Peradaban Air Got

Oleh Khairil Miswar*)

Sebuah video tiba-tiba saja viral di media sosial. Viralisasi ini terjadi beberapa hari lalu. Dalam video itu tampak beberapa orang sedang memandikan pasangan laki-laki dan perempuan dengan air got. Saya sempat memutar video ini beberapa kali untuk memastikan bahwa aksi mandi-memandikan ini bukan ritual ulang tahun. Verifikasi model ini menjadi penting sabab kita sudah sangat sulit membedakan antara ekspresi kegembiraan dengan petaka. Jelas, apa yang dialami oleh pasangan laki-laki dan perempuan di Langsa baru-baru ini adalah petaka, bukan ucapan selamat ulang tahun.

Ketika mengetahui bahwa ini petaka, maka siapa pun berhak geram dan gemas melihat perilaku beberapa anak manusia yang entah masih setia pada kemanusiaannya atau sudah berubah menjadi “patung-patung” bernyawa yang sama sekali tak punya rasa. Dengan penuh semangat mereka memandikan sesamanya dengan air najis hanya karena dugaan mesum. Sekali lagi, hanya karena dugaan, dugaan, dugaan dan dugaan mereka telah bertindak sebagai hakim atas sesamanya. Miris!

Padahal, seperti dilansir beberapa media, kedua pasangan ini sudah menunjukkan bukti bahwa mereka telah menikah. Sebagai pasangan yang telah menikah tentu mereka berhak melakukan apa saja dengan pasangannya tanpa butuh diintip dan dicurigai oleh siapa pun. Jika pun benar mereka melakukan mesum dan belum menikah, bukan hak kita untuk memberi hukuman, apalagi hukuman yang jauh dari peradaban modern. Bahkan perabadan kuno pun sudah tidak lagi menggunakan pola-pola penghukuman primitif seperti ini.

Secara psikologis, kecurigaan berlebihan terhadap orang lain adalah bentuk penegasan bahwa kita juga pernah melakukan hal yang sama sebagaimana kita curigakan terhadap orang lain. “Han mungken han dimesum meunyo kameusapat inong agam” (tidak mungkin tidak mesum kalau sudah berkumpula lelaki dan perempuan). Kira-kira demikian sebuah keyakinan yang terpacak di pikiran sebagian kita. Tanpa sadar, melalui kecurigaan kepada orang lain, kita telah mempertegas kepribadian kita sendiri; bahwa kita akan melakukan mesum kapan saja berhadapan dengan lawan jenis.

Dengan kata lain, kita telah mempertegas bahwa kita semua adalah “calon pelaku mesum” yang hanya saja belum tertangkap.
Sakitnya lagi, kekerasan yang terjadi di Langsa telah pula dijadikan sebagai alat “kampanye” untuk menyerang penegakan syariat Islam di Aceh. Bukan tidak mungkin orang-orang di luar sana akan melihat penegakan syariat Islam di Aceh sama sekali tidak beradab. Padahal aksi memandikan terduga mesum dengan air got sama sekali tidak ada kaitannya dengan syariat Islam, tapi hanya ulah beberapa gelintir anak manusia yang ingin menunjukkan eksistensinya melalui “penindasan” terhadap orang lain.
“Pungonya” lagi, ada pula yang menyebut penyiraman air got kepada pelaku penyimpangan sebagai bentuk hukum adat.

Tentu kita semua berhak tertawa dengan mulut terbuka lebar ketika mendengar haba tanpa peunutoeh ini. Hanya orang-orang tak beradat yang terbiasa dengan perilaku ini. Menyebut tindakan tersebut sebagai hukum adat adalah justifikasi murahan yang “menjijikkan.”

Mirisnya, pasca kejadian di Langsa, kedua pasangan suami-istri ini dikabarkan drop dan harus dirawat di rumah sakit. Saya yakin para “aktivis air got” akan bergembira ria mendengar kabar ini. Semakin banyak korban air got maka semakin berbahagialah para aktivis got. Tanpa sadar mereka telah melakukan kampanye untuk membangun peradaban got di Aceh. Bagbudig!

*)Penulis adalah aktivis literasi, seorang guru di sekolah rendah, penikmat kopi apa saja asal hitam.

KOMENTAR FACEBOOK