Peran Santri Terhadap Umat Dalam “Badai” Pilpres 2019

Oleh Mirza Ferdian*)

Tidak lama lagi kita akan memiliki nama capres-cawapres, dalam hitungan hari nama tersebut akan terdaftar di Komisi Pemilihan Umum RI dengan batas akhir pendaftaran pada 10 Agustus 2018. Suka atau tidak suka kita dihadapkan pada dua calon presiden yang hampir pasti akan membuat suasana politik menjadi panas, seperti pengalaman Pilpres tahun 2014 yang lalu. Di tahun 2019 ini dengan Capres yang sama namun Cawapres yang berbeda.

Hanya ada dua Pilihan bagi santri di Tahun 2019 dalam menghadapi Pemilihan Presiden yakni menjadi pendukung salah satu capres atau bersikap netral dalam perhelatan demokrasi yang berlangsung selama 5 tahun sekali ini.

Santri merupakan sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan agama Islam di pesantren atau dayah yang biasanya mondok hingga pendidikannya selesai. Pentingnya peran santri itu Karena dia mencakup hampir semua lapisan masyarakat, 3 keharusan yang dipunyai oleh seorang santri yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Semua ilmu tentang Iman, Islam dan Ihsan dipelajari di pasantren/dayah yaitu bagaimana menjadi seorang santri yang dapat beriman kepada Allah secara sungguh-sungguh, berpegang teguh kepada aturan islam, serta dapat berbuat ihsan (terbaik) kepada sesama.

Untuk itu peran santri dalam perhelatan pesta demokrasi 2019 sangat penting adanya, jika santri mendukung capres tertentu maka dia harus bisa menjelaskan kepada masyarakat alasan-alasan yang logis dan tidak memaksakan kehendaknya serta mengetahui pasti rekam jejak capres. Sikap santun harus menjadi tolak ukur dan pembeda bagi para santri dalam mengkampanyekan capresnya, baik mengkampanyekan dalam kehidupan sehari-hari maupun di dalam ruang-ruang media sosial yang seperti kita ketahui bersama bahwa selama ini di media sosial seringkali dipenuhi oleh ujaran kebencian yang berpotensi memecah belah bangsa, untuk itu santri memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keberagaman dan keberlangsungan bangsa dan negara.

Sikap santri juga akan mencerminkan kepada tradisi keilmuan yang didapat di pesantren/dayah, yakni sikap hormat kepada yang lebih tua dan sikap menghargai kepada yang lebih muda. Tutur kata yang lembut, pemikiran yang cerdas, gagasan yang konstrutif untuk membangun bangsa dan punya nilai integritas tinggi pada diri santri. Supaya masyarakat dapat melihat bahwa ada sesuatu yang ditampilkan lebih dari para santri. Ini juga sekalian mempromosikan wajah Islam yang rahamatan lil ‘alamin, khususnya dari dunia pesantren/dayah. Jika para santri dalam mengkampanyekan capresnya menggunakan cara-cara yang tidak lazim, maka efeknya juga sangat besar bagi ‘image’ santri itu sendiri. Sehingga cap jelek akan dialamatkan kepada santri, dan ini merugikan santri secara keseluruhan dan dunia pasantren/dayah pada khususnya.

Bagi para santri yang tidak memihak ke salah satu capres, maka peran yang diambil adalah berdiri tegak di tengah kedua belah pihak pendukung capres untuk membawa suasana sejuk dan dituntut mampu aktif, merespon, sekaligus mengikuti perkembangan masyarakat yang diaktualisasikan dalam bentuk sikap dan perilaku yang bijak. Para santri diharapkan mampu memberikan penjelasan secara terbuka (dakwah) kepada masyarakat akan suatu perubahan yang positif sesuai dengan yang diharapkan Islam. Kontribusi santri sangat penting hadir di tengah pendukung kedua belah pihak untuk menyampaikan walaupun berbeda pilihan capres tapi tetap harus menghargai satu sama lainnya. Menjunjung tinggi persaudaraan dan memupuk rasa persatuan dengan semangat kebersamaan kita bisa membawa bangsa ini lebih baik lagi ke depan.

*)Penulis adalah tenaga kontrak di Dinas Pendidikan Dayah Propinsi Aceh, koki kuah beulangong yang berkharisma, memiliki perhatian khusus pada kuliner khas Aceh Besar dan merupakan pribadi yang akrab dengan ragam kuliner “krlas berat” yang memacu naiknya kolesterol dalam darah.