudah memasuki pada titik kritis ini yang menyebabkan berbagai tindak kekerasan, seperti pembunuhan ulama dan tokoh. Dengan kematian-kematian seperti ini (penembakan), lalu apakah persoalan Aceh bisa selesai. Inilah yang harus kita jawab secara bersama-sama,” tambahnya.

Ketika ditanya apakah pembunuhan HT Djohan itu ada kaitannya dengan politis, ia menilai selama ini almarhum tidak memiliki musuh, jadi tidak bisa memprediksikan ke arah itu, namun diharapkan proses hukum yang bisa mengungkapkannya.

Sementara itu, sejak pukul 08.00 WIB, Jumat, rumah duka di jalan Prof. A. Madjid Ibrahim Banda Aceh, terus dibanjiri ribuan pelayat, baik dari Muspida maupun masyarakat serta alim ulama.

Jenazah HT Djohan dikabarkan akan dikebumikan secara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Banda Aceh, sekitar pukul 14.00 WIB, setelah dishalatkan di Masjid Raya Baiturrahman. 

Kini, penembak sesungguhnya HT Djohan masih sebuah misteri bagi publik. Beberapa orang mengaku mengetahui siapa yang membunuh dan siapa yang memerintahkan pembunuhan terhadap mantan tentara itu. Pihak keluarga mengaku juga mengetahui siapa pelaku sesungguhnya. Tapi demi menyongsong masa depan Aceh yang lebih baik, mereka lebih memilih untuk menyimpan rahasia itu.

Sumber: Gatra, Liputan6.com.,dbs