Cangkoi

Ilustrasi, dikutip dari internet.

Oleh Muhajir Juli*)

Di mana ada gula di situ ada semut, tanpa ada yang manis mustahil semut mengerubuti. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat bahwa tidak pernah sekalipun semut mengerubuti baut sekalipun berbalur gemuk (gumok-Aceh), walau gemuk tersebut diproduksi oleh Amerika Serikat. Hal ini bukan karena semut anti Amerika, tapi karena tidak ada keuntungan bagi semut untuk mendekat ke sana.

Manusia di daerah-daerah tertinggal, pasti akan lebih cepat tersulut marahnya ketimbang mereka yang hidup dan bertumbuh di kalangan ekonomi yang bertumbuh secara normal dan merata. Mengapa? Karena rasa lapar akan membuat seseorang tidak mampu berpikir panjang. Lapar yang dimaksud bukan saja persoalan beras, tapi juga angan yang tidak mungkin digapai karena keadaan tidak memungkinkan.

Ketidakmampuan, ketidakberdayaan selalu melahirkan anarki. Reformasi 1998 lahir dari proses panjang penderitaan, ketika rakyat hidup di bawah tekanan dan ketidakberdayaans ecara ekonomi, selama puluhan tahun. Andaikan, rakyat Indonesia mayoritas hidup mapan kala itu, reformasi tidak akan pernah terjadi.

Konflik Aceh antara GAM dan RI juga bisa langgeng karena penderitaan rakyat. walau agamawan secara mayoritas tidak sepakat, tapi rakyat tetap punya sikap sendiri. Mereka mendukung GAM karena alasan-alasannya sendiri. Andaikan RI berhasil merebut hati rakyat Aceh dengan perilaku alat tempurnya yang manusiawi dan adilnya para pejabat, sungguh pamor GAM tidak akan pernah besar.

***
Setiap kali usai pemilu, baik pilkada maupun pileg, selalu saja terjadi ribut-ribut di lingkar pemenang kekuasaan. Kenapa? Karena semuanya berharap mereka akan mengalami perubahan nasib kala berhasil mengantarkan seseorang ke singgsana kekuasaan. Ketika apa yang diimpikan tidak tercapai, maka kemarahan adalah satu-satunya solusi yang terlintas di benak, untuk menyalurkan aspirasi, dengan harapan diperhatikan.

Manusia memang selalu menjadi tempat salah dan lupa. Ketika menginginkan sesuatu selalu menanggalkan akal sehat dan memilih bertindak secara tidak sehat. Kemarahan-kemarahan selalu bisa dikelola oleh orang lain untuk kepentingan orang lain pula. Mereka yang selalu tersulut marahnya justru tidak mendapatkan apa-apa. Paling banter hanya mendapatkan uang meugang dan sedikit ongkos pulang kampung. Selebihnya akan diangkut oleh para agen yang berhasil mengelola kemarahan mereka.

Para agen isu selalu berposisi sebagai cangkoi (cangkul), yang bekerja untuk dirinya sendiri. Fungsinya hanya mengelola psikologi orang lain, diputar sedemikian rupa, agar dia mendapatkan untung secara individu.

Perhatikanlah perilaku cangkoi di sekeliling Anda, mereka akan tampil di panggung apa saja,sejauh menguntungkan dirinya. Lazimnya cangkoi secara umum, cangkoi tidak memiliki ideologi, bahkan kerapkali mereka tidak beragama. Mereka bukan pun kafir, karena cangkoi bisa memposisikan diri melebihi kafir itu sendiri. Di mana ada ladang di situ ada cangkoi.

Pertanyaannya, berapa kali Anda kehilangan akal sehat selama setahun ini? Berapa kali Anda berhasil memaki orang lain selama setahun ini? Berapa kali Anda sukses membunuh orang selama satu tahun ini? Berapa kali Anda sukses membakar rumah orang selama setahun ini? Apa yang sudah Anda dapatkan? Uang, atau surga?

Mari berhitung berapa kali Anda sudah dicangkul selama setahun ini?

*) Penulis adalah Pemimpin Redaksi aceHTRend.

KOMENTAR FACEBOOK