De Atjehers: Dari Serambi Mekkah ke Serambi Kopi

Buku De Atjehers: Dari Serambi Mekkah ke Serambi Kopi

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – De Atjehers: Dari Serambi Mekkah ke Serambi Kopi. Demikianlah judul buku terbaru terbitan Padebooks yang diluncurkan dan dibedah di Aula Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry Banda Aceh pagi tadi, Rabu, 8 Agustus 2018.

Bedah buku ini menghadirkan Syarifuddin MA, Phd dan Danil Akbar Taqwadin sebagai pembedah. Buku ini ditulis secara keroyokan terdiri atas 24 judul yang terbagi menjadi tiga cakupan utama yaitu: Kuphi Itam dan Identitas, A Cup of Sanger: Kopi dan Budaya di Zaman Baru, serta Espresso-Yourself!: Kopinologi-masa depan kopi Aceh.

Syarifuddin atau akrab disapa Cek Din yang tak lain adalah pemilik jaringan kopi Solong mengapresiasi terbitnya buku ini. Buku ini kata dia menawarkan sesuatu yang inspiratif dan menggoda untuk dibaca. Namun jangan dimaknai secara salah karena bisa menyebabkan pergeseran makna di luar dari konteks tulisan yang terdapat dalam buku ini.

“Judulnya simpel, historikal, dan aktual,” kata Cek Din memuji buku tersebut.

Kopi kata Cek Din, bukan hanya simbol energi yang memantik semangat dalam beraktivitas tetapi juga simbol kebersamaan orang Aceh. Begitu juga warung kopi, yang menjadi tempat untuk mencairkan segala suasana.

Kedai kopi tak lagi dianggap sebagai ruang ekslusif tetapi telah bermetamorfosis menjadi ruang publik yang sarat dengan interaksi inovasi, bahkan dalam menemukan visi hidup.

“Kalau masih ada yang menyebut warung kopi sebagai tempat orang malas, itu persepsi yang kurang tepat. Kedai kopi adalah sekolah inovasi kawula muda. Dulu kedai kopi mungkin hanya tempat untuk membaca koran, tetapi sekarang tidak lagi. Sudah jadi tempat berdiskusi. Jadi jangan dikatakan orang Aceh itu beuo atau malas,” katanya.

Sementara Danil Akbar Taqwadin sebagai salah satu penikmat kopi menilai, banyak inovasi-inovasi yang ditawarkan dalam buku ini.

“Bahkan ada tulisan yang selevel tesis dan disertasi di dalam buku ini,” katanya.

Danil mengatakan, sudah sepatutnya Aceh memiliki Fakultas Food and Beverege karena kekayaan citarasa dan keragaman kulinernya, termasuk kopinya yang khas.

Dalam diskusi ini juga mengemuka bahwa kedai kopi kini bukan lagi ‘milik’ kaum lelaki melainkan juga milik kaum perempuan.[]

KOMENTAR FACEBOOK