Filosofi Makmeugang

Pakistan merupakan sebuah negara yang termasuk kedalam federasi negara-negara Anak Benua, secara geografis negara ini, terletak di wilayah Asia Selatan, mayoritas penduduk negeri Pakistan beragama Islam.

Negeri yang secara harfiah berarti daratan suci, dikenal memiliki tradisi yang unik dalam menjalankan ritual keagamaan, salah satunya adalah memandikan hewan kurban sebelum dipotong. Tradisi memandikan hewan kurban dilakukan untuk menjaga kebersihan hewan ternak sebelum dijual ke khalayak ramai,hewan kurban juga dihias dengan kalung-kalung bunga serta hiasan-hiasan plastik. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap pengorbanan yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim As.

Pada konteks sosial kultural masyarat Aceh, masyarakat Tanoh Rencong mempuyai sebuah tradisi untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, Idul Fitri, maupun Idul Adha. Yaitu sebuah tradisi yang telah mendarah daging sejak zaman endatu, perayaan hari Makmeugang atau Meugang.

Festival meugang adalalah sebuah perayaan dimana masyarakat Aceh membeli daging di pasar, kemudian disantap bersama keluarga keluarga masing-masing. Biasanya pada hari meugang merupakan momen penting untuk berkumpul bersama saudara. Lazimnya para perantau akan pulang kampung untuk merayakan mak meugang bersama keluarga untuk menikmati gurihnnya daging meugang.

Tradisi meugang menurut beberapa literasi, pertama kali dilakukan oleh Sultan Agung Iskandar Muda, Tradisi Mak Meugang kemudian disahkan ke dalam qanun Meukuta Alam, pada Bab II pasal 47, bunyi qanun tersebut adalah:

Sultan Aceh secara turun temurun memerintahkan Qadi Mua’zzam Khazanah Balai Silatur Rahmi yaitu mengambil dirham, kain-kain, kerbau dan sapi dipotong dihari Mad Meugang. Maka dibagi-bagikan daging kepada fakir miskin, dhuafa, orang lasa, buta. Pada tiap-tiap satu orang yaitu; daging, uang lima mas dan dapat kain enam hasta. Maka pada sekalian yang tersebut diserahkan kepada keuchieknya masing-masing gampong daerahnya. Sebab sekalian semua mereka tersebut itu hidup melarat lagi tiada mampu membelikannya, maka itulah sebab Sultan Aceh memberi pertolonganya kepada rakyatnya yang selalu dicintai.

Perayaan meugang juga dirayakan sebagai bentuk syukur kemakmuran kerajaan Aceh Darussalam, sekaligus wujud terima kasih untuk rakyatnya dalam menyambut bulan suci Ramadhan dengan hati gembira bersama sang Raja dan Pembesar kerajaan.

Namun ketika Belanda menjajah Aceh tradisi makmeugang tidak lagi dilaksanakan oleh pihak kerajaan Aceh Darussalam, akan tetapi sudah dilakukan secara personal.

Meugang Zaman Now

Tradisi perayaan makmeugang pada zaman sekarang telah mulai bergeser dari nilai-nilai filosofi dimensi penutoh ajaran-ajaran Qanun Meukuta Alam, hal itu dapat ditandai dengan datangnya malapetaka dalam wujud kenaikan harga sembako, daging sapi dan kerbau dari biasanya, fenomena ini, terjadi saban tahun tidak solusi yang ampuh untuk menangani problemika hari meugang, pemerintah dan rakyat Aceh, seolah pasrah dengan kasus kenaikan harga daging.

Harga daging ketika meugang berkisar sekitaran 150.000-190.000, harga yang sangat fantasis mahal dibandingkan dengan hari-hari biasanya, mahalnya harga daging tidak mempengaruhi daya beli masyarakat Aceh. Sehingga muncul istilah “ sithon tamita, sigeu tapajoh” ( setahun kita mencari nafkah, sekali kita makan).

Pada saat hari makmeugang status sosial antara orang miskin dan kaya sama aja tidak perbedaan secara signifikan, mereka semua membeli daging untuk disantap bersama keluarga.

Namun, jika dilihat dari sisi kemanusian, melambungnya harga daging menyebabkan nestapa bagi masyarakat kelas menengah kebawah, kalau mau jujur bagi masyarakat kelas menengah kebawah untuk makan sehari-hari kadang susah apalagi untuk membeli daging meugang, akan tetapi apa hendak dikata makmeugang sebentar lagi, suka tidak suka, mau tidak mau makmeugang akan tiba dan harus dirayakan secara suka cita.

Solusi cerdas menurut hemat penulis adalah untuk mengatasi mahalnya daging meugang adalah membuat semacam regulasi qanun yang mengatur tentang masalah hari makmeugang. Dana otonomi khusus Aceh (otsus) 2018 senilai Rp 8,029 triliun, kucuran dana yang begitu berlimpah, apa salahnya dianggarkan sedikit untuk membantu fakir miskin pada hari makmeugang.

Resolusi bijak lainya juga kepada para pengusaha, pelaku bisnis dan konglomerat baik yang ada di Aceh muapun di luar Aceh untuk bahu-membahu membantu fakir miskin yang ada di Aceh di hari meugang, fenomena yang penulis amati beberapa tahun belakangan ini, para hartawan di Aceh lebih suka memberi bantuan kepada bangsa lain, mereka kadang sudah lupa bahwa di Aceh ini, masih banyak anak yatim piatu, fakir miskin yang mesti layak dibantu. Hal itu sangat nyata kita lihat seperti, bantuan 1.000 ton beras ke Suriah melalui salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), saya tidak ingin menyalahkan bantuan tersebut ke Suriah akan tetapi kemana sasaran bantuan tersebut, apakah untuk rakyat sipil atau untuk pemberontak yang telah mengacaukan stabilitas negara Suriah.

Kadangkala tanpa kita sadari, bahwa kita terlalu fanatik terhadap orang lain,tetapi sudah lupa terhadap ibadah sosial, beberapa waktu lalu, hanya mendatangkan tokoh tertentu menyewa pesawat sebesar 65 juta, jumlah dana yang begitu besar, jika seandainya dana itu dihibahkan untuk fakir miskin dan anak yatim untuk membeli daging meugang.

Terakhir penulis ingin mengajak kepada seluruh masyarakat Aceh yang memiliki kelebihan ekonomi, untuk saling berbagi dengan fakir miskin, kaum dhuafa dan anak yatim, jangan terlena dengan aksi penggalangan dana untuk bangsa lain, akan tetapi di sekitaran lingkaran rumah kita, masih banyak yang membutuhkan daging meugang. Wassalam.

*)Ditulis oleh Tibrani, Mahasiswa Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala, dan juga Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FISIP Unsyiah.