Di TPI Lampulo Bang Leman Menyamar Belanja Ikan

TPI Lampulo masih lengang ketika Sulaiman Abda turun dan menghampiri penjual ikan. Langit menurunkan hujan rintik-rintik. Banda Aceh sejuk.

“Dak jeut ban sibeuleuen meuno ya,” kata Sulaiman Abda dalam perjalanan.

Kehadirannya untuk meninjau TPI Lampulo disamarkan dengan mencoba berbelanja ikan.

“Pu na ungkot?” tanya Bang Leman.

Penjual ikan lalu menyampaikan beberapa ikan yang ada, seperti kerapu dan udang.

“Ci neu pusing laju,” kata Bang Leman tanpa menawar harga ikan. Bahkan, untuk setumpuk ikan teri diberi uang 50 ribu rupiah.

Kehadiran wakil rakyat itu dimanfaatkan para pemakai jasa TPI Lampulo untuk mengadukan persoalan pelabuhan yang masih dangkal.

“Bang, piyoh, neu duk ile sajan kamo,” kata salah seorang penjual ikan, yang ternyata hendak menyampaikan keluhan mereka terkait dengan pelabuhan TPI Lampulo, tempat bot bersandar.

Bang Leman ternyata “gagal” menyamar, sebab semua orang mengenal dan akrab dengan wajah Wakil ketua DPRA itu.

Mulailah ragam keluhan disampaikan. Salah satunya terkait kedangkalan pelabuhan. Menurut mereka idealnya kedalaman air saat musim kering 2 sd 2/5 meter.

“Ini, tidak sampai 1 meter pun,” kata Cek Baka.

Cek Baka (53) menyampaikan kepada Sulaiman Abda bahwa sudah beberapa kali dilakukan penggerukan, namun tidak juga tuntas.

Sulaiman Abda lebih banyak menyimak, dan hanya sesekali melempar pertanyaan untuk lebih banyak mendapat informasi.

“Ka le go ka, hana tuntas,” kata Cek Baka kepada Sulaiman Abda, dan berharap pimpinan DPRA itu dapat menindaklanjutinya ke pihak dinas terkait.

Sulaiman Abda berjanji akan segera memanggil Dinas Perikanan dan Kelautan Aceh. “Kita akan segera panggil dinas untuk membahas masukan nelayan di sini,” kata Sulaiman Abda.

Mobil yang ditumpangi Sulaiman Abda meninggalkan TPI Lampulo. “Gagal menyamar, tapi troh maksud untuk tahu persoalan terkait TPI Lampulo, katanya. []