Lima Tantangan Menjadikan Indonesia Poros Maritim Dunia

Peta Indonesia

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Dosen Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Semarang, Prof. Singih Tri Sulistiyono mengatakan, masyarakat Indonesia perlu mengambil pelajaran dari sejarah kemaritiman Indonesia agar cita-cita menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia seperti yang digagas Presiden Jokowi bisa terwujud.

“Mengambil pelajaran dan hikmah sejarah ini perlu saya kira, sebab kita nggak hanya perlu belajar sejarah tapi juga perlu belajar dari sejarah. Bahkan dalam Islam pun kita didorong untuk belajar dari sejarah,” katanya dalam Seminar Kebudayaan dan Kemaritiman Pekan Kebudayaan Aceh VII di Anjong Mon Mata Banda Aceh, Senin, 14 Agustus 2018.

Mengulang kembali pidato Presiden Jokowi yang pernah disampaikan dalam sebuah forum internasional, Prof. Singih menjelaskan, ada lima pilar yang perlu dilakukan jika Indonesia ingin menjadi poros maritim dunia.

Pertama, membangun kembali budaya maritim yang selama masa kolonial mengalami stagnasi bahkan kemunduran karena dominasi kolonial. Kedua, menjaga sumber daya alam laut dalam rangka menciptakan kedaulatan pangan dengan menempatkan nelayan pada pilar utama.

“Ketiga memberi prioritas pada pembangunan infrastruktur dan konektivitas maritim dengan membangun tol laut, deep seaport, logistik, industri perkapalan, dan pariwisata maritim.”

Berikutnya, Indonesia harus menerapkan diplomasi maritim melalui usulan peningkatan kerja sama di bidang maritim dan upaya menangani sumber konflik, seperti pencurian ikan, pelanggaran kedaulatan, sengketa wilayah, perompakan, dan pencemaran laut dengan penekanan bahwa laut harus menyatukan berbagai bangsa dan negara dan bukan memisahkan.

Terakhir, membangun kekuatan maritim sebagai bentuk tanggung jawab menjaga keselamatan pelayaran dan keamanan maritim. “Kelima pilar inilah yang mampu mengantarkan Indonesia sebagai poros maritim dunia,” ujarnya.

Niat membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia kata dia merupakan obsesi untuk mengulang zaman keemasan maritim Indonesia di masa lampau.

Di sisi lain kata dia, Indonesia ini sudah ‘ditakdirkan’ sebagai bangsa maritim. Bila dilihat dari fakta geografis dan historisnya, menunjukkan hampir sepanjang sejarahnya komunitas yang menempati pulau-pulau di Nusantara ini kehidupannya tak bisa dipisahkan dari aspek kelautan.

“80 Persen wilayah Indonesia adalah laut. Jika kita melihat dalam konteks yang lebih tua, letak Indonesia juga sangat strategis dan jadi kawasan kepulauan terbesar di dunia. Indonesia memiliki pantai tropis terpanjang di dunia. Jadi ini sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa,” katanya.

Di dukung dengan sistem angin lautnya telah memungkinkan terjadinya mobulitas manusia untuk kepentingan sosial, budaya, politik, maupun ekonomi. Tidak mengherankan bila sejak zaman purba kawasan ini menjadi sasaran migrasi berbagai ras maupun kelompok etnik. Ini menjadi bukti sejak awal para aktor sejarah Indonesia telah menampilkan kecanggihan mereka dalam mengarungi samudera.

Selain Prof. Singih, diskusi ini juga menghadirkan dua narasumber lain yaitu Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan Unsyiah Prof. Mukhlisin dan dosen Fakultas Hukum Unsyiah Dr. Sulaiman Umar. Dalam kesempatan itu Prof. Mukhlisin memaparkan topik terkait potensi ekonomi kemaritiman Aceh, sedangkan Dr. Sulaiman Umar memaparkan topik tentang aktualisasi hak-hak masyarakat pesisir.[]

KOMENTAR FACEBOOK