Sarjana Harus Mandiri Dengan Berdikari

Heri Maulizal, SHI

Oleh Heri Maulizal, SHI*)

Dewasa ini menjadi seorang sarjana sudah hal biasa, setiap tahun Perguruan Tinggi melahirkan ribuan sarjana muda. Ini menandakan bahwa generasi penerus bangsa sudah berpendidikan di atas sembilan tahun sesuai yang dicanangkan dalam pembukaan Undang-Undang 1945 alenia ke empat berbunyi:mencerdaskan kehidupan bangsa, penggalan kata tersebut sebahagian besar sudah di rasakan oleh masyarakat Indonesia.

Pendidikan yang sebenarnya bukanlah harus menamatkan S1, S2 atau menyandang gelar Doktor dalam negeri maupun luar negeri. Pendidikan wajib belajar adalah sembilan tahun, kewajiban ini sudah dicantumkan dalam pasal 31 UUD 1945 lebih tegas lagi menyatakan: pertama, setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Kedua, setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.

Saya tidak membahas lebih lanjut tentang UUD 1945 ini, keberagaman pemikiran masyarakat terus berkembang sesuai dengan perkembangan dunia pendidikan, tidak mau berhenti di titik wajib belajar sembilan tahun atau hanya menamatkan sekolah menengah pertama(SMP). Tetapi masyarakat sudah memiliki antusias menempuh pendidikan ke jenjang tinggi, sebut saja sekolah menengah atas (SMA), zaman sekarang rata-rata anak sudah menamatkan SMA karena dari segi akses sekolah sudah ada di setiap daerah.

Terlepas dari uraian di atas ada hal yang sangat urgent yang mesti kita fikirkan, mulai dari keterbatasan kuota lapangan pekerjaan maupun kesulitan mendapatkan pekerjaan bagi para sarjana muda, keterbatasan dan kesulitan tersebut tidak ada pihak yang disalahkan karna setelah menyandang gelar sarjana menimbulkan kebingungan pada diri sendiri, mulai terfikirkan kemana ijazah akanku bawa, kemana akan dititipkan ijazah ini di tengah-tengah persaingan ketat. Kegalauan ini mulai dirasakan sebulan setelah diyudisium, ada yang baru wisuda sudah mendapatkan pekerjaan bahkan sudah bertahun-tahun lontang-lanting menenteng ijazah namun kesuksesan belum kunjung tiba.

Sarjana muda yang sudah pernah bergelut di dunia pekerjaan terkadang tidak berimbang antara tuntutan dengan pemasukan, seringkali mengambil jalan lain untuk memenuhi kebutuhannya, seperti membuka usaha sendiri, olshop, endore bahkan jualan kecil-kecilan, memang pekerjaan ini tidak menghasilkan pemasukan tetap tapi sangat menjanjikan bila ditekuni.

Terjun ke dunia bisnis tidak harus seorang sarjana, karna menjadi seorang entrepreneur hanya dibutuhkan kesiapan mental, tahan banting dan punya strategi yang matang. Banyak kalangan sarjana muda memutuskan untuk membuka bisnis kecil-kecilan, yang dulunya jualan di trotoar, kaki lima atau lesehan sekarang sudah punya toko sendiri, dulunya jualan keliling sekarang sudah punya karyawan, mereka-mereka ini secara mental sudah terlatih dan sudah merasakan pahit manisnya di dunia bisnis.

Tahun 2011, tahun pertama saya menginjak kaki di kota dagang Minangkabau, awalnya saya tidak tertarik di dunia bisnis tetapi setelah wisuda di tahun 2015 saya diterima di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang perdagangan. Dari situ awal mulai mempelajari dunia bisnis walaupun saya menamatkan hukum syariah. Di kota yang tidak ada Indomaret dan Alfamart ini banyak lahir pengusaha-pengusaha muda dari berbagai macam latar bekang pendidikannya, kota yang kental pepatah “alam takambang jadi guru” memotivasi saya untuk menggeluti dunia bisnis.

Pada tahun 2017 memutuskan pulang ke tanah kelahiran membawa pulang ilmu untuk di aplikasikan lewat jalur bisnis tersebut, awal tahun tersebut memberanikan diri membuka usaha Kopi cap Pinto Atjeh nama brandnya, sudah tercatat di Dinkes-RI. PIRT Abdya, usaha kecil-kecilan ini sudah mengirimkan pesanan ke seluruh Indonesia pada pertengahan tahun, tapi terkendala dana dan support perkembangannya merosot di akhir tahun 2017, saya tetap berusaha mengembangkan kembali usaha ini walaupun saya telah mengambil jalan lain untuk ikut tes di salah satu pascasarjana Yogyakarta.

Pengalaman seorang sarjana mengajarkan saya banyak hal, tidak berharap jadi pegawai negeri sipil yang diidamkan oleh keluarga besarku. Pertanyaannya apakah biaya selama saya kuliah sudah terbayarkan atau belum? dan sekarangpun telah mendaftarkan diri ke jenjang pascasarjana, jawabannya tentu belum, jika pemikiran kuliah hanya untuk mendapatkan pekerjaan layak, itu salah besar. Tetapi jangan dijadikan patokan biaya yang sudah dihabiskan selama dalam pendidikan ini harus dikembalikan lewat pekerjaan, pemikiran seperti ini tidak akan pernah terkalkulasikan dan berimbas terhadap karir kita sendiri, karna gelar sarjana tidak menentukan pekerjaan, tetapi jadilah sarjana yang progresif memiliki skill dan pengetahuan sosial yang tinggi.

Terakhir yang ingin saya katakan: Jika dalam pendidikan tanpa membangun hubungan sosial, maka penganguran menanti kita, orang pintar dan punya skill kalah dengan orang punya link. hehe.

Salam para pejuang!

*)Anggota Gerakan Surah Buku (GSB) Yogyakarta.