Meugang, Tradisi Aceh Menyambut Ramadhan

ACEHTREND.CO,Banda Aceh – Suasana pasar Ulee Kareng, kota Banda Aceh terlihat ramai, Rabu (16/5/2018). Pagi itu, pusat pasar yang menjual aneka sayuran ini juga dijejali lapak pedagang sapi di setiap titik. Kemeriahan ini merupakan salah satu fenemona tahunan dalam rangka menyambut bulan suci ramadhan yang serentak dilaksanakan pada Kamis besok (17/5/2018).

Tradisi unik yang dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Aceh ini dikenal dengan istilah “meugang“. Kebiasan ini sudah berlangsung sejak masa keemasan kerajaan Aceh, Sultan Iskandar Muda paa 1607 hingga 1636. Selain menyambut bulan suci ramadhan, tradisi ini juga dilaksanakan menyambut Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Hamdan (48), warga Ulee Kareng menuturkan, meugang identik dengan simbol kebersamaan dimana warga berkumpul dan menyantai daging sapi dan kerbau bersama sanak keluarganya. Adapun istilah kata “meugang” itu berasal dari kata “makmu that gang nyan“ yang artinya “makmur sekali gang/pasar itu”.

“Jadi itu sudah menjadi adat istiadat kami yang sudah turun temurun sejak abad ke-16. Ini sudah menjadi semacam ritual sakral bagi masyarakat Aceh. Apalagi jika seorang linto baro (pengantin pria-red) yang baru menikah, ia wajib membawa daging meugang untuk dibagikan kepada mertuanya,” ujar Hamdan saat ditemui aceHTrend.

Alumni Sejarah Universitas Indonesia ini mengaku, tradisi meugang itu berawal ketika para bangsawan (uleebalang-red) di Aceh berbagi rezeki kepada rakyat miskin, kaum dhuafa dan anak yatim. Kebiasaan bangsawan ini ditandai dengan penyembelihan hewan ternak seperti sapi, kerbau ataupun kambing yang kemudian dagingnya dibagi-bagikan kepada masyarakat secara merata.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Rumoh Manuskrip Aceh, Tarmizi A. Hamid. Ketika itu, Sultan Aceh memerintahkan staf ahlinya, Qadi Mu’azzam Khazanah untuk mengumpulkan dirham, kain-kain, kerbau, sapi untuk dipotong di hari Meugang.

“Daging yang disembelih itu nantinya dibagi-bagikan kepada rakyat miskin, yatim piatu melalui keuchik (kepala desa-red). Kebijakan itu termaktub dalam Qanun Al Asyi Meukuta Alam,” ujar Ketua Rumoh Manuskrip Aceh, Tarmizi A. Hamid.

Sosok yang akrab disapa Cek Midi ini menjelaskan, tradisi itu merupakan simbol ataupun cara Sultan Aceh menolong rakyatnya agar bisa menyambut ramadhan dan Idul Fitri dengan hati senang. Selain itu, meugang itu juga merupakan kesempatan bagi para dermawan untuk bersedekah bagi para fakir miskin, kaum dhuafa ataupun yatim piatu, sehingga mereka bisa merasakan nasib yang sama.

“Meugang itu sudah menjadi warisan budaya rakyat Aceh dan sudah diwajibkan untuk menjaga kemurniannya demi kebersamaan dan kemasalahan ummat. Tradisi ini secara filosofisnya menggambarkan rasa kebersamaan tanpa membedakan status ataupun pangkat, sebab secara Islam manusia itu sama di hadapan Allah,” ujar Cek Midi.