Menyaksikan Warna-warni Aceh di Pekan Kebudayaan

Jasmani sedang menunjukkan keahliannya dalam menenun songket Aceh kepada pengunjung. @Ihan Nurdin/aceHTrend

INI keempat kalinya saya menyaksikan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA). Bagi saya event empat tahunan ini merupakan kesempatan untuk melihat betapa kayanya Aceh. Budayanya. Kulinernya. Keseniannya. Bahasanya. Ada suku Aceh, Gayo, Alas, Singkil, Aneuk Jame, Kluet, Tamiang, dan lainnya. Ketika semua sumber daya alam kita habis. Itulah yang tersisa. Tentunya bila semua kekayaan itu bisa kita jaga dengan baik.

Rinai hujan membersamai saya menuju arena utama PKA di Kompleks Taman Sultanah Safiatuddin (Tasulsa) di Gampong Bandar Baru, Banda Aceh pada Kamis, 9 Agustus 2018. Kompleks ini hanya berjarak selemparan batu dari Masjid Agung Al-Makmur atau Masjid Oman dan kantor Gubernur Aceh di Jalan Teuku Nyak Arif. Malah ada jembatan yang menghubungkan antara kompleks ini dengan kantor Gubernur Aceh yang disebut Kutaraja Bridge.

Berkunjung di siang hari jauh lebih nyaman. Bebas dari kemacetan dan membeludaknya para pengunjung. Walaupun, saya sempat terganggu dengan akses jalan menuju arena PKA yang telah dipenuhi lapak-lapak pedagang. Padahal, sudah ada area Pasar Rakyat yang disediakan khusus untuk pedagang.

PKA merupakan hajatan kebudayaan terbesar di Aceh. Enam puluh tahun silam, tepatnya pada 1958, PKA pertama kali digelar. Misinya mengembalikan ruh dan spirit orang Aceh yang ketika itu baru saja terlepas dari pusaran konflik Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Buah dari PKA I ini menurut Anggota Tim Ahli PKA VII, Prof. Darwis Soelaiman, masih bisa kita saksikan sampai sekarang yaitu terbentuknya Kota Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam.

Kopelma ini menjadi simbol atas keistimewaan yang diberikan Pemerintah Pusat untuk Aceh dalam bidang agama, pendidikan, dan budaya. “Pada PKA I kita ingin membangun Aceh keluar dari masalah setelah konflik,” kata Prof. Darwis dalam pertemuan ke-49 Forum Aceh Menulis bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh yang bertema “PKA dari Masa ke Masa dan Apa Manfaatnya bagi Masyarakat Aceh?” di Aula Museum Negeri Aceh, Rabu, 15 Juli 2018 lalu.

Belasan tahun berlalu, PKA II baru digelar pada 1972. Selanjutnya pada 1988, 2004, 2009, 2013, dan 2018 yang dihelat selama sepuluh hari sejak 5-15 Agustus 2018. Sejak 2004 PKA mulai dibuat di Kompleks Tasulsa yang sebelumnya bernama Taman Ratu Safiatuddin.

Kompleks ini dibangun pada masa Gubernur Abdullah Puteh di area seluas sekitar 10 hektare. Idenya berasal dari Marlinda, istri Abdullah Puteh, yang menginginkan adanya taman yang bisa disebut sebagai taman mininya Aceh, layaknya Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta. Gagasan dari mendiang Tien Soeharto.

+++

Dapur tradisional orang Aceh @Ihan Nurdin/aceHTrend

Tur ‘mengelilingi’ Aceh hari itu saya awali dengan singgah ke Anjungan Aceh Besar di sisi kiri gerbang utama. Gerbang yang sebelumnya sempat menjadi buah bibir warganet gara-gara kesalahan kalimat tauhid yang terdapat di sana. Syukurnya kesalahan fatal itu cepat ditangani. Barangkali kejadian ini akan menjadi sesuatu yang melekat di ingatan kita hingga PKA berikutnya.

Jam digital di smartphone saya belum melewati angka pukul sebelas. Mata saya menangkap banyak sekali manusia di kompleks tersebut. Namun tetap leluasa bergerak. Di bawah anjungan, terlihat banyak pengunjung remaja berseragam sekolah. Keberadaan dua alat tenun tradisional (teupeun) berhasil menarik pengunjung. Salah satunya milik Jasmani, pengrajin tenun Aceh dari Gampong Miruek Taman, Darussalam, Aceh Besar. Satunya lagi milik pengrajin dari Gampong Siem, Aceh Besar.

Mendengar nama Gampong Siem, saya langsung teringat pada Maryamu atau Nyak Mu. Nama yang sosoknya tidak pernah saya lihat itu berhasil menjadikan Siem sebagai sentra kerajinan tenun songket Aceh. Tangan dinginnya membuat songket Aceh dikenal ke mana-mana. Motifnya beragam. Nyak Mu yang buta huruf itu mampu mengkreasikan setidaknya hingga 50 motif songket. Namun seiring dengan perginya Nyak Mu menghadap Pemilik Semesta kejayaan tenun Aceh seolah ikut redup.

Rumoh teupeun yang ada di sebidang tanah milik Nyak Mu terbengkalai. Anaknya, Dahlia, sebisa mungkin tetap menekuni profesi yang pernah dilakoni oleh almarhumah ibunya. Beberapa murid Nyak Mu juga tetap setia menjalani profesi sebagai penenun. Salah satunya adalah Jasmani, yang hari itu menunjukkan keahliannya pada setiap pengunjung di Anjungan Aceh Besar.

Di pojok lain, saya melihat seorang pria paruh baya begitu semangat menjelaskan beberapa buah-buahan lokal yang mulai langka. Ada buah lontar, janeng, buah batok, hingga eumpueng miriek alias sarang burung dipamerkan di hadapannya.

Nyoe boh keupila (ini ketela),” ujar pria itu menunjukkan sebuah ketela ungu pada pengunjung. “ampuh untuk mengusir tikus. Caranya rebus dengan air kelapa lalu letakkan di tempat-tempat yang biasa dilalui tikus. Nanti tikusnya akan kehilangan selera makan, lama-lama bakal mati…” ujarnya.

“Kalau dimakan manusia bisa hilang juga selara makannya?” seorang pengunjung berceletuk.

Pria itu tertawa. “Kalau pada manusia tidak berpengaruh, tidak bisa untuk diet,” katanya. Kami tertawa. Padahal baru saja terlintas di pikiran saya untuk menambah menu tersebut di daftar konsumsi harian.

Saya lantas naik ke anjungan. Seperangkat pelaminan besar berada di ruang utama anjungan. Namun saya lebih tertarik untuk melihat ke bagian dapur. Di sini saya mencuri kesempatan untuk bernostalgia ke masa lalu. Seperangkat rak piring dan dapur kayunya, sama dengan yang dulu ada di rumah kami. Di atas meja kecil yang rapat ke dinding, terdapat aneka hidangan khas Aceh Besar yang ditaruh dalam wadah tembikar. Ada sie reuboh, kuah pliek u, keumamah tumeh, dan apam atau serabi yang terbuat dari tepung beras.

Pelaminan Gayo Lues yang dominan berwarna hitam dan kuning emas @Ihan Nurdin/aceHTrend

Meninggalkan Anjungan Aceh Besar, saya singgah ke Anjungan Aceh Selatan yang ada di sebelahnya. Sejumput kekayaan Aceh berasal dari daerah yang ada di wilayah pantai barat selatan Aceh ini. Setidaknya tiga suku besar di Aceh mendiami wilayah ini yaitu suku Aneuk Jamee, Kluet, dan Aceh. Salah satunya bisa dilihat dari keberadaan dua pelaminan khas suku Kluet yang dipajang di anjungan. Satu pelaminan tradisional, satunya lagi pelaminan yang sudah dimodifikasi.

Warna kuning emas mendominasi kedua pelaminan itu. Kontras dengan pelaminan khas Gayo Lues yang lebih sederhana dengan motif horizontal perpaduan warna hitam dan kuning emas. Pun dengan pelaminan khas Simeulue yang didominasi warna merah muda dengan ornamen manik-manik bertatahkan tiga kubah emas di atasnya.

Di Anjungan Aceh Tamiang yang berbalut warna hijau dan kuning cerah, saya sempat menyaksikan demonstrasi prosesi lamaran yang biasa dilakukan masyarakat Melayu Tamiang. Mayoritas suku yang mendiami wilayah paling timur Provinsi Aceh itu. Berbatasan dengan Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Para penjaga stan di anjungan ini, khususnya yang laki-laki, memakai baju teluk belanga aneka warna. Khas pakaian Melayu dengan balutan kain songket di pinggang.

Demonstrasi prosesi lamaran masyarakat Melayu Taming di Anjungan Aceh Tamiang @Ihan Nurdin/aceHTrend

Saya juga melihat meriam Lada Sicupak yang dipamerkan di Anjungan Aceh Timur. Meriam dari Turki ini memiliki nilai sejarah tinggi sebagai simbol hubungan baik antara Kerajaan Aceh Darussalam dengan Turki Usmani di masa lalu.

Dalam artikel yang diterbitkan majalah Sicupak edisi I, kehadiran meriam Lada Sicupak ke Aceh berawal ketika Sultan Aceh mengirimkan utusannya ke Istanbul yang saat itu masih bernama Konstantinopel pada tahun 1565. Utusan tersebut membawa rempah-rempah khas Aceh termasuk lada atau merica. Namun karena situasi perang yang terjadi saat itu, utusan dari Aceh tidak bisa bertemu dengan Sultan Turki Usmani.

Untuk bertahan hidup mereka terpaksa menjual sedikit demi sedikit rempah-rempah yang semula ingin dihadiahkan kepada Sultan Turki Usmani. Pada akhirnya, ketika utusan ini bertemu dengan Sultan hanya tersisa segenggam atau secupak lada bersama mereka. Lada tersebut tetap diberikan kepada Sultan Turki Usmani yang telah dijabat oleh Selim II. Pihak Turki kemudian menghadiahkan Aceh dengan meriam, yang diberi nama Lada Sicupak untuk mengenang peristiwa bersejarah itu. Meriam itu sehari-hari berada di kampung di kawasan Kuala Beukah, Pereulak, Aceh Timur.

+++

Meriam Lada Sicupak di Anjungan Aceh Timur @Ihan Nurdin/aceHTrend

Langit mendung ditambah rintik-rintik hujan yang tak ada tanda-tanda akan berhenti membuat saya semakin asyik berkeliling. Saya berkunjung dari satu anjungan ke anjungan lain. Setiap anjungan menyajikan warna-warni Aceh yang berbeda. Semakin meneguhkan saya betapa kayanya Aceh. Telinga saya menangkap kolase suara yang berasal dari organ tunggal di beberapa anjungan sekaligus. Berisik tapi semarak.

Mengakhiri tur saya berkeliling Aceh hari itu, saya mampir ke Anjungan Bener Meriah. Kabupaten yang berjuluk Negeri Antara ini dikenal sebagai daerah penghasil kopi Arabika terbaik. “Kami menyediakan kopi gratis untuk pengunjung, tapi sekarang yang gratisnya sudah habis,” kata Risdian sembari tertawa, tim kreatif Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda) Bener Meriah yang bertugas sebagai panitia di anjungan tersebut.

Aneka pernak-pernik tradisional Gayo dipamerkan di sini seperti lesung (tutu), tampah (santonen), alat bajak sawah tradisional (nengel), hingga bubu ada di sana. Di anjungan ini juga tersedia kain upuh ulen-ulen khas Bener Meriah yang berhiaskan motif kerawang Gayo yang sarat makna. Warna dasarnya hitam, melambangkan warna tanah yang bermakna manusia tercipta dari tanah, hidup di atas tanah, dan akan kembali ke tanah. Sedangkan warna putih menyimbolkan cahaya bulan purnama yang menyiratkan optimisme. Orang-orang penting yang datang ke Bener Meriah biasanya disambut dengan kain ini, dilakukan dengan cara menyampirkan ke punggung tamu tersebut. Bentuk penghormatan orang Gayo kepada tamunya.

Bagi pengunjung yang ingin mengenakan kain ini harus mengeluarkan kocek Rp10 ribu. Bukan harga yang mahal untuk mengabadikan sebuah momen budaya seperti itu.

Di sudut lain, saya melihat seorang pria muda membidikkan kameranya kepada seorang perempuan bersama putri kecilnya. Mereka adalah sepasang suami istri dari Lampeudaya, Aceh Besar. Datang untuk mengabadikan event empat tahunan itu, sekaligus mengabadikan sekeping kebahagiaan untuk keluarga kecil mereka. “Bisa tolong fotokan kami?” pinta pria tersebut. Saya menjawab dengan tergagap. Tak menduga mendapat todongan itu.

Dari balik lensa kamera saya menangkap kebahagiaan yang tak bisa mereka sembunyikan. Kebahagiaan yang perlahan-lahan menyusup dalam sanubari saya. Kebahagiaan yang tak bisa saya sembunyikan karena bisa menyaksikan warna-warni Aceh dalam balutan pekan kebudayaan. Saya merasa beruntung sudah empat kali tak pernah absen menyaksikannya.[]