Sehari Bersama Teuku Ismuhadi

Teuku Ismuhadi berdiri di anjungan Rumoh Aceh miliknya di Gampong Krueng Baro, Kecamatan Peusangan, Bireuen. Foto: Taufik Ar-Rifai (aceHTrend)

Sebuah pesan singkat masuk ke aplikasi WhatApp milik saya, Jumat (11/4/2018). Pesan itu berasal dari Teuku Ismuhadi yang isinya adalah “Dinda, peu kana di Bireuen? Meunyoe katrok tulong peugah pat posisi mangat lon jemput. (Adinda, apa sudah tiba di Bireuen? Kalau sudah sampai tolong beritahu di mana posisinya biar saya jemput).

“Jeut bang. Nyoe loen katrok u keude Matang, dikeu masjid (Boleh Bang. Saya ini sudah tiba di Pasar Matang, depan masjid),” balas saya.

Lima belas menit kemudian, sosok yang akrab disapa Bang Is ini tiba di pekarangan masjid. Di balik jendela kaca mobil Landrover Defender miliknya, ia melambaikan tangannya ke arahku dan dan langsung mengajakku berkeliling kota Bireuen dan sekitarnya.

Sepanjang perjalanan, mantan tahanan politik (tapol) Aceh itu tampak sumringah. Sekali-kali ia berkisah tentang enggalan-penggalan kisah hidupnya. Terlalu banyak riwayat yang dirawikan, dan itu bukan untuk ditulis di sini.

Sekilas Bang Is terlihat sebagai sosok yang dingin, misterius dan tertutup. Sejak menghirup udara bebas pada Januari 2012 lalu, Bang Is jarang muncul ke publik, kalaupun ada, ia hanya bicara sepotong-potong. 

Tapi sesungguhnya, Bang Is adalah sosok yang enak diajak bicara dan susah berhenti takkala bercerita sejarah dan kisah lama. Terkadang ia tertawa lepas saat mengenang kisah-kisah yang lucu, kadang mimiknya terlihat haru saat sedang serius.

Tiba di sudut kiri tikungan, mobil yang dikemudikannya berhenti. Di sana, ia pun langsung mengajakku ke rumah Aceh miliknya di Gampong Krueng Baro Babah Krueng, Kecamatan Peusangan, Bireuen.

Rumoh Aceh milik Ismuhadi. Foto: Taufik Ar Rifai (aceHTrend)

“Nyoe gampong loen, sinoe keuh loen lahee. Malam nyoe geutanyoe nyang phon ta eh di rumoh Aceh nyoe (ini kampung saya, disinilah saya lahir. Malam ini kita akan nginap perdana di rumoh Aceh ini),” ujar Teuku Ismuhadi yang tawarannya langsung saya respon positif.

Teuku Ismuhadi mengisahkan, rumah Aceh berukuran  10 x 12 meter tersebut merupakan pemberian Tuanku Ibrahim, pengusaha Aceh yang aslinya berasal dari Gampong Cot Kuthang, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie. Menurutnya, butuh waktu sekitar dua tahun untuk memindahkan rumah yang berkontruksi kayu dan ukiran khas Aceh tersebut. Adapun prosesi pemindahannya itu melibatkan langsung Usman Abdullah alias Utoh Suman. Ia adalah konseptor dan sekaligus perancang rumoh Aceh.

“Rumah ini Utoh Suman sendiri yang bangun lengkap dengan ukiran khasnya. Namun, sekitar dua bulan kemudian, beliau menghadap Sang Khalik,” ujar Teuku Ismuhadi.

Teuku Ismuhadi mengaku, Rumoh Aceh miliknya itu nantinya akan terbuka untuk khalayak umum. Hal ini didasari atas niatnya untuk melestarikan kembali adat dan istiadat Aceh yang peradabannya mulai tergerus jaman modern. Untuk ke depan, lanjut Teuku Ismuhadi, rumah ini juga nantinya akan dijadikan sebagai museum edukasi. Selain itu, sebuah balai pengajian Babul Muhaqiqin terletak di sebelah sudut kanan rumah. Balai itu sendiri dibangun oleh almarhum Teungku Mahyuddin, S.Ag pada tahun 2007. Ia sendiri meninggal dunia pada tahun 2012. 
 
Tujuannya adalah ingin menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi yang kental ke-Acehan berlandaskan spiritualisme Islam.

Penulis (kanan) dan Ismuhadi, saat sedang berbincang di beranda. Foto: Ist.

Adapun Rumoh Aceh miliknya itu dikelilingi pagar kayu jati. Perlu diketahui, kayu itu sendiri berasal dari Lapas Klas 1 Cipinang, jakarta Timur, tempatnya meringkuk selama 20 tahun lamanya. Kayu tersebut merupakan sisa puing reruntuhan bangunan rumah sakit tempo dulu di masa pemerintahan kolonial Belanda sekitar tahun 1808. Baginya, kayu ini menjadi kenangan baik suka dan duka selama meringkuk di Cipinang. Kala itu, ia sempat divonis hukuman penjara seumur hidup.
 
“Awalnya banyak yang pikir itu mustahil. Apalagi kayu itu saya kumpulkan hingga dua truk. Namun karena rasa semangat dan optimis yang besar dan juga doa rakyat Aceh, saya akhirnya divonis dua puluh tahun,” kenangnya.
 
***
Lama tak terdengar kabar, mantan tahanan politik Aceh, Teuku Ismuhadi Jafar sedang fokus menukuni bisnis milik keluarganya di Jakarta. Mantan orator ulung menolak terjun dalam dunia politik.

Bisnis yang digeluti saat ini merupakan biro jasa travel dan transportasi yang berkantor di Cilandak, Jakarta. Bisnis ini sudah lama dirintis oleh keluarganya. Kini sudah memiliki beberapa cabang di pusat Ibukota tersebut.

Pria kelahiran Bireuen, 29 Januari 1969 ini mengungkapkan, berhenti di dunia politik tidak mengubah pandangannya tentang konsep membangun Aceh. Baginya, membangun Aceh tidak hanya dengan terjun ke panggung politik semata, melainkan banyak cara yang bisa ditempuh dalam membangun Aceh.

“Bagi saya, membangun Aceh itu sendiri tidak mesti terjun ke dunia politik. Asalkan ada niat tulus disertai kesadaran dalam lubuk hati kita sendiri Insya Allah Aceh ini juga bisa kita bangun,” kata Teuku Ismuhadi.

Ayah dua anak ini mengungkapkan, selain melanjutkan bisnis keluarganya, seluruh aktivitasnya juga dicurahkan untuk fokus kepada keluarganya.

Pasalnya, kata Tgk Ismuhadi lagi, hukuman yang dijalaninya selama 20 tahun ini dinilai telah menelantarkan istri dan kedua anak-anaknya.

“Sewaktu saya ditahan, anak sulung saya masih berusia dua tahun. Jadi inilah saatnya saya luangkan waktu untuk menjaga kedua buah hati dan istri saya ini. Saat saya masih dalam tahanan, anak-anak saya selalu menangis dan merengek lewat ibundanya untuk menemani dia ke sekolah,” ujar Tgk Ismuhadi.

Meskipun demikian, suami dari Aznani yang telah dinyatakan bebas bersyarat bersama dua tahanan politik lainnya pada Januari 2012 lalu ini mengaku sangat bersyukur dan tidak mampu membalas jasa masyarakat Aceh yang telah membantunya selama berada dalam tahanan. Mulai dari meringkuk di LP Cipinang hingga saat dipindahkan ke LP Banda Aceh dengan status asimilasi.

“Jasa ngon doa rakyat Aceh rayeuk that keu loen. Loen han ek loen balah ban mandum, asai na lon di Aceh, sabee na rakan nyang telpon  pakat duek jep kupi atawa jak silaturrahmi (Jasa dan doa rakyat Aceh sangatlah besar kepada saya. Saya tidak sanggup membalas semuanya, saat pulang ke Aceh, selalu ada rekan yang telpon ngajak ngopi atau sekedar silaturrahmi),” imbuh Teuku Ismuhadi.