Tambo, Sijujur yang Terbuang Masa

Oleh Abdul Mugni Geurugok*)

Sebagai makhluk sosial manusia selalu membutuhkan komunikasi, komunikasi adalah penyampaian pesan kepada penerima pesan, pesan akan diterima dengan baik apabila antara penyampai dengan penerima pesan memiliki makna yang sama. Pesan bisa disampaikan secara tatap muka maupun menggunakan media.

Bagi orang Aceh menyampaikan sesuatu lebih mulia secara langsung karena efeknya bisa lebih berbekas ketimbang menggunakan media, sebagai contoh orang tua menasehati anaknya, anaknya dipanggil dan didudukkan di depan ibu dan ayah lalu diberi nasehat “neuk bek gadoh kapip rukok rheut meuk tutong ija luhok asoe jeut keu cabok” itu kalau nasehat melarang anaknya supaya jangan merokok.

Kalau sekarang yang dinasehati oleh orang tua kepada anaknya masalah sabu-sabu. “Neuk yang lampoh teubee bek kapip sabee, kah mabok Abu keuh malee,wate geuperunoe ilmee le teungku han itameng lang ulee, geyujak bak sikula kajak u kudee, kapiyoh neuk pip sabee belanja abeh kah to ngen matee.” (nasehat betapa tidak bergunanya menggunakan sabu-sabu-red)

Nasehat orang tua untuk anak bila disampaikan pada saat yang tepat (bukan di depan umum dengan memaki-maki) serta dengan bahasa yang lembut dan santun, akan berefek kepada si anak. Begitu pula bagi orang Aceh bila akan mengadakan hajatan, baik hajatan preh linto/baroe maupun hajatan sunnat rasul, seluruh handai taulan dan sanak keluarga diundang secara langsung dengan cara mendatangi door to door bahasa lawetnyo, bahasa jameun geujak rata reumoh. (pengundang mendatangi semua undangan secara langsung-red)

Walaupun rencana jak rata reumoh bubeh wate siuro jak beu abeh weut mandum reumoh tapi kenyataan ken lagee nyan, karena tip-tip reumoh yang tajak hanjet tatebit dilee menyo golom tajep kupi walau sikhan glah, maka tuan rumah dengan segera mulai memasak air untuk bikin kopi, air mendidih bagai “neraka” bagaimana mau minum sesegera mungkin agar bisa weut rata reumoh, teuntee lhee uroe payah taweet jak peugah haba preh linto atau preh dara baro, atas fenomena itu sekarang era digital maka hal-hal sepele seperti di atas tinggal wa-sms atau biar dianggap sedikit lebih sopan dengan cara menelpon.

Komunikasi via media pun sekarang banyak hoaksnya, banyak bohong, maka tidak heran di berbagai media kita baca kepala dinas, ibu rumah tangga dan profesi lainnya diamankan oleh polisi karena hate speech (ujaran kebencian) karena tidak bijak menggunakan media sosial ”gatai babah&gatai asoe” sebagaimana ditulis oleh Tuan Guru Khairil Miswar dalam opini beliau Medsos dan Mulut nan Gatal.

***
Ternyata jauh sebelum ada Handphone dan pengeras suara seperti sekarang orang Aceh sudah memiliki satu media untuk menyebarkan informasi kepada khalayak ramai (audience), media itu adalah “TAMBOE” dalam tulisan ini penulis hanya melihat fungsi tamboe tidak menguraikan sejarah masuk tamboe ke Aceh, karena masalah sejarah “tamboe” adalah masalah khilafiyah sebagaimana khilafiyah jumlah rakaat shalat tarawih.

Apa itu tamboe? Generasi kelahiran tahun 60-70-an mengenal tamboe walau tak bisa memberi definisi tamboe, memberi definisi tamboe sama sulitnya dengan pemerintah dalam memberi definisi teroris. Yang bisa cuma memberi kriteria tambo, tamboe biasa dibuat dari kulit kambing atau kulit sapi yang di ikat pada kayu nira yang sudah dibentuk secara khusus dan digantung atau diletakkan diatas penyangga dan memiliki dua gagang penabuh.

Tamboe pernah ada di semua gampong wilayah Aceh walaupun sekarang tinggal kenangan, karena sebagian desa masih tersisa walau sudah rusak dan tergantung tanpa terurus di teras-teras meunasah dan sebagian desa lagi sudah tidak ada sama sekali tamboe-tamboe itu. Yang jelas tamboe pernah eksis di Aceh era listrik belum masuk desa.

Fungsi tamboe sendiri cukup mulia yaitu menyampaikan berita kepada orang-orang dalam gampong seperti masuk waktu shalat, rapat, gotong royong sampai kepada berita duka, tamboe kabarkan. Apalagi bulan Ramadhan seperti sekarang tamboe ikut berpartisipasi, tamboe mengabari sudah waktu sahur, imsak, masuk waktu buka puasa, semua tamboe kabarkan tanpa pernah kita temukan dalam literatur tamboe pernah bohong menyampaikan informasi ke warga.

Tamboe memberikan simbol-simbol lewat bunyi, bunyi itu disepakati oleh masyarakat, sehingga tidak terjadi “miss comunication” antara tamboe dan ureung denge su tamboe. Bunyi tamboe yang disepakati oleh orang Aceh adalah tambo sige meusapat, dua gee rapat, lhee gee jak u jrat.

Untuk mengeluarkan bunyi tamboe yang elok perlu ditabuh, tidak asal tabuh butuh seni dalam menabuh beduk, sebagai contoh bulan puasa pada saat masuk waktu berbuka tamboe akan ditabuh dengan suara tum…tum…tum. tam tum tam tum tam tum tam tum. Dikejauhan di rumah rumah warga jika kita simak bunyi tamboe seakan akan tamboe sedang berpesan
( padum…padum…padum. nyan dum so tudum nyan dum so tudum nyan dum so tudum) itu pesan tamboe bagi orang yang berpuasa pahala tak terhingga karena puasa itu bagi Allah dan Allah pula yang memberi pahala, berapa pahala puasa itu rahasia Allah,yang penting kita ikhlas dan ridha dalam menjalaninya, pasti Allah akan membalas sesuai keikhlasan kita.

Tamboe saja tidak tahu dengan mengatakan nyan dum so tudum. Mari kita belajar dari tamboe selalu menyampaikan informasi yang benar dan tidak pernah menyebar ujaran kebencian, mari juga kita terima nasehat dari tamboe walau tamboe sudah “meninggal” yang “dibunuh” oleh pengeras suara.

*)Mahasiswa UIN Yogyakarta.