Cot Panglima, “Monumen” Cinta yang “Ternoda”

1902 jalur Bireuen-Takengon atau lebih dikenal dengan jalan Gayo mulai dirintis oleh Gubernur Militer Belanda yang menduduki Aceh, Van Heutsz yang bermarkas di Kutaraja. Tiba di km 29 para budak harus memahat bukit batu yang sangat keras. Kelak kawasan itu disebut Cot Panglima.

Bagi remaja atau kawula muda akhir 80-an hingga 90-an, Cot Panglima yang berada di Kecamatan Juli, Bireuen, merupakan salah satu spot wisata yang memiliki pamor cukup mentereng. Bagi kalangan tua, tempat itu merupakan petilasan maksiat yang dibekengi pihak tertentu. Tidak pernah ada gerakan massa yang bisa mengusik pasangan mesum yang datang ke sana untuk saling mengintip bentuk kelamin masing-masing.

“Saya dulu mendengar cerita tentang Cot Panglima dari tetangga yang kala itu masih remaja. Ia bercerita mengunjungi tempat itu bersama pacarnya,” kata Dewi, yang ditemui aceHTrend, Minggu (12/8/2018) di objek wisata singgahan itu.

Cerita tentang kemesuman tempat itu bukan sekedar cerita. Dari kisah-kisah yang disampaikan oleh para “alumni” bahwa tempat paling aman untuk “saling berbagi” dengan kekasih yang masih non muhrim, mereka hanya perlu membayar harga minuman dan snack di atas normal, sudah cukup sebagai tiket masuk ke dalam rerimbunan rimba yang berada di pinggang bukit nan terjal.

“Dulu kawasan itu hutan lebat, sepanjang jalur dipenuhi pepohonan raksasa, monyet dan burung sangat banyak. Tapi bagi pasangan yang datang ke sana tentu bukan untuk melihat keindahan alam, mereka hendak mengintip “keindahan” lainnya,” ujar seorang lelaki paruh baya kepada aceHTrend, beberapa waktu lalu. Ia mengaku pernah beberapa kali berkunjung ke sana, dengan pacar yang berbeda.

“Kalau untuk wisata tentu tempat itu kurang cocok, karena viewnya hanya bisa ditatap dari puncak yang telah diberi bangunan peneduh yang kecil. Udara kala itu masih sangat dingin. Pasangan yang sedang dimabuk asmara tentu tidak berleha di bangunan itu. Mereka memasuki “ruangan” alam yang berkanopy dari atap pepohonan. Tidak ada yang saling peduli, semua sibuk dengan aktivitas masing-masing, bila pun berpapasan mata dengan teman sekampung, yang saling memahami saja,” ujar D (50) yang kini telah memiliki lima orang cucu, warga Bireuen.

Saiful (33) warga Teupin Mane, Juli, Bireuen,yang kala itu masih SD, mengingat dengan jelas bahwa setiap hari Minggu dan hari libur lainnya, pasangan dari pesisir banyak yang melintas berpasang-pasangan dengan sepeda motor.

Bocah-bocah Teupin Mane kala itu sudah sangat paham bila pasangan itu bukan lelaki dan perempuan yang diikat tali pernikahan. Tak jarang para bocah kala itu melakukan serangan dengan senapan plastik dan ketapel biji teumeureu.

“Saya juga ingat bila setiap hari libur Polantas dari Polsek Bireuen juga aktif “berdinas” di tikungan km 13, mereka menunggu mangsa yang sedang kasmaran. Itu sekutar tahun 1992 ke atas,” kenang Saiful yang kini telah memiliki dua orang anak.

***
Kemesuman Cot Panglima berakhir ketika Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang kala itu lebih dikenal dengan nama AM. Eskalasi konflik yang kian meningkat serta razia penegakan syariat Islam ala GAM kala itu membuat para pelaku mesum ciut nyalinya. Tak terkecuali para bandit lokal yang dibekengi pihak tertentu. Mereka memilih tiarap ketimbang harus berurusan dengan AM yang semakin mendapat tempat di hati rakyat.

Ketika itu, “keperawanan” Cot Panglima pun musnah pelan-pelan. Belantara yang sebelumnya tumbuh lebat, kemudian ditebang secara massif oleh warga dan mafia kayu. Dengan argumen bahwa hutan adalah milik Tuhan, dan sudah cukup Indonesia-Jawa menjajah Aceh, rakyat benar-benar mengamuk. Era tahun 2000 ke atas, pembalakan hutan benar-benar tidak terkendali.

Beberapa pentolan gerilyawan, toke-toke kecil lainnya, menjadi cukong lapangan, oknum aparat keamanan menjadi agen lebih besar di kota-kota. Cot Panglima dengan segenap misterinya pun hilang tak bersisa.

Ketika segenap operasi militer diterapkan di Aceh, sampai dengan pelaksanaan Darurat Militer, Cot Panglima menjadi salah satu pos TNI yang memiliki reputasi lumayan menyeramkan. Jangan tanya soal betapa mesumnya tempat itu ketika di bawah kendali tentara BKO, tapi tidak ada yang berani berteriak melawan.

***
Cot Panglima merupakan salah satu spot wisata yang sangat dikenal di Bireuen. Terletak di km 29, spot ini menawarkan pemandangan yang aduhai. Akan tetapi, kini Cot Panglima ibarat dara cantik yang terkena koreng di muka.

Gazebo kecil di puncak tidak aman, sebagian pagar besinya sudah patah. Selain itu sampah plastik bertebaran di sekitar pinggangnya. Gubuk-gubuk liar yang dibangun di kaki bukit semakin membuat tempat itu kumuh.

Di tiang-tiang gazebo penuh coretan anak metal millenial dan pasangan remaja yang sedang dilamun asmara kelas monyet. Nama mereka ditoreh di dinding dengan huruf kapital dan huruf kecil, dicoret dengan tip X dan spidol. Mulai dari nama, harapan dan pesan serta kata-kata mutiara ala anak motor kelas kampung yang tak paham arti kelestarian lingkungan. []