Syahdu Ramadhan dan Perjuangan Mahasiswa di Tanah Rantau

Oleh Rizki Ardial*)

Ramadhan merupakan bulan yang paling di tunggu-tunggu oleh setiap muslim taat, dikarenakan bulan yang berkah ini menjadi sebuah kesempatan untuk dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. Selain itu, bulan Ramadhan juga merupakan bulan untuk bersilaturrahim, seperti yang dicontohkan oleh sahabat-sahabat Nabi terdahulu.

Dalam tradisi masyarakat Aceh bulan Ramadhan menjadi sebuah waktu untuk berkumpulnya sanak saudara, apalagi diawali dengan tradisi meugang sebelum masuknya 1 Ramadhan. Ini merupakan sebuah kebahagian tersendiri jika dapat dinikmati bersama orang tua dan sanak keluarga.Pemandangan masih sangat kental di sebagian wilayah daratan Aceh.

Tradisi ini sangatlah menyenangkan bagi setiap orang, akan tetapi lain halnya bagi
mahasiswa yang sedang mengeyam pendidikan di tanah rantau, apalagi dengan sistem perkuliahan yang tidak mengenal waktu. Bulan Ramadhan yang biasanya dimanfaatkan untuk
menikmati ibadah puasa bersama orang tua harus rela di habiskan dalam ruang perkuliahan.

Memang belajar merupakan sebuah nilai ibadah, Sebagai anak rantau, tentunya kita akan sangat senang dan bahagia jika bisa menjalani puasa ramadhan bersama keluarga, namun apa daya ketika mengetahui jika dalam bulan Ramadhan tetap harus berkuliah, dengan kata lain, harus beraktifitas sebagai mahasiswa seperti biasa yang berkutat dengan penatnya tugas kuliah, namun yang namanya kewajiban harus tetap dilaksanakan.

Menjalani puasa sambil berkuliah merupakan hal yang tidak mudah dan butuh perjuangan. Homesick kadang kala datang menyerang namun harus tetap berjuang.

Tidak dapat dipungkiri setelah badan dan jiwanya terkuras di kelas masih berlanjut berjuang mendapatkan makanan berbuka puasa, ketegaran jiwa dan mental sangat di butuhkan. Mengingat tak sedikit rasa rindu akan berbuka puasa bersama keluarga
memecahkan konsentrasi kita sebagai pejuang sarjana di tanah rantau. Kadang saat hal itu terlintas di pikiran, tak jarang kita harus berbuka puasa dengan linangan air mata rindu kepada kedua orang tua. Mungkin hal ini sangat menyedihkan jika dibiarkan terus menerus dalam lamunan kerinduan tersebut. Maka saat itu hanya ada satu kalimat ampuh untuk menegarkan jiwa yang telah luluh tersebut, seuntai kalimat tersirat didalam kalbu terdalam ”Cita-citaku jauh lebih besar daripada pahitnya perjuangan yang aku rasakan saat ini”.

Karena niat itulah kita harus bertahan, karena amanah dari orang tua membuat kita harus berkorban dan karena pengorbanan inilah masa depan akan cemerlang. Walaupun terasa sulit namun disitulah seninya menuntut ilmu di tanah perantauan, harus menikmati rindu dan juga harus siap kehilangan berbagai momen berharga, salah satunya adalah momen berpuasa di bulan ramadhan bersama keluarga. Berpuasa di tanah
rantau sangat jauh berbeda dengan di kampung halaman bersama orang tua, hal ini sangat terasa saat menjelang berbuka puasa, tidak seperti di rumah bersama orang tua yang mana
beberapa menit menjelang bunyi sirine hidangan berbuka sudah tersusun rapi di atas meja, hal ini sangat berbeda jauh saat di perantauan. Beberpa menit sebelum tiba waktu berbuka harus keluar dahulu mencari jajanan buka puasa, bahkan terkadang harus rela berbuka hanya dengan sebungkus nasi dan sebotol air mineral tanpa ada makanan lain sebagai perwarna suasana berbuka puasa.

Kesyahduan inilah yang selalu di nikmati oleh mahasiswa di tanah rantau, uroe goet buleun goet, pu yang mak peugeot han meutume rasa.

Penulis: Rizki Ardial (Ketua Himpunan Mahasiswa Prodi D-III Perbankan Syariah UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

KOMENTAR FACEBOOK