Berlomba Dalam Kebaikan

Azmi Abubakar (foto: Ist)

Oleh Azmi Abubakar*)

Manusia sebagai makhluk mulia pada dasarnya menyukai perlombaan. Karena kemauan bersaing inilah peradaban manusia lahir. Di sisi lain, persaingan antar manusia telah banyak membawa kerusakan bagi alam dan manusia itu sendiri. Hadirnya agama merupakan tuntutan untuk memberi kesempatan bagi fitrah manusia berlomba dalam hal kebaikan.

Jika manusia sudah tergelincir dan senang berlomba dalam kejahatan, maka manusia seperti ini harus mendapatkan pertolongan. Inilah esensi ajaran Rasulullah yang diberikan kepada umatnya. Para sahabat selalu dimotivasi untuk berlomba lewat amalan dan ilmu pengatahuan. Janji Rasulullah tentang berita gembira kepastian masuk syurga bagi sebagian sahabat menjadi contoh bahwa persiangan dalam kebaikan mendapatkan tempatnya.

Menariknya tidak semua sahabat mendapatkan berita gembira ini. Rasulullah ingin memberikan motivasi bagi sahabat lain untuk berlomba mendapatkan ganjaran pahala yang besar. Bagi manusia yang orientasinya kepada meteri, tentu sulit untuk melakukan perlombaan dalam kebaikan. Segala hal akan dilakukan demi mengejar dunia dengan menghalalkan beragam cara.

Berlomba dalam kebaikan adalah tuntunan Rasulullah. Berlomba dalam kebaikan tidak serta merta ditujukan kepada ibadah saja. lihat bagaimana para sahabat gemar melakukan ibadah, bahkan ada yang ingin dalam hidupnya melakukan puasa dan shalat secara terus menerus,lalu ditegur Rasulullah, bahwa yang dimaksud dalam Islam tidaklah seperti itu.

Berlomba mencari penghidupan yang baik demi agama sebagaimana esensi dalam surah Al-Jumuah bahwa selesai salat, tidak harus duduk di masjid, tetapi menyebar untuk bekerja kembali.
Anak anak menjadi motivasi lain bagi kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Ibadah dhuha yang sering dilakukan oleh anak-anak Taman Pendidikan Alquran (TPA) sesungguhnya selain membiasakan anak-anak, ada pelajaran untuk menyadarkan para orang tua jangan sampai kalah dengan anak anak, termasuk dalam belajar Alquran.

Para sahabat berlomba untuk mendapatkan syahid, bahlan Khalid bin Walid sempat menangis di peraduan tidurnya, ia menyesal kenapa belum juga memperoleh syahid di medan perang. Syekh Zakaria Al Anshari, salah seorang murid Imam Syafi’i tak pernah salat dengan duduk walaupun dalam keadaaan sakit, beliau menulis, aku tak mau Allah melihatku sebagai orang yang malas. Para sahabat dan generasi setelahnya sangat bergembira mengikuti lomba yang diselenggarakan Allah Swt.

Lomba pada dasarnya memberikan motivasi bagi lain untuk membuat kebaikan serupa. Jangan salah kaprah mengartikan lomba dalam agama, peristiwa pemboman tiga gereja di Jawa Timur membuktikan sebagian dari kita telah gagal memahami lomba dalam kebaikan. Naif sekali jika perlombaan yang kita lakukan membawa kemudharatan, sementara esensi dari nilai-nilai Islam mengajarkan untuk berlomba meraih mashlahah dan tidak membawa kemudharatan untuk diri sendiri.

Agama mengajak kita untuk berlomba secara berjamah, filosofi laba-laba sebagaimana yang diibaratkan Rasulullah yakni perumpamaan kaum muslimin yang memberi manfaat kepada yang lain, sehingga kehadiran perlombaan itu tak akan menjadi bala bagi yang lain. Lomba yang disebut Alquran sendiri selaku berkembang dengan semangat optimis, ciri khas muslim sejati adalah selalu menjadi pemenang yakni menang bersama-sama, yakni sebagai pemenang di kehidupan dunia dan akhirat.

Dalam konteks keluarga, perlombaan dalam kebaikan erat kaitannya tentang peran suami berbuat baik kepada istrinya demikian sebaliknya. Bagaimana Sayyidah Khadijah ketika di akhir usianya menyebut tentang permintaan surban Rasulullah untuk dijadikan kain kafan, lalu Rasulullah mengisyaratkan bahwa Sayyidah Khadhijah adalah seorang yang sudah memenangi dunia dan akhirat. Lomba kebaikan antara suami dan istri bukan pada seberapa banyak melontarkan kata-kata mesra tetapi bagaimana wujud kasih sayang dengan bekerjanya suami dan penjagaan dan takzimnya istri kepada suami.

Penting untuk orang tua mengikuti lomba memuliakan anak, bahwa perlombaan ini semata mata untuk mendapatkan ridha Allah, semangat untuk berbuat baik. berlomba-lomba dalam membangun lembaga pendidikan juga suatu hal positif. Perlombaaan yang sehat adalah lomba yang mengedepankan adab.

Lomba dalam ilmu bukan menyuruh orang lain menulis skripsi dan tesis kita, lihatkah bagaimana giatnya para ulama dalam berlomba meraih ilmu. Bahkan rela tidak tidur di kasur yang empuk dan tidak makan yang enak-enak demi mengajar ilmu. Bahwa masyarakat yang sudah maju menghabiskan waktu membaca sampai delapan jam sehari, sementara di Indonesia menunjukkan sebaliknya, kualitas membaca jauh dibawah itu.

Agama Islam adalah agama yang selalu memberikan motivasi untuk berlomba meraih kemenangan, kita punya peran masing-masing, ambillah peran kita baik sebagai tukang becak, pengusaha sampai pejabat, maka berlombalah untuk meraih kemenangan yang sejati, lomba yang membuat kita menang, disayangi oleh manusia dan diridhai pula oleh sang pencipta. Fastabiqul Khairat!

*)Azmi Abubakar, Lc, Pengajar dan kasi Humas Dayah Jeumala Amal, Anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh. Email; azmiabubakarmali@gmail.com

KOMENTAR FACEBOOK