Terkikisnya Kemesraan Bermasyarakat

Wahyu Candra

Oleh Wahyu Candra*)

Hidup merupakan anugerah bagi setiap manusia. Dengan hidup manusia merasakan indahnya cinta, kasih, hingga hal menyakitkan dan kesedihan yang membuatnya mengerti akan indahnya kehidupan.
Sering kita mendengar bermacam definisi tentang hidup, ada yang mendefinisikan hidup adalah perjalanan, hidup adalah rintangan, pilihan, ujian, pelajaran dan banyak lagi jika disebutkan.
Artinya hidup bisa dimaknai dengan bermacam makna oleh bermacam manusia. Hal itu lebih kepada pengalaman hidup manusia itu sendiri.

Dalam tulisan ini saya mencoba berbicara tentang hubungan antar sesama manusia dan hal-hal yang mempengaruhi terkurasnya rasa cinta kasih manusia terhadap sesamanya.

Manusia adalah makhluk sosial, yang hidup bermasyarakat dan saling membutuhkan satu sama lain.
Problem kita saat ini adalah manusia masih sebagai makhluk sosial akan tetapi interaksi atau hubungan sosial telah bnyak disekat sekat berdasarkan kepentingan dan kelas sosial, sehingga semakin hari kesenjangan sosial menjadi semakin tinggi dan pastinya semakin nenguras rasa cinta dan kasih yang berlaku pada masyarakat.

Jika kita sebut kesenjangan sosial, kita pasti dihadapkan dengan dua contoh manusia yaitu antara si kaya dan si miskin, yang keduanya itu sangat berbanding terbalik dalam memiliki fasilitas dan ruang dalam menjalani kehidupan.

Pasti dibenak kita muncul pertanyaan, ada apa dengan masyarakat kita sehingga kesenjangan sosial ini semakin lama terus bertambah tinggi? Sehingga berdampak semakin kurangnya rasa menghargai sesama, kurangnya rasa tolong menolong, atau umumnya saya sebut dengan terkikisnya kemesraan bermasyarakat.

Adakah ini dampak dari perkembangan zaman yg tidak terkontrol, sehingga sulit bagi orang tua untuk mengawasi anak-anak mereka, yang pada akhirnya anak-anak trsebut tumbuh sebagai manusia yang liar atau kurang terarah walau dibekali dengan pendidikan formal yang memadai. Ataukah mungkin rendahnya kualitas pendidikan kita? kurangnya penanaman nilai-nilai agama, atau mungkin juga kegagalan pemerintah dalam meminimalisir kemiskinan dan kegagalan menciptakan lapangan pekerjaan sehingga menjadikan masyarakat yang bergantungan pada anggaran belanja daerah. Semua itu dirangkum dengan kata mungkin, karena bisa saja salah satu atau smuanya menjadi alasannya.

Jika melihat ke tatanan kenegaraan jelas disebutkan bahwa orang-orang yang tidak mampu seperti fakir, miskin harusnya memang dipelihara oleh negara berdasarkan amanah UUD 1945.

Pada kenyataan hari ini sepertinya mustahil itu bisa terwujud mengingat negara kita ada pada problem yang sangat mendasar yaitu keuangan atau anggaran. Sehingga mau tidak mau para fakir dan miskin harus bertarung dengan keterbatasan mereka untuk memelihara diri mereka sendiri.

Sebagai pengingat, banyak dari masyarakat saat ini yang sering abai terhadap tetangga atau masyarakat di sekelilingnya, padahal masih sangat banyak di antara mereka fakir dan miskin yang butuh untuk perhatian.

Tapi uniknya banyak yang melihat orang fakir dan miskin sebagai orang yang terbatas kemampuannya sehingga mereka dianggap pantas dengan hidup mereka sesuai dengan keterbatasan kemampuan berfikir, bersuara, berbuat dan keterbatasan lainnya. Bahkan tidak jarang ada yang melihat hidup mereka sebagai sebuah kutukan malah menjadi bahan hinaan.

Terkhusus di dalam bulan suci Ramadhan, masyarakat mayoritas mengalihkan perhatian mereka pada anak yatim, itu merupakan hal yang sangat positif.

Tapi saya melihat ada hal yang dilupakan atau mungkin dikesampingkan. Orang orang yang fakir, miskin dan anak yatim mereka ada pada posisi yang sejajar untuk diperhatikan.

Jika dilihat lebih mendalam, cobaan yang mereka (fakir, miskin dan anak yatim) hadapi dalam hidup bukanlah hanya untuk mereka saja, akan tetapi juga cobaan itu Allah berikan untuk masyarakat mampu yang berada di sekitar sifakir miskin dan anak yatim sebagai ujian seberapa pekanya mereka untuk peduli terhadap sesama ketika Allah melebihkan nikmat rezekinya kepada mereka yang mampu.

Harapannya adalah semoga permerintah, tokoh ulama, tokoh adat dan tokoh pemuda dan masyarakat akan terus bersinergi dan persamakan persepsi bahwa kesejahtraan merupakan tujuan utama dari sebuah pembangunan. Dan pembangunan yang utama adalah menciptakan masyarakat yang bersatu, saling memberi ruang untuk sebuah pencapaian kelayakan hidup yang merata.

*)Pemuda Gampong Kuta Tinggi, Kecamatan Blangpidie, Abdya.

KOMENTAR FACEBOOK