Meruwat Cinta Aceh dengan Cara Baru

Oleh Fuad Hadi*)

Seluruh bumi ini akan terasa sempit
Jika hidup tanpa toleransi
Namun jika hidup dengan perasaan cinta
Meski bumi sempit, kita akan bahagia

Melalui perilaku mulia dan damai
Sebarkanlah ucapan yang manis
Hiasilah dunia dengan sikap yang hormat
Dengan cinta dan senyuman

Sebarkanlah di antara insan
Inilah Islam agama perdamaian

***

Lirik lagu berjudul Deen Assalam yang dipopulerkan oleh Nissa Sabyan itu cocok untuk mendorong semua kita untuk kembali mencintai Aceh. Mengapa saya mengajak kembali kita semua mencintai Aceh? Ini jelas bukan dasarnya kita semua tidak mencintai Aceh. Sejarah membuktikan, Aceh adalah negeri yang paling dicintai oleh rakyatnya. Begitu cintanya, nyawapun direlakan melayang hanya untuk memastikan sepotong tanah warisan indatu ini.

Bagi kita orang Aceh, makna cinta terhadap Aceh itu sangat mendalam, bahkan lebih dalam dari makna cinta pada pasangan hidup. Bayangkan, mereka yang pulang di jalan membela tanah air (Aceh) akan disambut dengan gegap gempita, termasuk oleh pasangan hidup masing-masing. Coba simak potongan lirik lagu “Panglima Prang” berikut ini:

panglima prang deuh panglima prang katroh geuwo/ngon raja nanggroe ngon raja nanggroe hate lam suka

(panglima perang telah kembali/dengan raja negeri dalam keadaan senang gembira)

kru seumangat meukru seumangat seuot judo dro/cutbang ka neuwo cutbang ka neuwo seunang ka neuba/Alhamdulillah alhamdulillah Tuhan lon pujo/beudoh cut putro beedoh cut putro seumah kakanda

(mari kita sambut dengan gembira/kakanda yang telah pulang/Alhamdulillah segala puji bagi Tuhan/bangunlah adinda sambut kakanda pulang)

***

Hanya saja yang perlu direnungi saat ini adalah apakah model cinta yang penuh pengorbanan itu masih layak dipertahankan, atau apakah makna pengorbanan sudah harus direkontruksi ulang sehingga mencintai Aceh kembali menemukan bentuknya yang tepat.

Misalnya, salah satu wujud dari mencintai Aceh itu adalah keluasan pikiran dan perasaan kita semua tentang Aceh. Dengan paradigma cinta ini maka kita akan memilih untuk memahami Aceh secara lebih luas, tidak sempit. Dengan begitu, tumbuh kompetisi positif terhadap Aceh.

Selama ini, cara pandang kita terhadap Aceh terasa begitu sempit. Kita lebih pinter melihat masalah ketimbang melihat solusi. Jika saja diberi kesempatan untuk membuat daftar masalah, dalam waktu sekejap saja kita bisa menghasilkan ratusan masalah. Sebaliknya, begitu diminta membuat daftar solusi, kita kehilangan kemampuan alias leumoh aneuk muda.

Makna mencintai Aceh mestinya juga bermakna besar dan kuatnya komitmen semua kita untuk menolak segala tindakan yang dapat melukai Aceh, seperti tindakan korupsi dan lainnya.

Saya kira, jika kita kembali kepada pondasi utama keacehan yaitu Islam juga mendorong semua kita untuk membangun paradigma cinta seperti yang tergambar di atas. Tapi, semua terpulang pada kesadaran dan kemauan kita semua. You are ready?!

*)Penulis adalah Tim Percepatan dan Pembangunan Daerah (TP2D) Aceh Barat.

KOMENTAR FACEBOOK