Ini Kesan PKA yang Terekam dalam Ingatan Sejumlah Anak di Banda Aceh

Komidi putar di arena PKA @Yelli Sustarina/aceHTrend

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII yang dihelat sejak 5-15 Agustus 2018 telah berakhir. Acara ini meninggalkan kesan yang beragam pada pengunjung, khususnya di kalangan anak-anak yang telah menyaksikan PKA. Di kalangan anak-anak PKA ternyata juga menjadi topik pembahasan. Setidaknya begitulah yang terlihat di antara sejumlah anak-anak Taman Pendidikan Alquran Kopelma Darussalam yang disaksikan aceHTrend.com pada Selasa, 14 Agustus 2018.

Dari sekian banyak kegiatan yang diadakan selama PKA berlangsung, yang menjadi daya tarik utama anak-anak berusia 8-11 tahun adalah atraksi di lokasi Pasar Rakyat. Baik yang di Blang Padang maupun di Taman Sultanah Safiatuddin.

“Aku yang paling suka lihat tong setan di PKA,” kata Sofia yang duduk di kelas lima sekolah dasar.

Begitu juga dengan lima teman Sofia lainnya. Mereka ada yang menyukai komedi putar, rumah hantu, naga terbang, dan atraksi sejenisnya.

Berdasarkan obrolan mereka dengan aceHTrend, mereka tidak mengerti tentang makna PKA sebenarnya karena yang mereka tahu hanya sekadar kegiatan pasar malam yang menyediakan atraksi permainan di atas.

Bahkan yang menggelitik sekaligus ironi, kepanjangan PKA saja mereka tidak tahu. Ada yang menyebutnya Partai Komunis Aceh, Pemberantasan Korupsi Aceh, dan Pusat Kebudayaan Aceh. Dari keenam anak tersebut, tak seorang pun yang tahu kepanjangan PKA.

Anak-anak tersebut baru sedikit paham saat aceHTrend menjelaskan apa itu PKA yang lokasi utama kegiatannya dibuat di Tasulsa. Lokasi 23 anjungan kabupaten/kota di Aceh.

“Iya, saya ada juga pergi ke rumah adat itu. Di sana ada meriam, pakaian Aceh, pelaminan Aceh, dan benda-benda zaman dahulu,” ujar Hafiz, yang ikut ke Tasulsa dalam kegiatan PKA bersama orang tuanya.

Namun, Hafiz tidak bisa menyaksikan ke semua anjungan karena sudah kelelahan bermain di Pasar Rakyat terlebih dahulu.

Mereka semua sebenarnya suka dengan pameran budaya yang ada di Kompleks Tasulsa. Namun, perhatian mereka tersita oleh berbagai macam permainan yang ada di Pasar Rakyat yang dinilai tidak ada hubungannya dengan budaya. Seperti pengakuan salah satu pengunjung Tasulsa ini.

“Saya kurang setuju dengan tong setan. Apakah tong setan itu kebudayaan kita? Jika itu yang dipertontonkan maka anak-anak akan berpikir bahwa ini bagian dari budaya Aceh,” kata Rahmi salah satu pengunjung yang datang ke Tasulsa.

Begitu juga dengan Aini yang malas membawa anak-anaknya ke PKA lantaran banyak mainan di sana. “Fokus mereka ke mainan jadinya, bukan lagi ke pameran budaya,” ungkap ibu dari tiga anak ini kepada aceHTrend.

Aini berharap semoga untuk PKA berikutnya pihak panitia mempertimbangkan lagi mengenai apa saja yang ingin dipertunjukkan di arena PKA.[]

Wartawan : Yelli Sustarina
Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK