Selawat Badar di Upacara 17 Agustus

Oleh Munawar Liza Zainal*)

Sehari sebelum upacara 17 Agustus tahun 2008, dikabari untuk datang ke lapangan acara, untuk gladi bersih. Kira-kira pukul 10.00 WIB, saya datang.

Waktu turun dari kendaraan, terlihat beberapa panitia dalam keadaan muram, seperti orang habis kena marah. Saya melihat seorang komandan sebuah angkatan berdiri di situ dengan muka memerah seperti orang yang sedang marah.

Saya datang, bertanya, “Kenapa marah-marah?”

“Ini panitia acara untuk besok Pak, macam-macam mereka. Masak menambah-nambah acara. Acara 17 kan sakral. Jangan melanggar aturan,” begitu terang sang komandan.

Saya balik bertanya kepada penanggung-jawab acara, apanya yang ditambah sehingga Pak Komandan itu marah-marah.

“Setelah pembacaan Alquran, kami menambah dengan selawat Badar Pak, sesuai amanah Bapak,” demikian menurut panitia. Memang sejak pelantikan, saya dan Pak Wakil Islamuddin memerintahkan untuk memasukkan selawat Badar ke dalam salah satu agenda dalam semua acara penting.

“Terus saya beritahu komandan itu, selawat badar itu perintah Pak Wali, tidak melawan aturan. Bahkan sewaktu pelantikan Presiden Gus Dur, juga dikumandangkan,” kata ketua panitia yang berani itu, seorang tamatan STPDN.

Saya langsung balik arah, memanggil komandan itu. Saya gantian marah. Saya beritahu, bahwa Aceh ini daerah khusus, punya keistimewaan. Selawat badar itu tidak melanggar aturan dan tidak merusak acara pokok. Ini Aceh daerah yang menjalankan syariat Islam.

Langsung Pak Komandan itu berdiri tegap dan dari mulutnya keluar kata “siap Pak” berulang kali sampai saya meninggalkan lapangan.

..
Kepada pejabat di instansi vertikal, jangan lupa mempelajari adat dan keistimewaan lokal di daerah tempat bertugas.

Selamat menyambut hari proklamasi untuk rakyat Indonesia.

*)Penulis adalah mantan Walikota Sabang, support team juru runding GAM di Helsinki, Finlandia.

KOMENTAR FACEBOOK