Badan Jalan Bukan Milik Juru Parkir

APA KAOY: Pue beurita neubaca nyan, Polem?

POLEM: Beurita teuntang juru parkir (Jukir) di salah satu lokasi jalan umum, Banda Aceh nyang mematok biaya sekali parkir kenderaan roda dua Rp.2000,- dan roda empat Rp.5000,-.

APA KAOY: Apa itu peraturan Pomeurintah yang mematok harga parkir kenderaan segitu? Ci neubaca ilee beu habeh.

POLEM: Bukan. Kalau peraturan Pomeurintah jelas, untuk roda dua Rp.1000,- dan roda empat Rp.2000,-. Jukir juga harus jelas, punya seragam dan kartu identitas nyang dikeluarkan oleh Dinas Perhubungan.

APA KAOY: Jadi si Jukir tersebut mengapa begitu nekat mengutip biaya parkir setinggi itu? Atas dasar perintah siapa dan peraturan siapa?

POLEM: Menurut wartawan Serambi nyang sempat mewancarai beberapa warga dan jukir tersebut bahwa sang jukir menjawab ia mengutip tarif Rp.5000 atas permintaan pemuda desa setempat.

APA KAOY: O.., na preman? Pakon oh ka habeh masa konflik Aceh ka leumah preman dum? Dengar, Polem. Bahwa badan jalan umum bukan milik preman dan bukan milik juru parkir. Jalan itu adalah itu adalah milik umum nyang dibangun oleh Pomeurintah deungon uang rakyat.

POLEM: Biarpun jalan umum, tapi nyatanya sudah seperti milik pribadi juru parkir. Buktinya banyak kita lihat bahkan ada lokasi-lokasi nyang lebih dari separuh badan jalan mareka gunakan sebagai lahan parkir. Sampai-sampai lalulintas macet, pengguna jalan kewalahan untuk melintas.

APA KAOY: Itu kewajiban Pomeurintah untuk mengontrol, mengatur dan menertibkan, bukan hanya hanya mengutip retribusi.[]
Banda Aceh, 10 Juni 2018

KOMENTAR FACEBOOK