Rifqi Maulana: Mugee Buku dari Juli Pasee

Rifqi bersama dua relawan Balai Baca di alun-alun Kota Bireuen dalam program Mugee Buku. @istimewa

RIFQI MAULANA IDRIS merupakan salah satu potret anak muda yang menjadi aset bangsa Indonesia. Di tengah segala keterbatasannya, ia masih sempat memikirkan apa yang harus dilakukan untuk lingkungan sekitarnya sebagai seorang putra bangsa. 

Di saat banyak anak muda lain barangkali hanya mau memikirkan nasibnya sendiri, Rifqi justru melakukan sebaliknya. Tak terhitung tenaga dan pikiran yang sudah ia curahkan untuk lingkungannya. Ia tak bergerak sendiri, tetapi turut menghimpun teman-teman yang memiliki visi dan misi yang sama dengan dirinya.

Di luar statusnya sebagai seorang mahasiswa di salah satu sekolah tinggi di Kabupaten Bireuen, Rifqi juga seorang mugee alias penggalas. Sebuah profesi yang mungkin tak pernah terpikirkan oleh anak-anak muda seusinya. Namun, berbeda dengan penggalas pada umumnya, yang menjadi “isi keranjang” Rifqi adalah buku-buku yang sering dikiaskan sebagai jendela dunia.

Tekad yang kuat! Itulah yang menggerakkan Rifqi Maulana menjadi seorang mugee alias penggalas. Tekad itu pula yang membuatnya berhasil menghalau semua perasaan tak nyaman yang bisa menghalangi niatnya tersebut. Yang luar biasanya lagi, untuk menjadi seorang mugee buku tersebut, Rifqi sama sekali tidak punya sepeda motor. Inilah yang membuatnya berbeda dengan anak muda lainnya, meskipun ada kendala, sama sekali tidak membuatnya berhenti berbuat.

Hari itu, Senin, 23 April 2014, kami berjanji bertemu di WD Coffee di Jalan Rel Kereta Api, Kabupaten Bireuen. Rifqi Maulana sudah duluan tiba bersama temannya, Faisal, ketika saya sampai di WD Coffee sekitar pukul dua siang. Anak muda itu tampak santai dengan setelan berupa kaus oblong warna merah. Berselang detik setelah saling mengenalkan diri, kami terlibat dalam obrolan santai, tetapi serius. Saya pun tidak sabaran untuk mengetahui ceritanya tentang mugee buku.

Aktivitas Mugee Buku yang rutin dilakukan setiap Minggu di alun-alun Kota Bireuen @istimewa

Mugee Buku adalah salah satu program unggulan dari Balai Baca, sebuah komunitas yang fokus pada peningkatan minat baca di Kabupaten Bireuen yang dibentuk Rifqi pada 1 Agustus 2015 lalu. Mugee Buku ini sebenarnya adalah perpustakaan keliling yang setiap akhir pekan mengadakan baca buku gratis di alun-alun Kota Bireuen. Buku-buku yang dibawa itu berasal dari perpustakaan di markas Balai Baca di Kecamatan Juli–jaraknya hingga beberapa kilometer dari Kota Bireuen. Karena buku-buku itu dibawa dengan keranjang yang biasa digunakan para penggalas, tercetuslah ide program pustaka keliling itu menjadi Mugee Buku. Nama yang unik dan ‘bercita rasa’ lokal.

“Balai Baca memiliki tiga program atau kegiatan, pertama mengelola perpustakaan di Juli Pasee, di kilometer dua. Kemudian ada Mugee Buku, dan Ransel Baca yang awalnya cuma niat sekali jalan waktu main ke Pulo Aceh, Aceh Besar pada 2016 lalu, malah keterusan sampai sekarang,” kata Rifqi.

Kehadiran Balai Baca kata Rifqi, berawal dari kegelisahannya sebagai seorang anak muda dalam melihat berbagai sengkarut masalah di Aceh, khususnya di bidang pendidikan. Menurut pria kelahiran 24 September 1994 ini, masalah pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Semua orang perlu mengambil andil untuk menyelesaikan masalah ini. “Kita jangan hanya bisa mengutuk keadaan, tapi lakukanlah hal-hal kecil dari yang kita bisa,” katanya.

Setahun setelah mendirikan Balai Baca, Rifqi terpilih sebagai salah seorang peserta Gerakan Mari Berbagi angkatan 2016. Hal itu membuatnya makin semangat dalam menyebarkan virus positif kepada masyarakat. Sesuai dengan minatnya, ia pun memilih buku sebagai sarananya.

Rumahnya di Juli Pasee, Kecamatan Juli ia jadikan sebagai markas untuk menampung ribuan buku koleksi perpustakaan Balai Baca. Sedikitnya ada sekitar 2.200 judul buku yang bisa dibaca di pustaka Balai Baca. Tiga kali dalam seminggu Rifqi dan teman-teman relawan memberikan bimbingan khusus baca tulis hitung (calistung) kepada anak-anak usia kelas 1-3 SD dari desa sekitar.

“Pustaka ini sengaja kami hadirkan untuk menyediakan akses baca bagi masyarakat. Alhamdulillah sekarang anak-anak di Juli bisa lebih mengenal buku,” kata Rifki. “kalau untuk bimbingan khusus kami adakan pada hari Jumat sampai Minggu, dengan tutor relawan Balai Baca sendiri,” sambungnya.

Sedangkan untuk aktivitas mugee buku, ia sering mendatangi pusat-pusat keramaian seperti di alun-alun Kota Bireuen pada Minggu pagi. Untuk menarik minat anak-anak, biasanya diawali dengan aktivitas menggambar, setelah itu barulah mereka melihat buku-buku yang dipamerkan di sana. Para orang tua kata Rifqi, juga ikut berinteraksi dengan mereka.

“Sebenarnya kami juga menerima undangan ke desa-desa untuk aktivitas mugee buku ini, mereka tinggal sediakan tempat saja, tapi ya belum banyak yang tahu,” kata mahasiswa STIE Kebangsaan Bireuen Jurusan Manajemen ini.

Dalam menggerakkan komunitas bersama sejumlah teman-temannya, Rifqi bukan tidak memiliki kendala. Ia sendiri bahkan tidak punya sepeda motor untuk menjadi mugee, tapi baginya yang penting adalah solusi. Ia pun ‘memanfaatkan’ teman-temannya yang memiliki kendaraan roda dua. Meski mereka tidak terlibat langsung, dengan mau meminjamkan sepeda motornya saja sudah lebih dari cukup buat Rifqi.

Event ‘Aku Anak Desa’ yang dibuat Balai Baca pada Desember 2017 berkunjung ke dapur batu bata di di Desa Paseh, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. @istimewa

Selain kendala teknis seperti di atas, aktivitas yang ia lakukan juga pernah dicurigai sebagai aliran sesat dengan modus-modus tertentu pada 2016 lalu. Kabar itu sempat membuat Rifqi menghentikan aktivitasnya selama dua bulan, tetapi tekad yang kuat dan semangat yang tinggi membuatnya kembali menjalankan Balai Baca sesuai dengan misinya.

Graphic desginer ini mengaku punya ‘resep’ khusus yang membuatnya terus bergerak. “Ternyata aku bermanfaat untuk orang lain, itu yang buat saya bergerak.” Resep itulah yang membuatnya kerap mengabaikan rasa lelah dan bosan yang adakalanya turut menghampiri.

Sedangkan untuk program Ransel Baca, konsepnya juga sangat aplikatif. Rifqi dan tim yang memang senang jalan-jalan memanfaatkan kesempatan itu untuk menularkan virus baca. Ransel yang mereka cangklong tak hanya berisi perbekalan pribadi, tapi juga buku-buku yang nantinya akan digunakan untuk aktivitas baca di lokasi ‘ngebolang’.

Selain Pulo Aceh, mereka juga sudah membuat kegiatan ini di Tampor Paloh, pedalaman Aceh Timur dan sejumlah desa lainnya di Kabupaten Bireuen.

Kuliah di bidang ekonomi, menyukai dunia desain, tetapi tak menyurutkan semangat Rifqi untuk berkecimpung di dunia pendidikan. Kelak anak muda ini ingin punya yayasan khusus yang bergerak di bidang pendidikan. Baginya, pendidikan lebih dari sekadar mengajarkan calistung kepada anak-anak atau peserta didik, tetapi bagaimana turut mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang menjadi ruh dari bangsa Indonesia.

Menjelang sore hari itu, kami terpaksa menyudahi obrolan karena Rifqi harus kembali ke kampus. Pagi harinya ia baru saja menjalani seminar sebagai salah satu tahapan menyelesaikan pendidikannya. Di tengah jadwal kuliah yang padat dan kesibukannya menjalankan komunitas, Rifqi masih mampu mempertahankan nilai SKS-nya dengan baik. Angka 3,6 pun tertera sebagai IPK terakhirnya.[]

Editor : Risman Rachman

KOMENTAR FACEBOOK