Irwandi Yusuf dan Senjata FN-Minimi Macet

Oleh Munawar Liza Zainal*)

Hari itu, tanggal 22 November 2005, dengan menumpang sebuah skytruck (PZL M28) milik polisi, kami berangkat dari lanud AU Sultan Iskandar Muda menuju bandara Rembele Takengon.

Di bangku depan duduk Irwandi Yusuf dengan Jenderal Jaakko Oksanen, sebelahnya Tengku Bakhtiar Abdullah dan Pieter Feith, di belakang, saya dengan Jenderal Nipat Thonglek.

Selain kami, dari GAM, Sofyan Daud dan Darwis Djeunib sudah duluan sampai melalui jalan darat ke Takengon. Sedangkan Jenderal Supiadin, Anwar Noer, Amiruddin dan perwakilan pemerintah lainnya juga sampai ke sana dengan menggunakan helikopter.

Sesampai di Rembele, kami dijemput dengan beberapa kendaraan double cabin milik AMM Takengon. Langsung diantar menuju lapangan Musara Alun. Di sana ratusan masyarakat sudah bergerombol, beberapa tenda didirikan. Hari itu adalah hari pemotongan senjata GAM, dikenal dengan istilah decommissioning. Mantan kombatan GAM, pejabat daerah, pimpinan dan anggota milisi memenuhi lapangan.

Setelah beberapa senjata dipotong dan selesai diperiksa, tiba-tiba sepucuk senjata FN Minimi (mini mitrailleuse) milik GAM yang diserahkan, tidak berfungsi.

“Ini harus diganti. Yang diberikan itu tidak berfungsi. Harus ganti lain”, demikian desak Mayjen Supiadin, pangdam Iskandar Muda yang juga turut hadir sewaktu turut melihat proses pemotongan.

Irwandi Yusuf, Tengku Bakhtiar, Sofyan Daud, Darwis Djeunib terlihat agak gusar. Akan sangat rugi GAM telah menyerahkan sebuah senjata yang modern, tetapi tidak diakui dan dianggap disputed oleh pihak pemerintah.

Entah bagaimana cerita, tiba-tiba Irwandi mendapatkan akal. Dia berbicara dengan salah seorang anggota AMM asal Finlandia yang berlatar belakang militer. Sepertinya anggota AMM tersebut bisa memperbaiki senjata itu.


“Senjata ini masih bagus, tapi ada masalah kecil. Tunggu sebentar saya perbaiki”, demikian disampaikan Irwandi kepada rombongan yang mengerumuni.

Tanpa diperintah, hanya dengan bisikan saja, saya langsung mengerti dan berbicara dengan Jenderal Supiadin dan rombongan AMM dari RI, untuk mengalihkan perhatian mereka dari Irwandi dan anggota AMM asal Finland itu.

Setelah beberapa menit, senjata sudah siap. Irwandi mengajak rombongan untuk kembali memeriksa. Saat dicoba, senjata yang tadinya ngadat, langsung cespleng. Akhirnya disepakati, bahwa senjata itu layak dan dihitung dalam jumlah yang dipotong. Kami pun lega.

Setelah semua selesai, saya bertanya kepada Irwandi. “Bang, peu neupeugot sampee senjata nyan jeut pakek?”. Apa abang buat, sehingga senjata itu bisa kembali berfungsi?

Irwandi menjawab, “kamoe pasang pèr polpen u dalam, makajih jeut dipeutah tapi sigo sagai hahaha”. Kami pasang pèr dari pulpen, sehingga pelatuknya bisa ditarik. Tapi cuman untuk sekali saja, jawab Irwandi sambil tertawa.

Anwar Noer, anggota AMM dari pihak Pemerintah yang kebetulan berdiri di samping kami, tersenyum masam mendengar keterangan dari Irwandi.

Alhamdulillah, saat itu, GAM berhasil memenuhi komitmen untuk memotong seluruh senjata di kawasan wilayah Linge dan sekitarnya. Secara resiprokal, TNI dan Polri non-organik juga ditarik sesuai kesepakatan.

Dalam proses pemotongan tersebut, semua pihak terkait hadir, tidak terkecuali PETA dan tokoh GAM di wilayah Linge dan Gayo Lues. Saat konflik mereka berseberangan namun pada hari itu semua larut dalam ikatan persaudaraan disebabkan oleh perdamaian yang dicapai di Helsinki.

Foto-Foto: Jalimin Gayo.

*) Ditulis oleh Munawar Liza Zainal sebagai memory atas peran Irwandi Yusuf ketika damai Aceh baru saja terajut. Penulis adalah anggota GAM dan Walikota Sabang 2007-2012.

KOMENTAR FACEBOOK