Di Denmark, Umat Muslim Harus Berpuasa 20 jam Setiap Hari

Abdi Gade (baju biru lengan panjang) Foto: Ist.

ACEHTREND.CO, Denmark- Umat Muslim di beberapa negara Eropa menjalani cobaan berat dalam melaksanakan ibadah puasa. Terlebih lagi, umat muslim yang berdomisili di negara Eropa bagian utara tahun ini harus berpuasa hingga 20 jam dalam sehari.

Hal ini disebabkan musim panas dimana matahari akan terlihat lebih lama di siang hari. Sebaliknya, malam hari terasa sangat singkat sekali.

Pengalaman inilah yang dirasakan Abid Gade, warga Aceh yang kini menetap di Denmark. Di negara Skandinavia ini, umat muslim harus berpuasa selama 20 jam atau jam lebih lama dibandingkan durasi puasa di Aceh yang hanya 14 jam dalam sehari.

“Thon nyoe agak trep bacut puasa jih, seubab musem su’um thon nyoe panyang bacut. (Tahun ini agak lama sedikit puasanya sebab musim panas tahun ini panjang sekali),” ujar Abid Gade kepada aceHTrend via layanan Whatsapp, Kamis (24/5/2018).

Pemuda asal Tangse, Kabupaten Pidie yang kini menetap di kota Hjorring, Denmark ini mengatakan, jarak waktu imsak dan berbuka puasa hanya selisih waktu sekitar 3,5 jam. Artinya, warga Muslim setempat harus berbuka puasa, salat tarawih dan sahur dalam waktu berdekatan.

“Imsak di sini dimulai pukul pukul 03:00 dan waktu iftar (buka puasa) pukul 23:00. Kalaupun malam tidak malam kayak di Aceh, langit masih terlihat seperti senja magrib hingga Subuh. Jadi usai salat Magrib, kami harus bergegas ke masjid untuk melaksanakan tarawih dan witir agar jadwal sahur jangan tertinggal,” ujar Abid Gade.

Abid mengaku, meski waktu berpuasa bagi warga Muslim di sana cukup lama tidak menyurutkan langkah mereka untuk tetap menjalankan salah satu rukun Islam tersebut.

“Bahpih sinoe kamoe katrep tinggai dan kana generasi baro bansa Aceh sinoe, kamoe teutap hana tuwoe ilmee agama ngon adat istiadat Aceh. Bahkan aneuk-aneuk kamoe sinoe mantong meupeureunoe bahasa Aceh. Meunyoe bahasa Inggreh ngon Dansk (bahas Norwegia-red) awaknyan dipeugah di sikula ngon di luwa rumoh (biarpun di sini kami sudah lama tinggal disini dan sudah ada generasi baru bangsa Aceh, kami tetap tidak melupakan ilmu agama dan adat istiadat Aceh. Bahkan anak-anak kami di sini masih kami ajarkan bahasa Aceh. Sedangkan bahasa Inggris dan Dansk mereka gunakan di sekolah dan di luar rumah),” ujarnya lagi.

Abid Gade merupakan salah satu dari ratusan warga Aceh yang kini sudah menetap di Denmark sejak 2003 lalu. Sebelumnya, pria berusia 34 tahun ini berstatus sebagai pencari suaka sejak Aceh dilanda gejolak konflik. Ia mengaku, meski tinggal jauh dari tanah air dan sanak familinya, tidak menyurutkan hatinya untuk melupakan tradisi Aceh. Salah satunya adalah perayaan “meugang” dan “tot leumang”.

Menurutnya, daging halal dan makan-makanan khas Asia bisa mudah mereka dapatnya di toko-toko muslim yang termasuk kategori mahal dan antri.

“Biarpun kami di sini susah mencari bambu untuk membuat leumang, kami biasanya gunakan pipa alumunium untuk memasak leumang. Bahpih hana meunyum lagee leumang di gampong, asai kasep syarat dilee bacut,” ujarnya.