Buku Pernak-Pernik Pidie Diluncurkan di PKA

Para penulis foto bersama usai peluncuran buku. @dok FAMe

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Buku Pernak-Pernik Pidie karya anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Pidie Raya (Pidie-Pidie Jaya) siang tadi diluncurkan di Anjungan Kabupaten Pidie di Kompleks Taman Sultanah Safiatuddin Banda Aceh, Rabu, 15 Agustus 2018.

Buku ini berisi tulisan-tulisan ringan seputar budaya, kuliner, wisata, dan lainnya yang ditulis oleh 15 penulis dari dua kabupaten tersebut dan disunting oleh Murizal Hamzah.

Peluncuran buku ini dihadiri istri Plt Gubernur Aceh, Dyah Erti Idawati, Wakil Ketua DPR Aceh, Dalimi, Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM Daud, dan Pembina FAMe, Yarmen Dinamika, serta sejumlah undangan lainnya.

Dyah Erti Idawati dalam kesempatan itu mengatakan, peluncuran buku ini merupakan kejutan menjelang berakhirnya Pekan Kebudayaan Aceh VII. Ia mengapresiasi dan memberi selamat kepada para penulis termasuk di antaranya istri Wakil Bupati Pidie, Wika, yang karyanya terdapat dalam buku ini. Kehadiran buku ini menurutnya merupakan upaya mempertahankan nilai-nilai kebudayaan dan keunikan suatu daerah khususnya tentang Pidie.

“Di era modernisasi seperti sekarang kalau kita mau adu modern kita kalah, jadi yang kita jual adalah lokalitas dan keunikannya. Inilah yang menarik dari Pidie. Mudah-mudahan buku ini bermanfaat, semoga memicu daerah lain untuk mengikuti. Selamat anak muda Pidie, mudah-mudahan buku ini bisa diinformasikan kepada yang lainnya,” ujar Dyah.

Sementara itu, Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM Daud, dalam kesempatan yang sama berharap kehadiran buku ini bisa memupuskan rasa penasaran banyak orang yang ingin mengetahui tentang Pidie. Buku ini kata dia menjadi menarik sebab yang ditonjolkan sama sekali tidak menyentuh ranah politik.

“Malah banyak sejarah kulinernya, apalagi diselipkan dengan puisi yang enak dibaca,” katanya.

Anyaman daun nipah yang menjadi wadah menaruh ie bu atau bubur nasi yang disebut keuribueng. @Ihan Nurdin/aceHTrend

Pembina FAMe, Yarmen Dinamika, mengatakan sejak dideklarasikan pada 16 Agustus 2017 lalu FAMe telah beranggotakan lebih dari seribu orang yang tersebar di tujuh kabupaten/kota yaitu Banda Aceh, Aceh Besar, Lhokseumawe, Aceh Utara, Bireuen, Aceh Jaya, dan Meulaboh.

“Tujuan kehadiran FAMe untuk mencetak sebanyak-banyaknya penulis, orator, penyair, dan penyunting atau editor di Aceh,” katanya.

Selain itu juga untuk menjadikan sebagian besar orang Aceh terampil menulis, jago berorasi, tertib dan santun berbahasa. Karena itu menurut Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia ini, siapa pun boleh bergabung di FAMe dan siapa pun bisa menjadi penulis kecuali yang tidak mau. Tak heran bila karya-karya yang terdapat dalam buku tersebut di antaranya ditulis oleh penulis yang baru berkecimpung di dunia literasi.

“Cita-cita besar kami adalah mewujudkan Aceh sebagai Provinsi Literasi pada tahun 2020 yang pegiat literasinya terbanyak di Indonesia,” ucapnya.

Salah satu yang diulas dalam buku ini adalah kuliner khas Pidie yaitu keuribueng. Makanan ini berupa bubur nasi atau ie bu yang diletakkan dalam wadah khusus yang terbuat dari anyaman dari daun nipah. Kudapan ini menjadi salah satu hidangan istimewa di acara peluncuran Pernak-Pernik Pidie tadi siang. Selain itu juga dihidangkan buleukat thai, timphan, ranup dan kue khas Pidie lainnya.

Besok, Kamis, 16 Agustus 2018, bertepatan dengan ulang tahun ke-1 FAMe Banda Aceh juga akan diluncurkan buku Profil Anjungan 23 Kabupaten/Kota di Kompleks Taman Sultanah Safiatuddin Banda Aceh.[]

KOMENTAR FACEBOOK