Dalam Lift: No Smoking!

Oleh Munawar Liza Zainal*)

Kebiasaan merokok dan membuang buntungnya sembarangan bukan hanya terjadi di sini saja, tetapi juga di mana-mana orang kita tinggal, kebiasaan buruk ini sering terbawa.

Dalam perjalanan ke USA sekitar tahun 2003, sebuah keluarga sempat ditahan lama di bandara LAX, Los Angeles. Gara-gara perjalanan panjang dari Narita Jepang, sang ayah masuk ke toilet pesawat dan membakar Djisamsoe. Baru dua tiga kali tarikan, alarm menyala. Untung bahasa Tarzan menyelamatkan mereka saat dijemput security bandara dan TSA (Transportation Security Administration) sesaat setelah landing.

Tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali, menyelamatkan keluarga itu dari proses hukum. Saat dicarikan penterjemah seorang Cina Malaysia, kepadanya mereka mengaku tidak tahu ada larangan merokok di dalam pesawat.

Pernah juga saya hampir jantungan. Dalam penerbangan dari Stockholm ke Kuala Lumpur, saat transit di sebuah negara, kawan seperjalanan tiba-tiba berlari kencang seperti dikejar hantu. Saya ikut berlari, sambil kebingungan. Ada apa gerangan. Rupanya, kawan itu berlari menuju sebuah smoking room, hanya untuk bisa segera menyulut rokok. Luar biasa.

Kisah lain lagi, bulan Agustus 2005, kawasan Alby di Stockholm banyak menerima tamu. Anggota tim perunding, plus tamu-tamu dari berbagai negara, juga dari Aceh dan Malaysia.

Seusai rapat di sebuah apartemen di lantai atas, kami turun pakai lift. Salah seorang Tengku utusan dari Malaysia masih memegang rokok Djisamsoe. Saya ingatkan agar jangan merokok di dalam lift. Rokok tidak dimatikan, cuman dibekap pakai tangan. Memang tidak diisapnya. Sesampai ke bawah, dilanjutkan menghisap. Tetap saja dalam lift mengeluarkan asap.

Besok hari, ada tulisan atas kertas di dinding lift pakai spidol, “No Smoking Please”.

Hari kedua, saat masuk lift, Tengku itu mematikan rokok di dinding agar tidak berasap di dalam. Ada bekas hitam tertinggal di dinding.

Besoknya, tulisan lain terlihat di dinding lift, “tolong jangan merokok dan jangan matikan rokok di dinding. Seumur hidup, tidak pernah kami melihat ada orang merokok atau mematikan rokok dalam lift. Kalau masih terjadi, kami akan lapor polisi”.

Sejak membaca tulisan itu, barulah Tengku itu menyimpan rokok saat keluar dari rumah. Tidak lagi membiarkan menyala di luar rumah.

Saya juga pernah punya cerita dengan Gubernur non-aktif, Irwandi Yusuf menyangkut puntung rokok ini.

Kami biasa merokok ramai-ramai di balkon. Di sana ada jemuran pakaian dan bunga-bunga dalam pot. Ada beberapa asbak tempat membuang abu rokok. Tengku yang tadi tidak sengaja sering mematikan rokok dalam pot bunga. Beberapa pot bunga penuh dengan puntung rokok.

Suatu hari, saya tinggal berdua dengan Irwandi. Kami merokok ke balkon. Baru sekali dua kali tarikan, sang empunya rumah terlihat datang menjemur pakaian di balkon. Saat itu saya langsung berseru sambil pura-pura tidak melihat yang punya rumah, “aduh bang, jangan lah buang puntung rokok ke dalam pot bunga sembarangan”. Irwandi kebingungan, sebab memang belum sempat membuang puntung rokok yang baru diisapnya itu.

Yang empunya rumah diam-diam melirik, mukanya memerah sebab pot bunganya penuh dengan puntung rokok. Dia pasti mengira, Irwandi yang membuangnya ke dalam pot.

Setelah beberapa lama, saya kembali ke tempat saya tinggal sambil tertawa, Irwandi pasti kena batunya kali ini.

Malam harinya, saya mendapat telpon, “ke sini, penting. Ini tuan rumah sudah dari pagi tidak bicara-bicara sama saya”. Saya tertawa mendengarnya. Pasti saya disuruh ke sana karena candaan tadi.

Sesampai di sana, saat mengetuk pintu, dibuka oleh tuan rumah. Setelah masuk dan duduk, sambil minum teh saya membuka cerita, bahwa tadi cuman bercanda, “bukan bang Wandi yang buang puntung rokok itu. Tapi Tengku itu”, kata saya sambil menyebutkan sebuah nama.

Akhirnya kami serumah tertawa. Saya dengan sukarela membersihkan semua puntung rokok yang ada di dalam pot bunga di balkon rumah itu, biar yang empu rumah senang.

“Sep paloe, meunyoe hana ka peutrang masalah nyan, jadeh lon hana ditaguen bu malam nyoe”, kata Irwandi. Gawat, kalau tidak diklir-kan masalah itu, alamat saya tidak dimasak nasi malam ini, kata Irwandi.

Setelah beberapa saat di Stockholm, Irwandi ditugaskan untuk pulang ke Aceh, memimpin perwakilan GAM pada Aceh Monitoring Mission (AMM), guna menjalankan kesepahaman (MoU) yang ditandatangani oleh GAM dan RI di Helsinki.


*)Penulis adalah anggota GAM, bagian support team saat perundingan di Helsinki, mantan Walikota Sabang, penikmat kuliner Aceh, khususnya yang bercita rasa tinggi dan mengandung kolesterol kelas berat seperti kepiting, lobster, dll.

Foto dikutip dari Tribunnews.

KOMENTAR FACEBOOK