Pak Leman, Apa Kabar!

Sulaiman Abda dan dua temannya Nasruddin dan Yusuf, ketika bertemu di Keude Teupin Mara, Sabtu (26/5/2018). Foto: Muhajir Juli/aceHTrend.

Seusai shalat Ashar di Meusjid Luengputu, Pidie Jaya, mobil berbelok menuju Keude Teupin Raya. Ketika mobil parkir di depan sebuah toko penjahit baju, dua lelaki berusia senja sembari tersenyum segera menyapa “Pak Leman, puhaba?.” Tidak membutuhkan jeda waktu, mereka bertiga langsung akrab.

MOBIL Innova berplat merah yang disopiri oleh Nuzul, seorang lelaki paruh baya asal Singkil melaju lumayan kencang sejak mengaspal dari Banda Aceh pada pukul 11.00 WIB. Jalan aspal yang membentang membelah Banda Aceh, Aceh Besar dan Pidie, dilahap dengan santai oleh sopir berpengalaman itu.

Wakil Ketua DPRA Drs. Sulaiman Abda, M.Si., Sabtu (26/5/2018) pulang kampung ke Pidie Raya (Pidie dan Pidie Jaya-red). Selain hendak menghadiri buka puasa bersama dan temu ramah dengan warga Mukim Peudaya, Kecamatan Padang Tiji, Pidie, ia juga memonitoring sejumlah masjid yang pernah mendapatkan alokasi dana aspirasi.

Pukul 01.30 WIB, kami pun tiba di Padang Tiji dan singgah untuk menunaikan shalat Dhuhur. Suasana di masjid yang berbentuk lingkaran bulat itu, sangat ramai. Beberapa menit sebelumnya shalat berjamaah baru saja selesai. Banyak lelaki yang terlihat tertidur pulas di lantas mesjid, sebagian lain memilih membaca Quran. Sedangkan yang terlambat, termasuk kami, segera menunaikan shalat secara sendiri- sendiri.

Begitu melihat Sulaiman Abda selesai shalat, dua orang lelaki berpeci dan berkain sarung segera mendekat dan menyalami. “Pak Sulaiman, masya Allah, kapan sampai, Pak?.” Tegur mereka ramah.

“Baru saja,” timpal Sulaiman Abda sembari menyalami mereka. Tidak lama kemudian mereka terlibat diskusi ringan di sudut masjid. Lamat-lamat terdengar mereka mengabarkan penggunaan dana aspirasi yang pernah dialokasikan untuk pembangunan masjid itu, sembari menunjuk beberapa fasilitas rumah ibadah tersebut.

Sulaiman manggut-manggut dan melihat ke arah yang ditunjuk oleh panitia masjid.

Sekitar 15 menit berbincang, politikus Partai Golkar itu pun pamit. Mobil kembali melaju di jalan hitam yang menghubungkan berbagai propinsi di Pulau Sumatera. Mobil berwarna hitam itu kemudian berbelok ke arah Gampong Glumpang Payong.

Sulaiman Abda, Mustika Hayati (tengah) dan Nurhayati, kala sedang membahas harga melinjo dan teknik pengolahannya menjadi emping. Foto: Muhajir Juli.

Setelah melewati beberapa perkampungan yang asri, kami pun tiba di Geulumpang Payong, sebuah kampung yang asri dan penuh dengan pohon melinjo yang sedang berbuah. Mungkin sedang puncak panen. Terlihat di ketinggian, bulir melinjo yang memerah, seperti merahnya rambutan jelang dipetik.

Geulumpang Payong adalah salah satu gampong yang berusia tua di Pidie. Warganya sebagian besar berada di luar daerah, mayoritas di Banda Aceh dan bekerja sebagai abdi negara. Hanya kerabat mereka yang tersisa di dalam rumah yang berdiri dengan gaya lama di sela-sela batang melinjo yang berdaun lebat. Beberapa rumah bahkan tidak lagi terurus. “Tidak ada lagi yang tinggal di situ, semuanya sudah pindah ke Banda Aceh,” jelas Sulaiman Abda.

Di bawah perdu bambu yang rindang, mantan Ketua KNPI Aceh itu berdoa di depan pusara ibunya. Di sana ia hanya sejenak, untuk nyekar dan menjenguk adiknya yang bernama Nurhayati. Ketika kami tiba, Nurhayati sedang memetik melinjo bersama suaminya. Kedatangan kami disambut dengan sangat ramah, apalagi kepada istri Sulaiman Abda yang bernama Mustika Hayati, Nurhayati terlihat memperlakukan kakak iparnya itu dengan sangat hormat.

Mustika pun tidak kurang ramahnya, ia segera mencium pipi adik iparnya itu sembari memeluk sejenak. Ia sempat bertanya tentang harga melinjo yang kemudian dijelaskan dengan sangat telaten oleh Nuryahati.

Tidak lama kemudian kami kembali “angkat sauh” menuju Luengputu. Kami singgah di rumah salah seorang teman Sulaiman di Luengputu. Dari seorang teman, Sulaiman mengetahui bahwa teman mereka itu mendapat musibah seusai mengantar putranya ke sebuah tempat.

Sekembalinya dari sana, kami singgah di Mesjid Luengputu. Shalat Ashar akan berahir ketika kami tiba di tempat wudhuk. Begitu tapak kami menginjak keramik masjid, shalat jamaah Ashar usai.

Di sini Sulaiman menghabiskan waktu sekitar satu jam, berbincang bersama panitia pembangunan masjid, sembari duduk santai di teras. Banyak hal yang dibincangkan, termasuk rencana ke depan pembangunan masjid.

Saya sendiri, karena dilanda kebosanan, segera menghidupkan paket internet di smartphone dan memutar musik pop lawas Indonesia. Hmm, cukup berguna untuk membunuh kejenuhan yang merayap dengan kondisi perut keroncong. Saya sempat “mengutuki” diri yang terlambat sahur karena keasyikan tidur setelah lelah mengedit naskah buku.

Saya sempat berlomba dengan waktu menghabiskan nasi bungkus yang dengan susah payah dibelikan oleh wartawan saya menjelang deadline sahur. Ketika kumandang azan subuh bergema, saya cepat-cepat minum air dan nasi masih tersisa setengah bungkus.

Ketika sedang asyik sendiri, seorang pemuda berkaos hitam dan bermata merah—mungkin kurang tidur—tiba dan segera menyapa Sulaiman Abda yang sedang berjalan menuju mobil. Seperti biasa, lelaki itu beramah tamah sejenak dan kemudian meminta jajan untuk berbuka puasa.

Sulaiman Abda kala hendak pulang dari Mesjid Luengputu. Foto: Muhajir Juli.

Ketika hendak pulang, seorang panitia memberikan buah tangan berupa kue ade khas Pidie Jaya. “Ini ade yang asli, bukan kue bingkang,” kata lelaki tua itu sembari menyalami ramah Sulaiman Abda.

***
Pulang dari sana kami singgah di Gampong Teupin Raya yang bersebelahan dengan Luengputu. Kami hendak menjenguk keponakan Sulaiman yang bernama Rosmanidar. Begitu mobil parkir di depan toko penjahit pakaian, dua orang lelaki yang sedang duduk di depan sebuah mini market segera menyapa.

“Pak Leman, puhaba? Katrep that hana lon kalon droneuh, (Pak Leman, pakabar, sudah lama kami tidak melihat Bapak-red)” sapa salah seorang di antara mereka, yang ditingkahi tertawa dari teman satunya.

“Alahai, pu jak tawok lon meunan. Lon Leman, hana pantas urueng droneuh jak heu nan lon pakek Pak, (alahai, tidak pantas kalian memanggil saya Pak Leman, saya Leman-red)” kata Sulaiman Abda yang dijawab dengan tawa.

Setelah menyalami mereka, Sulaiman mohon izin sejenak karena hendak bertemu keponakannya yang bernama Rosmadinar.

Begitu melihat Sulaiman muncul di depan pintu, Rosmanidar segera menyongsong dan memeluk. Ia sangat rindu kepada Pakciknya itu. Sulaiman terlihat terharu, alumnus jurusan Biologi Unsyiah itu punya kenangan khusus untuk keponakannya itu.

Sulaiman Abda dan keponakannya Rosmanidar. Foto: Muhajir Juli.

“Muhajir, ini keponakan saya yang punya tempat khusus di hati. Ada cerita yang tidak pernah bisa saya lupakan,” katanya sembari memeluk perempuan yang tak kunjung melepaskan pinggang Sulaiman.

Ya, Rosmadinar adalah keponakan yang walaupun masih kecil kala itu, tapi memiliki sensifitas yang luar biasa.

Kala itu ketika sedang kuliah di Unsyiah, Sulaiman sempat kehabisan uang, ia mengadu kepada kakaknya, yang dijawab dengan gelengan kepala karena juga sedang tidak punya uang. Mendengar itu, Rosmanidar kecil segera menjawab “Pakcik pakai saja uang saya, saya ada simpanan uang hasil menjual biji melinjo. Sulaiman sempat menolak, tapi Rosmanidar dan ibunya Rosmanidar mendesak.

“Uang itu yang kemudian menyelamatkan studi saya,” kata Sulaiman.

Ketika hendak pamit, Romanidar membekali kami dua kantong plastik kanji rumbi.

***
“Itu warung kopi tempat saya dan teman-teman menginap dulu. Kalau malam kami tidur di sana setelah pulang dari dayah. Paginya kami bersekolah bersama-sama,” kata Sulaiman Abda sembari menunjuk sebuah warung kopi yang berada di dekat jembatan lama. Jembatan itu sudah tidak ada lagi, di bekas tapaknya sudah berdiri bangunan.

Dua temannya yang bernama Nasruddin dan Yusuf, tertawa mendengar keterangan Sulaiman Abda. Mereka punya kenangan khusus tentang warkop dan Keude Teupin Raya.

Dulu, ketika SMA, Sulaiman Abda dan teman-temannya seringkali mengusili para pelajar dari Luengputu. Ketika mereka melintas di jembatan, ada saja aksi Leman dan teman-teman untuk mengganggu mereka. Tidak jarang keusilan itu berujung perkelahian. Dengan tubuh tinggi besar, Sulaiman jarang sekali terjun sebagai “petarung”, ia sering menjadi “bos” yang bertugas selain sebagai juru tunjuk, juga sebagai perisai. “Mereka takut bila berhadapan dengan saya,” kata Sulaiman terkekeh.

Lumayan lama mereka bercengkerama, kemudian Sulaiman pamit karena harus memenuhi undangan buka puasa bersama dan ramah tamah dengan tokoh Gampong Peudaya. Kegiatan itu digelar di rumah Drs. Fakhruddin Amin, mantan anggota DPRD II Pidie.

Seusai buka puasa dan shalat magrib, puluhan tokoh dan warga telah duduk di teras masjid sembari menunggu Sulaiman Abda selesai shalat sunnat.

“Sebenarnya kami sudah menyiapkan waktu khusus untuk Bapak untuk berceramah. Akan tetapi karena Bapak juga harus segera kembali ke Banda Aceh, ya terpaksa harus kami jadwalkan ulang. Yang pasti Bapak harus punya kesempatan bertatap muka dengan warga di sini di masjid ini,” ujar Imam masjid Mukim Peudaya.

Sulaiman Abda dan sejumlah tokoh masyarakat Mukim Peudaya, Padang Tiji. Foto: Muhajir Juli.

“Semoga ke depan, Bapak semakin banyak membantu pengembangan masjid Peudaya,” celetuk yang lain.

Ketika Sulaiman pamit, warga mengiring sampai gerbang masjid. Beberapa tokoh bahkan mengantar hingga ke teras rumah Fakruddin Amin. Kemudian kami pun kembali ke Banda Aceh.

Di perjalanan pulang kami sempat membincangkan tentang sayur batang pisang yang dicampur daging ayam. Rasanya sungguh membuat rindu. []

KOMENTAR FACEBOOK