Anjungan Kota Langsa Pamerkan Lebih 300 Benda Sejarah

Bon kontan yang dipamerkan di Anjungan Kota Langsa

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII tinggal tiga hari lagi. Bagi Anda yang berdomisili di Banda Aceh dan sekitarnya jangan lewatkan kesempatan empat tahun sekali ini untuk melihat berbagai hal tentang Aceh yang dipamerkan di Taman Sultanah Safiatuddin.

Salah satu yang bisa Anda kunjungi adalah Anjungan Kota Langsa. Di sini kita bisa mempelajari sejarah panjang perjalanan Kota Langsa. Kota ini berawal dari masa Kerajaan Aceh, pada masa Ulee Balang, kolonial Belanda, hingga pada masa pendudukan Jepang dan merebut kemerdekaan.

Selain kekayaan sejarahnya, Kota Langsa juga memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Kota persinggahan ini sangat multikultur yang tercermin pada bentuk anjungannya yang bergaya Eropa dengan warna dominan kuning dan biru.

Penjangan Anjungan Kota Langsa, Teuku Iman, mengatakan di anjungan ini terdapat sejumlah koleksi yang dipamerkan. Misalnya benda-benda budaya yang yang dibeli dari dana pemerintah dan hibah dari masyarakat. Benda-benda ini berasal dari peninggalan masa kerajaan dan peninggalan masa penjajahan.

“Di Anjugan Kota Langsa terdapat benda-benda koleksi yang digunakan untuk upacara adat sampai ke peralatan rumah tangga pada masa lalu. Koleksinya pun memiliki beberapa kategori,” kata Teuku Iman kepada aceHTrend, Sabtu, 11 Agustus 2018.

Di antara kategori tersebut yaitu Biologika, terdiri atas fosil lumba-lumba yang ditemukan di Desa Telaga Tujuh, Kota Langsa pada 2013 lalu dan jamur linci.

Selanjutnya Historika, terdiri atas koleksi senapan Aceh yang berasal dari abad ke-20 dan terbuat dari tembaga, pistol VOC, senapan VOC, pedang marsose, pedang on jok Aceh dari abad ke-18. Selain itu juga masih banyak senjata lain yang dipamerkan di sini.

Etnografik terdiri atas peralatan rumah tangga yang terbuat dari kayu, besi, tanah liat, tembikar, logam, keramik seperti wadah tempat air, tempat makanan, tempat menaruh pakaian, perhiasan dan lainnya.

Filologika terdiri dari beberapa naskah kuno seperti kitab bahasa Aceh, naskah salin Al-quran tulis tangan, dan kitab fiqah yang ditemukan pada abad ke-17.

Nurismatika terdiri dari mata uang kuno seperti koin Hindia Belanda, uang kertas Indonesia, bon kontan, koin kuno, uang keh Aceh yang ditemukan pada abad ke-20 dan didapatkan di beberapa daerah di Kota Langsa.

Selain itu juga ada koleksi beberapa peningalan Ulee Balang seperti lemari berukir, peti ukiran yang sudah berusia beratus tahun, anyaman duduk, pedang, guci berbagai ukuran dan masih banyak lagi.

“Dibandingkan anjungan lainnya cuma Anjungan Kota Langsa yang memamerkan kurang lebih 300 ratus benda bersejarah, dari peningalan penjajahan hingga peningalan kerajaan,” ucap Teuku Iman.[]

Wartawan: Siti Sandia
Editor : Ihan Nurdin