“Aceh Harusnya Jadi Gerbang Masuk dan Keluar Jalur Tol Laut”

Rancangan arsitektur tol laut Indonesia

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Secara geografis Aceh dinilai berpotensi besar karena memiliki wilayah laut yang luas. Namun sangat disayangkan Aceh justru tidak masuk dalam rancangan pengembangan kelautan yang disebut dengan istilah tol laut oleh pemerintah.

Hal itu disampaikan Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala, Prof. Mukhlisin, dalam Seminar Internasional Kebudayaan dan Kemaritiman Pekan Kebudayaan Aceh VII di Anjong Mon Mata Banda Aceh, Senin, 13 Agustus 2018.

“Ini kita melihat ada beberapa, sayangnya kalau kita lihat di Aceh tidak ada yang terhubung dengan pelabuhan lain, berdiri sendiri. Artinya dalam wacana ini Aceh tidak diperhitungkan. Aceh tidak jadi prioritas. yang ada di Sumatera Utara hingga ke timur Indonesia,” kata Prof. Muhklisin sambil menunjukkan peta jalur tol laut yang dibuat pemerintah dalam pemaparannya.

Seharusnya kata dia, Aceh menjadi pintu gerbang masuk dan keluar dari jalur tol laut ini, bukannya Sumatera utara. Secara global kata dia lagi, posisi Aceh berada di tengah-tengah. Akses ke India maupun Malaysia lebih dekat dari Aceh dibandingkan dari Jawa.

“Jadi salah kalau misalnya Jawa jadi pusat poros perkembangan maritim. Kita (Aceh) ke India dekat, ke Malaysia apalagi, ke Cina dan Arab. Jadi kita dari segi ekonomi akan sangat menguntungkan kalau pelabuhan samudra ini dikembangkan di Aceh, bukan di Sumut apalagi di Jawa. Tapi ini masalah politik lain lagi ceritanya,” katanya.

Berbicara potensi kemaritiman kata dia, laut memiliki banyak potensi. Mulai dari air laut itu sendiri yang bisa diolah menjadi garam. Lagi-lagi kata Prof. Mukhlisin, sangat disayangkan Indonesia masih mengimpor garam sampai sekarang. Belum lagi yang diekstras sebagai NaCl dan Mg hingga nodul, yaitu endapan logam di dasar laut yang menjadi bahan industri untuk kapal terbang yang belum dieksplorasi.

“Belum lagi potensi arus dan gelombang laut termasuk angin. Kalau di negara maju dengan kondisi angin seperti sekarang ini mereka senang, pada saat inilah memanen angin menjadi energi. Tapi kalau di kita minta jangan lama-lama anginnya,” ujarnya.

Itu belum termasuk potensi hayati yang juga sangat kaya. Namun kata Prof. Mukhlisin, wilayah maritim ini juga memiliki dilema seperti terkait dengan isu pertahanan dan keamanan. Contohnya saling klaim Laut Cina Selatan antara Indonesia dengan Cina sehingga wilayah yang masuk ke perairan Indonesia namanya diganti menjadi Laut Natuna Utara.

“Masalah lainnya adalah kesenjangan ekonomi dan infrastruktur. Artinya potensi yang tadi luar biasa tapi masyarakat yang pesisir berada di bawah garis kemiskinan. Di tingkat nasional terdapat 32 masyarakat pesisir berada di garis kemiskinan, di Aceh ada 52% masyarakat pesisir yang berada di bawah garis kemiskinan. Aceh berada paling tinggi di Sumatera.”[]

KOMENTAR FACEBOOK