Jungle Politik Aceh

Zaini Yusuf (kiri) dan Irwandi Yusuf (kanan) di Gayo Lounge, Bandara Internasional Iskandar Muda, Rabu (4/7/2018). Foto: Muhajir Juli.

Oleh Risman Rachman

Lingkungan politik Aceh nyaris sama dengan jungle, rimba belantara, sampai kita sadar dan menjadikannya sebagai forest dengan hukum keseimbangan, bukan hukum rimba.

Sebagai rimba belantara kunci survival ada pada diri sendiri. Selebihnya adalah tradisi terkam-menerkam.

Ada srigala yang mengawasi, ada harimau yang mengambil langkah menerkam, bahkan ada pula manusia yang datang dengan alat perangkapnya.

Sama sekali tidak ada solidaritas panjang pada kematian, bahkan jika pun ada air mata hanya sekejap, dan langsung mengering.

Bahkan, mangsa yang masih hangat saja bisa diperebutkan, begitu juga yang sudah menjadi bangkai. Selebihnya adalah takdir hukum rimba.

Tapi, kehidupan di rimba terus saja berlangsung meski dalam mata rantai terkam menerkam, cabik-mencabik, sehingga tidak ada lagi yang merasa jijik mencaci.

Dalam lingkungan begitu rupa tidak heran jika hidup dan mati menjadi begitu tragis. Jika masih hidup, yang perkasa merayakannya dengan pesta makan dan kawin, dan jika ada yang mati dirayakan pula dengan cabik-mencabik.

Coba lihat, tidak mempan lagi melempar kabar bahwa ini taktik penghancuran Aceh dari Jakarta. Ini bukan kebetulan, melainkan sebuah permainan. Lihat, saya sudah pernah ingatkan tapi tidak diindahkan, malah dicibir, dan dimusuhi.
Tapi, lingkungan politik Aceh masih mungkin menjadi seperti forest, hutan yang keberadaannya terjaga, terawat, dan terurus sehingga pemandangan yang mencekam bisa menjadi tempat tujuan kunjungan.

Caranya? Jaga forest agar tetap menjadi rumah yang aman dan nyaman bagi semua penghuninya. Jangan sampai harimau bisa makan enak sementara gajah bisa mati di lapangan yang aman.

Jika di jungle, rimba belantara berlaku hukum rimba, yang kuat yang menang maka di forest diberlakukan hukum keseimbangan, siapa pun mendapat kesempatan luas untuk hidup dan berkembang tanpa perlu merasa ada dalam ancaman, berupa bayang-bayang kesusahan hidup.

Pemimpin Umum aceHTrend

KOMENTAR FACEBOOK