Buku Profil Anjungan 23 Kabupaten/Kota Se-Aceh Kado Istimewa Setahun FAMe Banda Aceh

ist/Fardelyn Hacky

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Bertepatan dengan ulang tahunnya yang pertama, Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh meluncurkan buku bertajuk Profil Anjungan 23 Kabupaten/Kota Se-Aceh di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh pada Kamis siang, 16 Agustus 2018.

Buku ini menjadi kado istimewa bagi forum yang dideklarasikan di Museum Aceh pada 16 Agustus 2017. Sehari sebelumnya FAMe Chapter Pidie juga meluncurkan buku berjudul Pernak-Pernik Pidie di Anjungan Kabupaten Pidie di Kompleks Taman Sultanah Safiatuddin (Tasulsa).

Pembina FAMe, Yarmen Dinamika, dalam sambutannya mengatakan meski baru berumur setahun kehadiran FAMe Banda Aceh telah menginspirasi terbentuknya FAMe di sejumlah kabupaten/kota di Aceh. Saat ini FAMe sudah ada di Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Pidie Raya (Pidie-Pidie Jaya), Bireuen, Aceh Utara, dan Lhokseumawe. Dalam waktu dekat akan dideklarasikan juga beberapa chapter lainnya.

FAMe Banda Aceh sendiri sudah berlangsung 50 kali pertemuan yang dibuat setiap Rabu siang dengan lokasi yang berpindah-pindah. Belakangan kelas-kelas FAMe mulai rutin dilakukan di Aula Arpus Aceh di Jalan Teuku Nyak Arif Banda Aceh. FAMe telah menyiapkan kurikulum untuk 72 kali pertemuan dengan beragam materi ajar mencakup teknik menulis artikel opini, jurnalistik, kehumasan, public speaking, fotografi, sastra, editing, hingga sinematografi.

Uniknya kata Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia itu, kelas-kelas FAMe dibuat secara gratis. Begitu juga dengan para pembicara atau guru yang dihadirkan di kelas-kelas ini, semuanya tidak dibayar. Beberapa di antara mereka seperti dosen Fakultas Hukum sekaligus pengajar public speaking Saifuddin Bantasyam, doses FKIP Unsyiah Herman RN, dosen UIN Ar-Raniry Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, Kepala Lembaga Administrasi Negara Faizal Adriansyah, Kepala Arpus Aceh Wildan Abdullah, hingga Adnan Ganto, bankir sekaligus penasihat Menteri Pertahanan RI dan Janet Stelle dari Amerika.

“Anda beruntung berada di sini mendapatkan siraman intelektual dari mereka. FAMe tetap akan berlanjut kalau ada ketekunan muridnya dalam menerima ilmu dan keikhlasan gurunya dalam mengajar,” kata Yarmen.

Sementara itu, Kepala LAN Ir. Faizal Adriansyah yang hadir dalam syukuran setahun FAMe dan peluncuran buku tersebut mengatakan, aktivitas menulis dan membacalah yang membuat manusia berbeda dengan makhluk lainnya. Dewasa ini kata dia, orang buta huruf bukan lagi orang yang tidak mampu membaca dan menulis.

“Tetapi orang yang tidak mau dan tidak mampu belajar. Eksistensinya sebagai manusia akan hilang. Tulisan adalah kekayaan intelektua kalau dituangkan menjadi tulisan,” ujar pakar geologi tersebut.

Karena itu ia meminta agar budaya menulis terus ditumbuhkan menjadi kebiasaan yang positif. Apalagi dengan kemudahan perangkat teknologi seperti saat ini yang memungkinkan seseorang tetap bisa menulis dalam kondisi apa pun dan di mana pun.

Kepala Arpus Aceh Dr. Wildan Abdullah turut memberi motivasi dengan mengatakan bahwa menulis bisa menjadi profesi yang menjanjikan bila ditekuni secara serius. Bahkan dari kegiatan ini bukan tak mungkin menjadi sumber nafkah bagi profesi lainnya. Ia mencontohkan salah satu penulis Indonesia Habiburrahman El Shirazy yang menjadi miliarder karena karya-karyanya yang fenomenal. Karya tersebut diterjemahkan ke berbagai bahasa, bahkan ada yang difilmkan.

“Kehadiran FAMe mendukung misi Arpus. Forum ini memiliki tiga unsur kunci yaitu kreatif, inovatif, dan mencerdaskan. Sementara program Arpus di antaranya menertibkan dan mencetak buku dengan lokal konten, yaitu buku yang penulisnya orang Aceh, atau buku yang ditulis tentang Aceh. Aceh ini ibarat hutan belantara, nah bagaimana FAMe mengambil peran dalam hutan itu sesuai dengan kapasitas FAMe,” ujar Wildan.

Buku Profil Anjungan 23 Kabupaten/Kota Se-Aceh merupakan karya pertama FAMe Banda Aceh yang ditulis oleh 17 penulis Aceh. Disunting oleh Yarmen Dinamika dan dua co-editor yaitu Hayatullah Pasee dan Ihan Nurdin. Di awal-awal terbentuknya FAMe, kelas-kelas yang berlangsung setiap Rabu tersebut sering dibuat di anjungan-anjungan yang ada di Kompleks Tasulsa seperti Anjungan Singkil dan Anjungan Aceh Tengah. Bertepatan dengan momentum PKA VII, awak FAMe Banda Aceh pun bersemangat menggarap proyek buku pertama mereka dengan menuliskan profil anjungan tersebut.[]

KOMENTAR FACEBOOK