OTT Negara

Kalapas Sukamiskin Wahid Husen dan Fahmi Darmawansyah sebagai tersangka kasus suap fasilitas mewah dan jual beli izin di Lapas Sukamiskin. @detik

Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Kalapas Sukamiskin merupakan sebuah simbol. KPK sesungguhnya melakukan OTT terhadap negara, negara yang gagal dalam menghukum para koruptor.

Selama ini, penyelenggara negara mengajak rakyatnya untuk menerima bahwa korupsi adalah kejahatan luar biasa, yang harus ditindak juga dengan cara luar biasa.

Dan, melalui KPK, satu persatu pelaku korupsi diantar ke penjara dan ini berkat dukungan alat yang juga luar biasa, sehingga kepintaran tersangka untuk berkilah di bawah asas praduga tidak bersalah dapat dibuktikan.

Efeknya, tersangka yang awalnya garang berkilah menjadi ciut nyalinya dan akhirnya menerima putusan hakim tanpa banding.

Tapi yang namanya penjahat dengan kemampuan untuk melakukan kejahatan luar biasa (korupsi) tentu pantang menyerah.

Jika mereka kalah di pengadilan, bukan bermakna mereka kalah di penjara. OTT KPK terhadap Kalapas Sukamiskin yang membuka kedok sejumlah koruptor di bilik penjara adalah bukti gagalnya negara dalam memberi efek jera terhadap pelaku kejahatan luar biasa.

Mereka ternyata menjadi ATM berjalan bagi penegak hukum. Luar biasa!

Maka wajar bila banyaknya pelaku korupsi yang dihukum sama sekali tidak memiliki relevansi dengan hasrat berkuasa.

Buktinya, di setiap musim pilkada dan pileg jumlah calon tetap saja banyak, seirama dengan banyaknya perilaku money politic. Mereka sama sekali tidak peduli jika akhirnya perilaku koruptif saat menjadi pejabat atau wakil rakyat akan berujung ke penjara.

Kenapa? Sebab mereka seperti tahu sama tahu bahwa negara keras terhadap pelaku kejahatan biasa tapi terlalu lemah terhadap kejahatan luar biasa, seperti terhadap koruptor.[]

Risman Rachman
CEO aceHTrend

KOMENTAR FACEBOOK