Di Wuhan China, Berpuasa Ramadhan Hingga 16 Jam Setiap Hari

Siti Aminah, mahasiswa Central China Normal University, Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Foto: ist.

Jauh dari tanah air serta berada di negara yang minoritas muslim, tidak menjadi kendala bagi Siti Aminah, mahasiswa pascasarjana Central China Normal University, Wuhan, Propinsi Hubei, untuk menjalankan ibadah puasa.

“Tidak ada halangan dan tidak ada larangan dari Pemerintah China dan otoritas tempatan. Muslim diperbolehkan berpuasa,” ujar Siti Aminah melalui pesan whatshap kepada aceHtrend, Senin (21/5/2018).

Menurut Siti Aminah, layaknya seperti di Indonesia, tidak ada kendala apapun di sana untuk menjalankannya. Hanya saja, ia mengakui bahwa ujian yang harus ditempuh kala sedang menjalankan ibadah tersebut, tentu lebih banyak.

Ujian yang dimaksudkan Siti yaitu aktivitas masyarakat setempat khususnya di wilayah Wuhan, berjalan seperti biasa. Tidak ada perbedaan antara Ramadhan dan bulan biasa. warga tetap menjalankan aktivitas ekonomi termasuk kuliner di siang hari. “Mereka tetap menjual makanan siang hari, kan di sana minoritas muslim, itu negeri orang, pasti aktivitas normalnya tetap berjalan,” ujar Siti.

Tantangan lainnya adalah persoalan rindu kebersamaan dengan keluarga. Di Aceh penulis novel Membangun Menara di Lautan Asia, bisa berbuka puasa bersama keluarga. Di China, ia harus berbuka dengan teman-temannya yang seaqidah. Walau rasa bahagia tetap ada, tapi rasa tentu berbeda.

Siti menambahkan lama waktu berpuasa di Wuhan mencapai 16 jam, bisa saja sewaktu-waktu akan berubah tergantung suasana cuaca. Sementara waktu imsaq dimulai pada pukul 3.37 pagi dan berbuka pada jam 7.15 sore waktu setempat.

Meski aktivitas menjalankan ibadah puasa tergolong lancar, tambah Siti, namun sulit mendapatkan suasana Ramadhan seperti di tanah air.

Kalau mau melaksanakan shalat tarawih ia harus berjalan cukup jauh. Untuk tetap bisa menjalankan ibadah shalat malam tersebut, Siti memilih berjamaah dengan teman-temannya yang muslim. Atau sendiri-sendiri di kediaman masing-masing.

Menemukan makanan halal juga ujian tersendiri bagi Siti dan teman muslim lainnya. Sebagai negeri yang mayoritas dihuni oleh non muslim, Wuhan tidak menyediakan tempat penjualan makanan halal yang memadai.

Siti mengakui, selama menjalankan ibadah puasa di sana, ia harus lebih konsisten menghadapi berbagai perbedaan, baik kultural maupun keyakinan beragama. Sebagai minoritas ia tetap ingin menjalankan keyakinan agamanya, walau sedang di negeri asing.

“Menjaga pandangan, sedikitnya tempat penjualan makanan halal, cuaca yang tidak sama serta durasi waktu berpuasa 16 jam adalah bagian dari ujian. Saya tetap semangat menjalankan ibadah puasa, Insya Allah akan mudah apalagi bila sudah terbiasa,” imbuh Siti.