Irwandi Yusuf, yang Dirindu Juga Dibenci

Irwandi Yusuf bersama Isterinya Darwati A Gani (Foto: Instagram Darwati A Gani)

Oleh Muhajir Juli*)

Di periode awal menjadi Gubernur Aceh, hobi Irwandi Yusuf adalah mengendarai Rubicon ke manapun pergi. Kelihaiannya menyetir dengan kecepatan tinggi, membuat adrenalin siapapun akan terpacu. Di periode kedua, hobinya bergeser, ia gemar terbang dengan Eagle One Hanakaruhokagata. Sebagai politikus, ia mewakili dua kutub, dirindu sekaligus dibenci.

Beberapa orang bertanya kepada saya pada suatu ketika, tentang bagimana sosok Irwandi Yusuf di mata saya selaku orang Bireuen. Kala itu saya menjawab bahwa saya akan melihat Irwandi sebagai orang Aceh, dan saya akan berdiri sebagai Aceh, bukan sebagai Bireuen. Dalam pandangan saya lelaki yang kerap disapa BW oleh anak muda zaman now, merupakan tipikal lelaki Aceh yang cerdas, tidak bisa diatur, serba penasaran serta badung.

Irwandi di mata saya adalah orang yang serba penasaran, ia kerap akan mencoba sesuatu yang membuat dirinya bertanya-tanya. Ia akan menuntaskan rasa penasarannya dengan menaklukkan apa yang masih menjadi misteri baginya. Saya melihat di periode awal dirinya “gila-gilaan dengan Rubicon dan menyetir sendiri, merupakan manifestasi dari sikapnya itu. Hal yang sama diulang lagi di periode kedua, dengan hobi yang lebih mewah yaitu menerbangkan pesawat, dengan hobinya itu, ia pun mendapat lakap baru yaitu: Captain.

Dalam karir saya sebagai jurnalis, tentu bersentuhan dengan segenap lapisan masyarakat merupakan suatu keniscayaan. Ketika menjalankan tugas jurnalistik sesuai amanah UU Nomor 40 Tahun 1999, saya menemukan banyak cerita tentang Irwandi, baik yang bersifat positif maupun negatif. Tapi, seperti banyak cerita terhadap tokoh lain, saya selalu memilah dan memilih, ada hal yang selalu saya simpan, bahkan kepada istri saya saja tidak pernah saya sampaikan, ada hal-hal yang juga saya ungkapkan ke publik, dan itu tentu sesuatu yang berhubungan dengan jabatan.

Bukan satu dua kali para pihak datang menjumpai saya dan memberikan data tentang rekam jejak pejabat tinggi di Aceh, tapi syarat saya tidak pernah berubah. Bahwa aib pribadi, apalagi dilakukan sebelum menjabat jabatan publik, tidak mendapat tempat di dalam tulisan saya. Itu garansi dan belum pernah saya turunkan gradenya, semoga saja di masa hadapan, saya tetap konsisten dengan itu.

***
Kembali ke soal Irwandi Yusuf, penangkapan yang bersangkutan pada 3 Juli 2018 melalui Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPk) membuat sebagian publik Aceh terhenyak, khususnya kalangan jelata akar rumput. Mereka sungguh tidak menyangka bahwa Bapak Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) itu terjerat dugaan tindak pidana korupsi.

“Ah, masa sih, pasti Pak Irwandi dijebak.” begitulah respon awal publik kelas bawah, ketika baru mendengar kabar itu. Tidak sedikit yang menduga bahwa Irwandi dijebak oleh Nova Iriansyah, yang kemudian telah berkali-kali dibantah oleh Ketua DPW Demorat Aceh itu.

Orang Aceh mendengang Irwandi dalam dua hal, pertama JKA dan kedua Beasiswa Anak Yatim (BAY). Kedua program mercusuar yang dibiayai melalui Dana Otonomi KHusus Aceh (DOKA) sejak periode pertama Irwandi Yusuf menjadi Gubernur Aceh, bertahan hingga sekarang.

“Kala itu adik-adik saya nyaris tidak bisa melanjutklan sekolah. Kondisi ekonomi keluarga kami belum pulih pasca konflik. Ayah sakit-sakitan dan semua usahanya hancur saat Darurat Militer. Ayah dan ibu saya nyaris putus asa, hingga tiba-tiba Keuchik datang dan meminta biodata semua adik-adik saya. Tidak lama kemudian beasiswa cair,” kenang Dewi (30) berkisah tentang BAY yang diterima oleh keluarganya.

Kisah manis tentang BAY ketika Aceh baru saja berhenti perang, bukan hanya milik Dewi, tapi menjadi ingatan kolosal rakyat Aceh yang tidak memiliki afiliasi politik tertentu. “Setahu saya tidak ada anak yatim yang tidak mendapatkan beasiswa itu, dana itu bukan saja dinikmati oleh anak yatim, tapi juga oleh keluarganya. Bahkan di awal-awal, di beberapa gampong di Aceh, ada aparat desa yang memalsukan data jumlah anak yatim, agar lebih banyak warganya yang mendapatkan beasiswa itu,” ujar Saiful, warga Bireuen, kepada saya beberapa waktu lalu.

Di sektor kesehatan, rakyat Aceh pun dibuat gembira semenjak kehadiran JKA, program itu membuat mereka tidak lagi was-was bila harus berobat ke rumah sakit. Bila sebelumnya ketika menyebut RS, warga lebih memilih dukun, kini profesi dukun pun kian tidak keren, kecuali untuk urusan pelet memelet. Karena RS terjangkau untuk semua orang, walau yang didapatkan adalah layanan kelas III dengan obat generik. Perilaku pungli dan ketidakramahan petugas RS, tidak menyurutkan antusiasme warga untuk berobah ke RS.

Berobat gratis tersebut sempat membuat marwah Puskesmas di seluruh Aceh, jatuh berkeping-keping, karena warga hanya menjadikan Puskemas sebagai tempat mengurus surat rujukan semata. Semua ingin berobat ke RS, sekalipun penyakit diderita hanya masuk angin yang sejatinya bisa sembuh dengan dikeruk menggunakan balsem yang bisa dibeli dengan harga 5000 di toko kelontong.

“Sudah, ke RS saja, di sana obatnya lebih baik. Untuk apa terlalu berhitung, semua sudah digratiskan oleh Pak Gubernur.” itulah kalimat umum yang seringkali saya dengar.

***
Rakyat Aceh, khususnya dari generasi Z dan generasi millenial, mayoritas telah terintegrasi dengan internet. Pun demikian, walau terintegrasi ke dunia dalam jaringan, tapi tidak serta merta mereka cerdas secara intelektual. Apalagi mayoritas di antara mereka adalah generasi ahistoris dan kehilangan adab. Mereka tidak bisa membedakan antara caci maki dan kritik.

Inilah yang dihadapi oleh Irwandi Yusuf di periode kedua dia menjadi Gubernur Aceh, ditambah lagi dengan lawan politik, yang selalu memancing di air keruh. Tiap hari dia mendapatkan sumpah serapah, diejek, dihina, dicaci maki- bahkan seringkali meme disebar di internet, yang membuat harkat dan martabatnya hancur. Dia dihina oleh rakyatnya sendiri, dia dihina oleh generasi yang ayah ibu mereka pernah dia bela. Dia dicacimaki oleh bangsa yang pernah ikut dia perjuangkan untuk meraih kemerdekaan.

Banyak yang menyarankan Irwandi untuk berhenti berkelana di media sosial, tapi saran itu tidak pernah mau ia turuti. Bahkan lama-kelamaan Irwandi pun terpengaruh dan melayani satu persatu tiap penghujat. Siapa yang menghujat akan dibalas dengan hujatan. Irwandi tidak sedikitpun mau bi beu, (memberi peluang) semua akan dia catok kembali, bila ia kena catok Dalam istilah Aceh, han dipeulheuh angen, mandum dibalah seupot. Hal ini tentu merugikan dirinya sebagai pemimpin. Citranya sebagai gubernur tercoreng, apalagi yang ia layani di fb adalah anak-anak kemarin sore yang hanya tahu mengumpat dan mencela. Banyak orang mengatakan, di media sosial Irwandi telah turun kelas, walau di alam nyata ia adalah top leader lima juta rakyat Aceh.

***
Begitu Irwandi ditangkap KPK, ia pun menjadi bulan-bulanan. Ini melengkapi serangkaian kisah sakit hati sebagian pihak karena Irwandi nekat mempergubkan APBA 2018, yang bukan hanya membuat anggota DPRA kalang kabut, tapi juga membuat sebagian besar rakyat yang bergantung hidup pada dana aspirasi dewan, pun dibuat panik. Mulai dari intitusi pendidikan agama kelas bawah, hingga kelas menengah rentan, ikut menggigit bibir–dengan rasa kecewa– karena lahirnya pergub.

Saya juga salah seorang yang ikut kecewa, karena bantuan pendirian balai pengajian yang hampir roboh, gagal cair karena Irwandi menaikkan nilai dana hibah paling minimal 500 juta. Sedangkan dayah di dekat rumah saya itu hanya membutuhkan biaya kurang dari 200 juta. “Untuk jujur saja, kita mendapatkan cobaan yang luar biasa,” kata seorang panitia pembangunan, yang mengetahui bahwa dana yang sudah sempat diplot melalui Dinas Dayah Propinsi Aceh, urung diberikan oleh Pemerintah, karena dayah di dekat rumah saya itu adalah dayah asjadi tidak mengajukan dana yang tidak masuk akal.

Sakit hati publik Aceh, tentu kian bertambah ketika mengetahui Irwandi semakin liar saja membuat program Aceh Hebatnya, dengan ide Aceh Marathon, balap pesawat terbang dan segenap ide yang menyerap anggaran puluhan milyar hanya untuk satu even.

Saya pernah mendengar dengan telinga sendiri, tentang kekecewaan publik terhadap Irwandi yang tiba-tiba “sangat liar” itu. Bila sejatinya ia ingin “menghukum” anggota DPRA dengan pergub APBA, justru yang ia hukum adalah publik Aceh, yang didalamnya ada 5 juta manusia, dan mayoritas adalah pemilihnya sendiri. “Bak jih han dibie, ata gobjok han jadeh jeut tacok gara-gara jih,” celetuk seorang kontraktor kecil yang mengaku kecewa dengan sikap Irwandi yang semakin one man show di periode kedua.

“Nyan bek peugah hana fee, nyan na lagoe keu adek Steffy, keu awak laen gohlom deuh takalon, walau na tadeungo-deungo na dijok bagi,” celetuk yang lain.

“Yum saboh tah inong Pak Gub, sadum ngon biaya udep sithon limong boh KK ureung gasien di gampong yang tiep KK na limong droe manusia,” kata yang lain.

Saya tidak akan mengambil kseimpulan apapun, karena tulisan ini tidak membutuhkan simpulan, bersebab hanya coretan berdasar rasa dan fakta yang ada di lapangan.

Saya hanya ingin menulis sebuah pepatah Aceh”Bak ie raya bek tatheun ampeh, bak ie tarek bek tatheun bube, bek tameurakan ngon sipaleh, hareuta habeh tanyoe dicok le KPK.” Semoga BW mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya.

*) Penulis adalah Pemimpin Redaksi aceHTrend. Tulisan adalah pendapat pribadi.

KOMENTAR FACEBOOK