Segarnya Lincah U Groh Indrapuri

Lincah u groh, rujak jenis apa itu? Itulah pertanyaan yang diajukan oleh siapa saja yang belum mengetahui tentang rujak tempurung putik kelapa yang dijual satu porsi 12.000 rupiah di pinggir jalan nasional Banda Aceh-Medan, km 23,5, Indrapuri, Aceh Besar.

Ya, rujak ini berbahan baku tempurung muda dari kelapa yang belum berdaging alias kelapa yang masih berupa putik kelapa. Tempurung tersebut setelah dicungkil dari buah yang sudah dibelah, kemudian dicincang ke dalam bumbu rujak Aceh yang menggunakan gula merah, cabe, jeruk nipis, dan lain sebagainya.

Rasa rujak ini tentu dominan kelat, karena pengaruh rasa batok muda serta rasa bumbunya yang pedas dengan citarasa asam yang segar. Bila beruntung, rujak yang Anda pesan akan dicampur dengan gu u (bagian pucuk batang kelapa yang empuk) yang berstektur lembut serta manis campur lemak.

Kuliner lincah u groh bukanlah sesuatu yang baru, masyarakat Aceh di kampung-kampung sudah mengolahnya secara turun temurun. Bedanya dulu tidak menggunakan bumbu rujak konvensional, hanya perasan jeruk nipis, gula pasir, dan cabe serta dicampur dengan air kelapa.

Ketika saya melintas karena suatu tujuan, Minggu (5/8/2018) rasa ingin tahu saya begitu bergelora, sehingga meminta sopir yang untuk singgah sejenak, saya sangat penasaran dengan rasa rujak tersebut.


Kepada saya, salah seorang pramusaji di warung rujak itu mengatakan, dalam sehari ia bisa menghabiskan 500 butir putik kelapa. “Rata-rata sejumlah itu setiap harinya. Semenjak dikenal oleh banyak orang, kami bisa menghabiskan di atas 500 butir per hari,” kata Adi sembari mengulek rujak.

Apa yang disampaikan Adi tentu bukan pepesan kosong, rujak itu memang disukai banyak orang. Bukan hanya dinikmati di warung sederhana itu, tapi banyak pula yang membelinya untuk dibawa pulang. Bahkan, ketika saya sedang memotret, ada yang pesan 20 bungkus.

“Sekali uleg 20 porsi, karena peminatnya banyak, maka tidak pernah saya uleg satuan,” kata Adi.

Saya melihat, kuliner ini digemari oleh lintas generasi, dari tua hingga muda, dari TNI sampai politisi. Dari Aceh hingga Jawa, bahkan, dari ABG lebay nan alay sampai santri, pun bersedia antri untuk sekedar mendapatkan satu porsi lincah u groh Indrapuri itu.

“Sensasi rasa asam segar dan pedas bercampur sempurna. Rasa kelat alami tempurung muda dan manisnya gula merah bercampur menjadi rasa mahakarya rujak yang spesial,” kata Fauzi, wartawan aceHTrend yang ikut bersama kami.