Makmeugang di Pulau Jawa

Oleh Heri Maulizal, SHI

Mameugang atau meugang adalah tradisi yang ada dalam masyarakat Aceh telah ada sejak zaman dahulu, acara ini serimonialnya yaitu membeli daging, memasak daging serta membuat makanan enak-enak untuk dinikmati bersama-sama dengan keluarga terus dibagikan ke tetangga serta mensedeqahkan kepada anak yatim dan fakir miskin.

Acara meugang ini hanya dilakukan pada tiap tahunnya seperti menyambut bulan suci Ramadhan, menyambut 1 Syawal dan di Hari Raya Haji, kemeriahan meugang ini sangatlah kental pada acara penyambutan bulan suci Ramadhan pada saat-saat seperti ini berkumpul bersama ayah, ibu, adik, kakak serta keluarga lainnya bersenda gurau sambil melepas kangen selama bertahun-tahun tidak pernah bertemu karna kesibukan dan pendidikan masing-masing.

Ibu adalah orang yang berperan penting dalam meugang ini sebab ibulah yang menyiapkan makanan- makanan enak pada waktu itu, sedangkan si ayah berbanting tulang sebelum menyambut meugang mencari uang untuk persiapan di hari meugang tersebut. Rasa penat ibu dan ayah hilang jika anak- anaknya di rantau pulang kekampung untuk duduk sebahu semeja untuk mencicipi makanan, rasa kegundahan dan kangen ibu selama ini sudah terpenuhi dengan melihat anak-anaknya sudah di depan mata.

Berbeda halnya kami anak rantau yang bertahan hidup di perantauan, di hari seperti inilah rasanya ingin punya sayap bagaikan burung elang ingin terbang menyusuri kampung halaman, ingin mengusap peluh ayah dan memeluk ibu merangkul adik dan kakak, rasa kangen yang tidak terbendung berderai air mata.

Bukan kita tidak sayang ibu dan ayah hingga saat ini kita masih menancap kaki di perantauan, belum bergegas untuk pulang, akan tetapi masih banyak rutinitas yang belum terselesaikan, mulai dari jadwal kuliah masing padat, cuti pekerjaan belum ada titik terangnya, kendala keuangan juga prioritas utama. Namun kami masih bertahan di carut marutnya ibu kota, peluh panas matahari dihembus oleh debu erosi gunung merapi tetapi kami masih bertahan demi sesuap nasi, kadang makan tahu terasa daging kerbau, makan tempe terasa daging rusa, persoalannya bukan tahu tempenya tapi makan nasi saja sudah syukur Alhamdulillah.

Di Tahun 2011, tahun pertama saya menginjak kaki di perantauan Minangkabau nama daerahnya, meninggalkan keluarga tercinta menempuh hidup di Padang kota wisata untuk meraih gelar sarjana di universitas terkemuka, bukan saya tidak sayang sama keluarga bukan saya tidak peduli sama mereka juga bukan saya tidak acuh atas keadaan seperti ini akan tetapi karir dulu prioritas utama, dialektika kehidupan dirantau memang berbagai macam adanya.

Di Tahun 2015 gelar sarjana sudah di genggam nak ingin bahagia bersama keluarga tercinta di kampung yang sudah lama saya tinggalkan, rasa berterimakasih pada keluarga yang selalu mensupport hingga sudah menamatkan kuliah dengan nilai seadanya, saya ingin berkarir di kampung saja, namun tekad ini tidak membuahkan hasil dengan mengemban gelar tersebut.

Awal 2016 akhirnya memutuskan untuk memutarkan kembali arah kemudi ke perantauan di tempat yang sama, berkarir di perantau sangatlah terasa pahitnya. Bukan pahit karna tak ada uang atau hidup susah tetapi kepahitan tersebut di saat hari meugang seperti ini karena belum bisa menginjakkan kaki di kampung halaman. Saya berfikir inilah amanah dari seorang sarjana, memang tidaklah mudah tapi kita yang sudah pernah mengalami dunia pendidikan persoalan sedemikian rupa sudahlah biasa.

Awal saya berkarir di sebuah perusahaan swasta, menjadi seorang buruh tidaklah semanis pekerjaan seorang birokrasi, seorang buruh dingin hangatnya suasana kantor itulah sarapan pagi. Mengemban amanah lewat sebuah perintah itulah makan siang, mesti kita bangga seorang yang sudah pernah diyudisium sudah merasakan hasil keringat sendiri. Apakah sudah cukup dengan seperti ini? ternyata tidak, karirku putus di tengah jalan sedangkan amanah orang di kampung sudah aku embankan bahkan sudah ku iyakan. Ambil sikap di saat masih muda belum terlalu berisiko masih banyak hal yang ingin ku gapai.

Awal 2018 kupegang erat arah kemudi, nak ingin berlabuh lebih jauh meninggalkan rantau menuju ke perantauan selanjutnya sebut saja Pulau Jawa tepat di Kota Yogyakarta. Kadang pernah bertanya dalam diri sendiri apakah keputusan ini bisa membuatku lebih baik lagi atau malah terpuruk di sisi lain? Keresahan selalu menghampiri sebab diri ini hanyalah berjalan bagaikan merpati putih yang terbang di alam bebas tidak ada yang peduli, tidak ada yang mengingatkan bahkan tidak ada yang berambisi untuk keputusanku ini.

Sedewasa ini kehidupan dalam perantauan sudahlah hal biasa Tahun 2011-2018 belum pernah sekalipun merasakan meugang dan berhari raya di kampung halaman, kangen sama keluarga besarku, kangen sama nenek, kangen sama orang-orang terdekat walaupun keluargaku sudah meninggalkanku semenjak lebih kurang 15 tahun yang lalu, ketebalan mental merantau sudah dididik semenjak saya duduk bangku sekolah dasar.

Tujuh tahun lebih di perantauan, kali ini saya meugang di Tanah Jawa memang beda halnya meugang di Aceh yang kental dengan tradisi-tradisi adat. Hari meugang di Tanah Jawa itu sama dengan hari-hari biasa tidak ada yang teristimewa. Rasa ingin pulang kampung sangatlah menggebu-gebu nak ingin makan daging, menyantap lemang dengan tapai, makan kue timphan sambil ketawa-ketiwi bersama keluarga tercinta sembari menyambut bulan suci Ramadhan 1439 H. Harapan ini belum bisa terkabulkan karna pulang malu tak pulang rindu lagi pula masih banyak banyak kendala yang membuatku masih bertahan di Kota pelajar ini.

*Penulis adalah sarjana yang sedang berjuang di perantauan.