Sadar Bencana Gunung Berapi

Erupsi Sinabung. Foto: Foto Antara.

Oleh Muhammad Arifin*)

Indonesia merupakan negara yang memiliki gunung api aktif terbanyak di dunia yakni sebanyak 127 buah. Artinya, akan ada banyak kemungkinan terjadinya bencana gunung meletus. Maka dari itu, masyarakat Indonesia diharapkan selalu siaga dalam menghadapi bahaya gunung meletus agar mengurangi risiko jatuhnya korban jiwa.

Di tahun 2018 ini ada beberapa gunung api yang meletus yakni Gunung Agung yang ada di Bali pada hari Selasa (21/11/2017). Letusan yang terjadi pada pukul 17.05 Wita ditandai dengan asap berwarna kelabu dan abu vulkanik tipis yang membumbung dari puncak kawah yang mengakibatkan 53.207 jiwa mengungsi dari desanya yang tersebar di 233 titik pengungsi, masyarakat sekitar dihimbau tetap tenang dan dilarang melakukan aktivitas di dalam radius 6 kilometer dari puncak kawah Gunung Agung.

Pada hari Senin (19/2/2018) pukul 08.53 WIB, Gunung Sinabung meletus setinggi 5.000 meter dengan tekanan kuat dan warna kelabu kegelapan. Lama gempa letusan 607 detik. Letusan disertai dengan luncuran awan panas sejauh 4.900 meter ke arah Selatan – Tenggara dan 3.500 meter ke arah Tenggara Timur. Angin bertiup ke arah Barat – Selatan.

Letusan ini merupakan letusan terbesar selama tahun 2018 , beberapa kecamatan yang diselimuti abu vulkanik di antaranya adalah kecamatan Simpang Empat, Naman Teran, Payung, Tiga Nderket dan Munthe. Abu vulkanik Gunung Sinabung dapat dirasakan sampai ke Aceh, yaitu di Kabupaten Aceh Utara, Lhokseumawe dan Bireuen. Namun, letusan kali ini tidak menelan korban jiwa, tetapi masyarakat juga dihimbau untuk tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak gunung.

Namun perlu diingat dan jadi pelajaran bersama, tepat pada hari Sabtu (21/5/2016) luncuran awan panas Gunung Sinabung menelan 3 korban meninggal dan 4 kritis diakibatkan masyarakat tidak menghiraukan himbauan pemerintah agar tidak melakukan aktivitas berkebun di dalam radius 4 km dari puncak kawah Gunung Sinabung.

Gunung Merapi yang terletak di Kabupaten Klaten, Magelang, Boyolali dan Sleman meletus pada hari Jumat (11/5/2018) sekitar pukul 07.32 WIB, letusan disertai suara gemuruh dengan tinggi kolom 5.500 meter dari puncak kawah. Letusan melontarkan abu vulkanik, pasir dan material prioklatik.

Jenis letusan ini tidak berbahaya dan dapat terjadi kapan saja, biasanya letusan ini hanya berlangsung sesaat, status Gunung Merapi hingga saat ini masih normal dengan radius berbahaya 3 kilometer dari puncak kawah. BPBD Sleman menghimbau agar masyarakatnya tetap tenang, BPBD Sleman telah menginstruksikan masyarakat yang tinggal di dalam radius 5 kilometer untuk melakukan evakuasi ke barak pengungsi yang sudah disiapkan pemerintah. Berdasarkan laporan sementara ada sekitar 120 orang pendaki yang kondisinya semua selamat dan para pendaki itu direkomendasikan oleh BPBD Sleman untuk tidak melanjutkan proses pendakian sampai ke puncak kawah (bnpb.go.id).

Masyarakat di sekitar gunung api perlu mengetahui level dan status gunung api yang ada di Indonesia, dengan tujuan agar masyarakat paham akan himbauan yang dikeluarkan pemerintah di saat jterjadi bencana gunung meletus. Pertama, Level I (Normal) yaitu tidak ada aktivitas gunung api yang berarti yang artinya kondisi aman. Kedua, Level II (Waspada) yaitu perubahan gejala yang diakibatkan oleh aktivitas magma, tektonik dan hidrotermal dan larangan untuk beraktivitas. Ketiga, Level III (Siaga) yaitu menandakan gunung api yang sedang berpotensi menimbulkan bencana, langkah tindakan yang harus dilakukan masyarakat yaitu melakukan evakuasi untuk mengkosongkan daerah. Keempat, Level IV (Awas) yaitu menandakan gunung api berkecendrungan akan meletus, sesuai rekomendasi dari PVMBG wilayah di kawasan rawan bencana untuk dikosongkan.

Ada 3 fase yang dikenal di dalam manajemen bencana, yakni fase pra bencana, saat bencana dan pasca bencana. Berikut ini ada 3 fase atau langkah siaga bencana gunung api yang sebaiknya masyarakat lakukan.

Fase pra bencana atau sebelum bencana, sebelum terjadinya gunung meletus, masyarakat di sekitar gunung api sudah menyiapkan dukungan logistik dan alat pelindung diri seperti masker dan kacamata. Mengetahui jalur evakuasi dan shelter perlindungan yang telah disiapkan. Setelah kedua hal tersebut dilakukan, masyarakat perlu memperhatikan arahan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi untuk langkah selanjutnya.

Fase saat bencana, menghindar dari daerah rawan bencana (lereng, lembah gunung dan daerah aliran lahar) hindari tempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan gunung api. Gunakan masker atau kain basah untuk menutup mulut dan hidung. Jangan memakai lensa kontak. Kenakan pakaian tertutup yang melindungi tubuh seperti baju lengan panjang, celana panjang, topi dan sepatu.

Fase Pasca bencana atau setelah letusan gunung api terjadi, jauhi wilayah yang terkena hujan abu. Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu vulkanik sebab bisa merusak mesin kendaraan, rem, perseneling hingga pengapian. Bersihkan atap dari timbunan debu vulkanik, karena beratnya bisa merobohkan dan merusak atap rumah atau bangunan. Perhatikanlah informasi dari berbagai media terpercaya seperti dari BMKG, BNPB, BPBD dan media informasi terpercaya lainnya, dengan memperhatikan informasi, masyarakat dapat lebih waspada akan kemungkinan bahaya susulan lainnya seperti banjir dan lahar dingin.

Dengan memahami fase-fase dalam bencana gunung api ini diharapkan masyarakat dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang bencana gunung api, dengan pahamnya masyarakat diharapkan akan terbentuknya kesiapsiagaan pada diri masyarakat tersebut, yang akan meningkatkan kapasitas dan akhirnya akan mengurangi risiko bencana.

Berikut ini contoh masyarakat yang sudah melakukan kegiatan penguatan kapasitas masyarakat dalam kesiapsiagaan atas ancaman letusan Gunung Kelud. Diawali pasca erupsi kelud 2007 masyarakat Desa Sempu sudah tidak asing lagi dengan kegiatan pelatihan-pelatihan kebencanaan, hingga lahirya Tim Siaga Jangkar Kelud Desa Sempu, berdirinya Radio Komunitas Sempuraya FM dan upaya gladi evakuasi pengungsi saat terjadi bencana.

Kegiatan penguatan kapasitas masyarakat tersebut merupakan modal awal dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan bencana, alhasil saat terjadi erupsi kelud 2014 masyarakat bisa terkoordinasi dengan baik saat upaya evakuasi. Mulai dari penentuan titik kumpul serta tim Satlak Desa, penentuan tujuan mengungsi serta jalur yang dilalui, pembagian peran dan alur komunikasi dan informasinya sehingga secara mandiri masyarakat mengevakuai dirinya setelah menerima informasi dari tim siaga desa.

Berkat upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Sempu, BPBD Kabupaten Kediri menunjuk Desa Sempu sebagai Pilot Project Pemanfaatan Sistem Informasi Desa untuk Kebencanaan, dan harapan BPBD Kabupaten Kediri peran serta masyarakat dan dunia usaha di Desa Sempu dapat bersinergi dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana dan Desa Sempu bisa menjadi salah satu Desa Tangguh Bencana di Indonesia (Sempu.desa.kedirikab.go.id).

*)Muhammad Arifin, mahasiswa Pascasarjana Magister Ilmu Kebencanaan Universitas Syiah Kuala.
Email : arifin90@mhs.unsyiah.ac.id