Disdikbud Aceh Besar Gelar FGD tentang Sekolah Fullday

Disdikbud Aceh Besar Gelar FGD tentang Sekolah Fullday

ACEHTREND.CO, Jantho – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Besar melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) program sekolah fullday yang melibatkan para pengawas dan kepala sekolah, Senin (21/05/2018) di Aula BP PAUD Dikmas Aceh, Lubok Aceh Besar.

Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Aceh Besar, Fata muhammad, S. Pd, MM dalam arahannya menyebutkan setelah selesai FGD hari ini diharapkan sudah ada standar operasional pelaksanaan (SOP) yang akan kita mulai pada tahun ajaran baru.

“Pada tahap awal dilaksanakan hanya untuk beberapa sekolah. Untuk jenjang SD berjumlah 23 sekolah, sedangkan untuk jenjang SMP berjumlah sepuluh sekolah sebagai pilot projek. Harapan untuk kedepan semua sekolah bisa melaksanakan,” ujar Fata.

“Dalam pelaksanaanya kita harapkan dukungan dari semua stake holder, komite sekolah. Disamping guru-guru yang ada di sekolah, juga kita libatkan guru-guru dari luar,”lanjutnya.

Dalam acara tersebut diisi oleh dua narasumber, Fadhil Zakaria, S. P. M. Pd ( Kepala SDIK Nurul Quran) dan Prof. Mustanir Yahya, M. Sc. (Ketua MPD Aceh Besar).

Fadhil Zakaria menyebutkan pelaksanaan sekolah fullday merupakan kebutuhan budaya anak zaman now, dimana anak sekarang lebih dominan bermain dalam ruangan (indoor) daripada di luar ruangan (outdoor).

“Hal tersebut dipengaruhi oleh perangkat teknologi informasi, seperti handphone, gadget dan lain-lain,” pungkasnya.

Sementara Mustanir menegaskan prinsip-prinsip sekolah fullday antara lain, pertama, guru wajib memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional.

“Kedua, pendidikan berdasarkan potensi peserta didik dan ketiga, metode pendidikan: qudwah, ‘aadah, mau’izah, muraqabah dan uqubah. Keempat, lingkungan faktor penting dalam pendidikan dan kelima, pendidikan sebagai suatu sistem, “urainya.

“Program pembinaan karakter sudah berjalan di sekolah-sekolah, kita buat dalam sistem supaya bisa dievaluasi, ini sejalan dengan daerah Aceh yang menjalankan syariat Islam,”jelasnya.

Hal tersebut dikuatkan juga oleh DR. Silahuddin, menyebutkan kami sudah melakukan studi banding ke sekolah yang berprestasi di tingkat nasional.

“Ada tiga kesimpulan yang kami dapat, pertama, untuk menjalankan sekolah fullday tidak membutuhkan dana besar, kedua, berjalan tidaknya fullday sangat tergantung kepala sekolahnya dan yang ketiga, siswa-siswa merasa tidak senang kalau libur sekolah, bahkan ada yang menangis,” pungkas Silahuddin. []