Semesta Cinta Ramadhan

RAMADHAN adalah bulan seruan cinta Allah kepada hambaNya yang mengaku mencintaiNya. Siapa mereka yang mencintai Allah Subhahana wa Ta’ala? Mereka adalah orang-orang yang dipanggil oleh Allah dengan panggilan “wahai orang-orang yang beriman.”

Namun, karena Allah tidak sama dan serupa dengan manusia, Allah mewajibkan puasa bagi manusia yang mengaku beriman. Seruan cinta Allah ini membuat manusia memperoleh dua kebahagian, ketika berbuka puasa, ia bergembira, ketika bertemu Tuhannya, ia bergembira dalam puasanya.

Sebagai cinta, maka puasa tidak sama dengan segenap perbuatan anak adam lainnya, puasa milik Allah, hanya untuk Allah, dan karena itu untuk ekpresi cinta ini hanya yang kita kasihi berhak membalas ganjaran atas cinta yang ada. Berikut kalimah cinta yang tiada tandingannya:

“Puasa hanyalah untukku, dan Akulah yang akan memberikan ganjaran untuknya.” (Hadis)

Setiap perbuatan putra Adam adalah miliknya kecuali puasa. Ia milik Allah. (Hadis)

Orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan yang di dalamnya [ia] bergembira: ketika ia berbuka puasa, ia gembira; dan ketika ia bertemu Tuhannya, ia bergembira dalam puasanya. (Hadis)

Cara Allah memperkenalkan hakikat cinta melalui puasa mendorong hamba-hamba yang beriman untuk juga berkasih sayang, saling mencintai kepada manusia yang saling berikrar saudara, jikapun bukan karena ikatan keimanan cukuplah karena sadar bahwa semua kita adalah hamba ciptaannya, tinggal di bumi ciptaannya, dan makan minum dari berkah dan anugerah yang diberikan oleh Allah.

Dengan begitu, puasa bukan hanya dorongan untuk bertemu dengan pemilik dan penebar cinta, Allah saja tapi juga bertemu dengan sesama ciptaannya dalam kesadaran cinta. Kita bertemu menjalani tarawih bersama sebagai cara kita berkasih sayang karena Allah, kita berbagi juga karena kasih sayang, dan semua karena cinta.

Jika cinta membuat kita bahagia dan gembira maka mewujudkan cinta hadir dalam kehidupan juga cara kita meraih kegembiraan. Kita gembira bersama dengan kawan-kawan yang saling mencintai, kita gembira hidup dalam keluarga yang penuh cinta, kita gembira berkerjasama dengan orang-orang yang dihatinya penuh cinta, dan kita gembira tinggal di negeri yang rakyatnya saling mencintai. Kitapun gembira hidup berumah tangga yang saling mencintai.

Semua cinta itu adalah implementasi bukti cinta kita kepada Allah, yang telah mencintai kita. Jadi, bukan ramadan dengan ibadah puasanya adalah cara Allah kembali mendidik kita agar menjadi hambaNya yang penuh cinta.

KOMENTAR FACEBOOK