Shalat Tarawih 100 Rakaat & Keunikan Ramadhan di Yaman

ACEHTREND.CO, Yaman-Bulan Ramadan di Provinsi Hadramaut, Negara Yaman, pada tahun ini jatuh saat musim panas, sehingga memberi tantangan yang sangat berat bagi pendatang yang baru kali pertama berpuasa di daerah ini, saat berbuka juga memiliki perbedaan dari Aceh, dengan menu berbuka khas Yaman.

“Bagi orang-orang yang belum terbiasa dengan keadaan ini, khususnya para santri atau pelajar yang datang dari belahan Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, berpuasa menjadi semakin menantang, sebab selain menahan haus dan lapar, juga menahan diri dari sengatan hawa panas,”kata Athaillah yang sedang berada di Yaman dalam rangka menuntut ilmu Islam di Dayah Ribat Al Noor, asuhan Habib Ahmad bin Husein Aidid, saat ditanyai aceHTrend, melalui pesan Whats App pada Kamis, (31/5/2018).

Menurutnya, melaksanakan ibadah puasa di Hadramaut, banyak sisi menariknya, seperti ada pemisahan antara iftar (buka puasa) dan asya'(makan malam), kebiasaan berbuka puasa di Hadramaut memiliki perbedaan dengan kebanyakan masyarakat Aceh.

“Ketika adzan maghrib berkumandang, mereka tidak langsung menyantap nasi, tapi hanya dengan makan beberapa maqliaat (gorengan) khas negeri Yaman, seperti sambossa, batotis, bakhomriy, dan aneka gorengan lainnya yang dibarengi dengan Syayi Halib (teh susu), syayi ahmar (teh manis),atau gahwah zanjabil (kopi Arab yang dicampur jahe) minuman yang konon mulai banyak dikonsumsi sejak abad 8 Hijriah, menu seperti ini tak pernah absen pada acara-acara kumpulan semacam maulid nabi, hadrah, majlis ta’lim dan acara ritual agama lainnya,”katanya.

Ia tambahkan, setelah shalat ba’da maghrib langsung shalat tasbih empat raka’at baru kemudian menyantap nasi dengan mengkonsumsi asheer atau jus buah-buahan, sirup atau es teh.

Athaillah melanjutkan, suasana lainnya di Yaman pada bulan Ramadan adalah dalam pelaksanaan shalat tarawihnya. Di beberapa kota di Hadramaut shalat tarawih tidak hanya digelar satu kali dalam satu malam, tapi ada beberapa kali. “Kota Tarim misalnya, kota yang terkenal dengan sholat taraweh 100 rakaat. Di kota ini, jama’ah tarawih di masjid-masjid hampir tiap waktu ada. Kita tinggal memilih, hendak shalat tarawih jam berapa, insya Allah ada masjid yang menggelar shalat tarawih. Misalnya saja di Masjid As-Sakran, tarawih dilaksanakan pada pukul 21.00 waktu setempat,”jelas Athaillah yang mengaku sedang belajar ilmu Tauhid, Fiqih, Nahu, Hadist, Tafsir Hadis dan Tafsir Al-quran, di Yaman.

Sekitar seratus meter dari masjid As Sakran, tambahnya, terdapat Masjid Ba’alawi, dibangun oleh Imam Ali bin Alawi Khali’ Qasam (529 H). Masjid yang mempunyai kembaran di Singapura ini, menyelenggarakan tarawih pada pukul 23.00. Di Masjid Al-Muhdar pada pukul satu tengah malam. Dan menjelang sahur atau sekitar pukul 02.30, para jamaah biasanya mengikuti shalat tarawih di Masjid Jami’, masjid terbesar di Tarim.

“Demikian juga dengan ratusan masjid lain yang mempunyai jam khusus, namun selalu dipenuhi para jamaah. Sedangkan untuk shalat Witir, salah satu masjid yang letaknya berada di dalam Rubath Tarim, melakukannya dengan 11 rakaat,”sebutnya.

Sedangkan di beberapa kota lainnya yang ada di Yaman, beberapa masjid menggelar jama’ah tarawih dua kali, pertama ketika awal Isya yaitu sekitar jam 8.30, dan yang kedua adalah ketika lepas tengah malam, sekitar jam 2.00.

“Pada akhir Ramadhan seperti di Haami, diadakan khataman Al-qur’an di setiap masjid tiap malamnya hingga malam terakhir Ramadhan. Menariknya lagi wanita di Hadramaut kebanyakan shalat taraweh di rumah, sedangkan waktu puasa di Yaman sekitar 14 jam kurang lebih,”tutupnya.

KOMENTAR FACEBOOK