Pengalaman Warga Aceh Berpuasa 18 Jam di Kanada

Usman Hamzah bersama keluarga di Vancouver, Kanada (Foto: Istimewa)

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Menjalani ibadah puasa di negara-negara yang mayoritas non-muslim pastinya akan lebih terasa sulit dan menantang. Apalagi, tahun ini umat Musim di berbagai belahan Eropa dan Amerika yang memasuki pergantian musim panas yang panjang.

Cobaan ini turut dirasakan Usman Hamzah, warga Aceh di Vancouver, Kanada. Pasalnya, umat muslim disana harus berpuasa selama 18 jam lebih.

Tentunya, ini merupakan tantangan dalam menunaikan ibadah puasa pertama kali baginya di negara berjuluk Negara pecahan es tersebut.

“Ramadhan kali ini agak sedikit ringan, karena belum total masuk puncak summer (musim panas). Beda tahun lalu jika malam tiba suasanya tidak terlihat pekat, tapi masih temaram sehingga jarak waktu malam sangat singkat sekali,” ujar Usman Hamzah kepada aceHtrend via Whatsapp, Senin (21/5/2018).

Pria asal Garot, Pidie yang kini sudah menetap di kota Vancouver ini mengaku, meski berpuasa dengan durasi yang lumayan panjang tidak menyurutkan langkah umat Muslim untuk menunaikan salah satu rukun Islam tersebut.

“Di sini jadwal imsak pukul 03:00 pagi dan magrib pukul 21:00. Walaupun jarak waktunya lama, suasananya juga tidak berbeda jauh dengan Aceh. kalau di Aceh meski waktunya singkat tapi suhu panasnya sangat terik sekali. Kalau disini suhunya nggak seterik kayak di Aceh, matahari disini agak hangat,” ujar Hamzah yang mengaku sudah menetap di Kanada sejak 2005 silam.

Hal senada juga diungkapkan istrinya, Curahati Amir. Menurutnya, waktu malam hanya berselang sekitar lebih kurang enam jam tersebut harus benar-benar dimanfaatkan dengan baik. Menurutnya, 20 menit usai berbuka puasa, ia beserta keluarganya langsung bergegas menuju masjid yang berjarak sekitar 3 km dari rumahnya.

Lebih lanjut, Curahati menjelaskan, suasana tarawih di sini tidak jauh berbeda dengan di Aceh. Bedanya jika disana, isi tausiahnya relatif singkat. Hal ini disebabkan waktunya yang relatif sedikit dimana jarak waktu tarawih dan sahur dalam waktu berdekatan.

“Nan masjid jih Darussalam Mushalla. Masjid nyan ata geutanyoe ureueng Aceh, teungku imuem ureueng geutanyoe cit. Disinoe ureueng Aceh na sekitar 50 kepala keluarga (nama masjidnya Darussalam Mushalla. Masjid itu milik semua orang Aceh, imamnya juga orang kita. Disini warga Aceh ada sekitar 50 kepala keluarga),” ujar Curahati Amir.[]