Pakar Ekonomi: Di Aceh, yang Dibangun Hanya Ekonomi Pejabat

Rustam Efendi (berdiri dan memegang mic) saat berdialog dengan Surya Paloh, Jumat (11/5/2018). Foto: Masrian Mizani (aceHTrend).

ACEHTREND.CO, Banda Aceh- Pakar Ekonomi dari Universitas Syiah Kuala, Rustam Efendi mengatakan Badan Usaha Milik Aceh (BUMA) membangun kerjasama bisnis dengan dinas -dinas. Akibatnya yang kaya hanya kepala dinas dan PPTK-nya.

Hal ini disampaikan oleh akademisi tersebut pada acara silaturhami tokoh Aceh lintas elemen dengan Surya Paloh di Kriyad Muraya Hotel, Banda Aceh, Jumat malam (11/5/2018) pukul 20.00 WIB.

Saat ini pertumbuhan ekonomi Aceh berjalan sangat lambat. Dilihat dari data, tahun 2017 ekonomi Aceh hanya tumbuh 4,1%, tahun 2016 hanya sebesar 3,3% untuk sektor migas dan 3,65% untuk sektor non migas.

“Kita bicara data, tahun lalu pertumbuhan ekonomi hanya 4,1% sebelumnya 3,3 % dan 3,34% untuk migas, 3,65% non migas, dan sayangnya lagi adalah pertanian sebagai unggulan yang sumbangannya 30,7 % kepada ekonomi Aceh, pertumbuhannya juga sangat lambat,” ungkap Rustam Efendi.

Sektor ekspor juga mengalami persoalan serupa. Tingkat ekspor Aceh mengalami minus 76%. Artinya yang dijual keluar lebih sedikit dari pada yang masuk. Sementara yang banyak tumbuh di Aceh hanya lapangan usaha kontruksi, itupun kalau dicek dari mana bahan – bahannya, hampir semua dari luar Aceh, kecuali batu bata, bata gunung dan kayu milik Aceh.

Masuknya modal swasta ke Aceh sangat minim, sehingga tidak ada genjotan lain yang bisa mengungkit ekonomi Aceh selain Annggaran pendapatan Belanja Aceh (APBA).

Kondisi Aceh bertambah buruk karena eksekutif dan legislatif sibuk saling bertengkar.

“Intinya kalau seperti ini terus-terusan, Aceh tidak ada apa-apanya. Saya sudah hitung komposisi dana otsus untuk APBD Aceh itu meningkat, kalau awalnya komposisinya hanya 36% , yang terakir meningkat 53% komposisi dana otsus terhadap APBA. Maknanya, kalau otsus habis, setengah anggaran habis. Kalau sekarang ini anggarannya ada 15,1 triliyun dan otsus 8,1 triliyun, intinya setengah tinggal dana otsus, dan totalnya pada tahun 2020-2028 Aceh hanya mempunyai anggaran setengah saja, hanya ada sekitar 7 Triliyun. Logikanya, dengan 15 Triliyun saja kita hanya tumbuh 4% , lantas bagaimana ke depan,” sebutnya.

Selain itu, lanjut Rustam, data kemiskinan Aceh meningkat, tentu semua itu akan berdampak pada generasi Aceh kedepan, apa lagi Tingkat Kesempatan Kerja (TKK) juga berada diposisi minus, kalau ada sekitar 10 lowongan, sekarang hanya tinggal tujuh lowongan saja.

“Yang ingin saya sampaikan adalah mau ke mana Aceh kedepan. Dan kualitas belanja kita sangat jelek, kalau kita mau melihat siapa senang, tentu pejabat hari ini yang senang, Pak Ketua Umum (Surya Paloh-red), buktinya lebih banyak belanja pegawai, gedung tinggi-tinggi tapi ekonomi tidak ada apa-apa. Saya sering duduk di pasar –pasar sama penjual mie, penjual martabak, saya tanya ke mereka tingkat daya beli, malah mereka mengakui kalau selama ini 20 kilo/hari tapi sekarang cuma laku 10 kilo/harinya. Tentu itu adalah masukan kepada kita semuanya,” jelas Rustam.

Tentunya, kata Rustam, pasti timbul sebuah pertanyaan di mana letak kesalahan. “Kuncinya yang saya lihat, selama ini kita salah pada strategi, kenapa strateginya yang salah, sebab isu tidak kita analisis dengan baik. Planning di atas meja kita buat, sehingga kita tidak jelas mana kebutuhan , mana keinginan. Jadi kualitas belanja kita sangat jelek.”

Sebenarnya sebut Rustam, Aceh memiliki Badan Usaha Milik Aceh (BUMA), tapi lucunya pembangunan ekonomi malah dengan dinas-dinas.

“Beda halnya dengan negara yang membangun ekonomi lewat BUMN, sedangkan kita dengan dinas, sehingga yang kaya siapa, maaf cakap kita bilang ya kepala dinas sama PPTK-nya. Maka untuk itu, selaku putra Aceh kami berharap agar Pak Surya Paloh untuk meminta kepada Presiden Joko Widodo untuk memperpanjang dana otsus Aceh. Kalau tidak saya rasa Aceh akan kacau dan akan lebih sulit lagi di masa akan datang,” pinta Rustam.