Kenapa Ada Caleg Tidak Bisa Baca Al-Qur’an?

Foto: Headline sebuah koran lokal di Aceh tentang banyaknya bacaleg yang tidak lulus uji baca Quran. (Dikutp dari FB Junaidi-Ist)

Oleh Khairil Miswar*)

Sejumlah bacaleg tidak bisa membaca al-Qur’an, demikian potongan berita dan tajuk dari beberapa media. Sebagian kalangan menjadikan informasi ini guna “mengolok” dan “mengejek” beberapa bacaleg dimaksud. Ada pula yang mengaitkan ketidakmampuan mereka membaca al-Qur’an dengan penerapan syari‘at Islam di Aceh. Dan bukan tidak mungkin, ada pula sebagian kecil pihak yang mungkin akan melakukan tindakan apologi terselubung bagi para oknum bacaleg yang kurang beruntung tersebut.

Nah, melihat sejumlah bacaleg yang berguguran dalam tes baca al-Qur’an, kira-kira pelajaran apa yang bisa diambil? Pantaskah kita menyalahkan mereka? Atau sebaliknya, patutkah kita membela mereka? Siapa pun berhak menjawab dengan rupa-rupa jawaban yang pastinya berpotensi benar menurut kita masing-masing, dan berpotensi salah menurut orang lain.

Saya memilih untuk tidak menjawab pertanyaan di atas. Saya justru ingin menebak-nebak alasan mereka tidak bisa membaca al-Qur’an. Setelah melakukan “riset intuitif”, saya menemukan beberapa jawaban. Sebagiannya bisa benar dan sebagiannya lagi bisa salah. Bisa juga benar semuanya dan salah semuanya.

Pertama, bacaleg yang disebut tidak bisa membaca al-Qur’an bisa saja sedang mencoba untuk “tawadhu” di depan publik. Artinya, ia tidak ingin disebut riya dan sombong. Mungkin dia sengaja berpura-pura tidak bisa membaca al-Qur’an demi menyelamatkan keyakinannya ini. Baginya, publik tidak perlu dan tidak boleh tahu bahwa dia mahir membaca al-Qur’an, sebab akan meruntuhkan “pahalanya.” Biasanya, jika nantinya terpilih, oknum bacaleg serupa ini juga akan berusaha menyembunyikan aktivitasnya di parlemen agar tidak diketahui publik. Seandainya nanti dia tampak tidak memperjuangkan aspirasi rakyat, kita tidak perlu bersedih hati, mungkin dia tidak ingin “bermegah-megah” dengan jabatannya.

Kedua, bacaleg jujur. Dari sekian jumlah bacaleg yang kononnya tidak bisa membaca al-Qur’an, bisa jadi sebagiannya memang ingin menunjukkan kejujurannya bahwa mereka memang tidak bisa membaca al-Qur’an. Dalam hal ini, kita tentunya harus menghargai dan jangan mengejek dengan sebutan-sebutan yang dapat menyakiti hati mereka, sebab kejujuran sudah sangat langka di zaman ini. Tidak banyak orang yang berani jujur di depan publik. Sebagian oknum politisi justru menampilkan wajah sufi di hadapan hadirin, tapi di belakang ia “berselingkuh” dengan kekuasaan. Seandainya dugaan ini benar, jujur saya kagum kepada mereka yang telah sengaja menunjukkan kejujurannya di hadapan publik.

Ketiga, tidak membawa al-Qur’an sendiri. Kasus ini memang sudah sangat sering terjadi, di mana ada beberapa gelintir orang yang memang tidak bisa membaca al-Qur’an milik orang lain. Saya tidak sepakat jika orang ini dituduh tidak bisa membaca al-Qur’an. Sebab kendala mereka bukan pada kemampuan membaca, tapi mereka hanya tidak terbiasa membaca al-Qur’an orang lain.

Keempat, tidak ada pemberitahuan dari panitia tentang surah dan ayat mana yang akan diuji. Hal ini juga menjadi salah satu kendala terbesar bagi para bacaleg. Seharusnya, panitia mengumumkan ayat-ayat mana saja yang harus dibaca pada tes membaca al-Qur’an sehingga para bacaleg bisa melakukan latihan di rumah. Panitia tidak boleh “menjebak” para bacaleg dengan meminta mereka membaca ayat-ayat yang seumur hidup tidak pernah mereka lihat. Ini tidak adil!

Kelima, ingin mewakili oknum rakyat yang tidak bisa membaca al-Qur’an. Bukan tidak mungkin ada sebagian oknum bacaleg yang memang ingin mewakili “teman-teman” mereka dari “komunitas tanpa al-Qur’an.” Dalam negara demokrasi, hal ini terbilang wajar saja. Artinya, setiap kelompok berhak mewakili kelompoknya. Dan, setiap wakil tentunya identik dengan yang akan diwakili. Dengan demikian, lumrah saja jika oknum rakyat yang tidak bisa membaca al-Qur’an diwakili oleh bacaleg yang juga tidak tidak mampu membaca al-Qur’an. Di sinilah letaknya keadilan.

Mengakhiri tulisan ini, kita berharap nantinya tidak ada lagi yang mengejek dan menghina bacaleg yang tidak bisa membaca al-Qur’an, apalagi sampai mengaitkannya dengan penerapan syari‘at Islam di Aceh. Mereka harus tetap dihargai dan ditempatkan pada maqamnya sendiri.

Bireuen, 22 Juli 2018.

*)Penulis adalah kolumnis tetap aceHTrend, seorang guru di sekolah rendah dan juga penuli ragam dinamika sosial, politik dan sosial budaya.

KOMENTAR FACEBOOK