Misri A Muchsin: Kearifan Lokal Perlu Dilestarikan

*Dari Seminar Kebudayaan
dan Kemaritiman

ACEHTREND.COM, Banda Aceh–”Saat ini di Aceh, ada sepuluh etnis yang berkembang. Kesepuluh etnis itu, tersebar di 23 kabupaten/kota di Aceh.”

Hal ini diungkapkan Dr Misri A Muchsin dalam Seminar Internasional Kebudayaan dan Kemaritiman hari kedua, Selasa (14/8/2018) di Gedung ACC Sultan II Selim, Banda Aceh.

Etnis-etnis tadi, sebut Misri, adalah Aceh, Gayo, Alas, Tamiang, Simelue, Aneuk Jame, Kluet, dan Singkil. Termasuk Etnis Depayan di Semeulue dan Haloban di Pulau Banyak.

Khusus di Aceh Selatan, ada tiga etnis. Ada Etnis Aceh, Etnis Aneuk Jame, dan Etnis Kluet. Ketiga etnis itu terus berkembang dan menyebar.

Menariknya, kata Misri, ketiga etnis tersebut sepanjang sejarah, tidak pernah terjadi konflik antar etnis.

“Mereka hidup dengan penuh toleransi, rukun, dan damai. Diliputi rasa kekeluargaan yang tinggi,” tutur Misri A Muchsin guru besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Khusus Etnis Kluet, tambah Misri, sebagaimana etnis lainnya, memiliki kearifan lokal dalam kehidupan sosial, budaya, adat istiadat, ekonomi dan politik serta berbagai aspek kehidupan lainnya.

Kearifan lokal yang dimiliki Etnis Kluet itu, antara lain adat pengangkatan, mekato, turun belawe dan Mayar Guru, Murih Beras dan Mecanang, membujangi, nyerah, tulak balo, mebobo, landok sampot, dan sumbang.

“Kearifan lokal etnis kluet ini, sekarang masih banyak digunakan. Namun, ada juga yang telah memudar atau telah bercampur dengan kebiasaan etnis lokal yang lainnya,” ucap Misri.

Memudar dan bercampur baurnya kearifan lokal tadi, kata Misri, sesuatu yang wajar. Tetapi kearifan lokal itu, perlu dilestarikan oleh pemerintah supaya jangan sempat punah dihantam oleh budaya-budaya yang datang dari luar.

Sebab, kearifan lokal yang dimiliki oleh Etnis Kluet dan etnis lainnya, di samping sebagai khasanah budaya juga dapat berfungsi sebagai sarana kontrol sosial.[]