Catatan Relawan Aceh di Lombok: Semangat Perempuan dan Anak-anak di Lokasi Bencana

istimewa/Muhammad Iqbal

Oleh: Muhammad Iqbal

Pengantar: Muhammad Iqbal merupakan Koordinator Lapangan Yayasan Tetesan Zamzam Aceh. Ia berangkat ke Lombok pada Selasa, 14 Agustus 2018. Di Lombok, ia bergabung dengan tim relawan Cilinaya Travel. Mereka juga didukung oleh Komunitas IndoEmirates UAE. Catatan-catatan pendek yang ia tuliskan di beranda Facebook miliknya merupakan upayanya mengabarkan pada masyarakat Indonesia mengenai kondisi yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

+++

MATAHARI mulai bergeser dari waktu duha, kuseruput lemon tea hangat buatan Bu Yulia. Aku rasa ini adalah menu sehat selama aku berada di Lombok. Berbeda dengan di Aceh. Saban pagi kupi Ulee Kareng dan dua potong kue basah mengganjal perut kosong. Sambil menunggu Bang Is pulang, Aku dan Bu Yulia bertukar pikiran tentang makanan Aceh dan Lombok. Ah, membayangkannya saja sudah membuat perutku kenyang.

Tiba-tiba ada yang memberi salam. “Assalamualaikum.” Ternyata Pak Abdurrahim, temannya Bu yulia. Tukang jahit langganan keluarga Bang Is. Beliau sengaja mengunjungi Bu Yulia karena khawatir, semenjak gempa tak ada kabar apa pun. Padahal beliau sendiri sedang trauma dan masih mengungsi.

Raut wajah Pak Abdurrahim semenjak gempa selalu menyuratkan kekhawatiran. Tidak ada senyum ceria seperti beliau menyapa pelanggan setia yang menjahit baju di kedainya. Begitulah yang kulihat.

Aku memperkenalkan diri. Awalnya beliau mengira aku keponakan Bang Is. “Bukan, Pak. Saya relawan dari Aceh.” Saya menjawab pertanyaan bapak yang mengenakan jaket hansaplast.

Ketika aku menyebut nama Aceh, Pak Abdurrahim bertambah panik. Pikirannya langsung kacau. Beliau teringat musibah besar yang melanda Aceh di tahun 2004 dan 2016 lalu, tsunami dan gempa Pidie Jaya. Aku merasa sedikit bersalah telah mengingatkan warga Lombok dengan menyebut dua nama bencana besar itu. Seolah-olah aku memutar lagu lama yang pernah menjadi hits di tingkat internasional.

“Tenang, Pak. Tenang. Tidak ada apa-apa. Semua sudah menjadi kehendak Tuhan. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Saya terbang dari Aceh sendiri, Pak. Tidak ada yang saya takutkan. Hidup dan mati telah menjadi takdir kita. Itulah kenapa saya ada di Lombok,” sahutku mencoba menenangkan suasana hati Pak Abdurrahim yang mulai kacau.

Setelah mendengarkan alasan saya ada di Lombok, Pak Abdurrahim mulai tenang. “Yang penting Zikir terus, Pak. Kalau di Aceh kemarin, Cina pun ikut berzikir.”

“Iya, Pak Don. Terima kasih sudah berbagi pengalaman.” Pak Abdurrahim melepas ikatan wajahnya dengan senyum kecil.

“Yuk, Don. Kita ke tempat yang kemarin. Hari ini kita masang pipa sama kran wudu biar cepat bisa dipake untuk salat hari raya,” ajak Bang Is dengan segera.

“Wah, Pak kalau gitu saya tinggal dulu ya. Mau ke lapangan lagi.”

“Iya, Pak. Sukses terus.”

***

Tepat pukul 11.00 waktu setempat kami berangkat ke Desa Dopang. Ternyata yang ikut menemani kami hari ini adalah Pak Wawan dan istrinya. Sebelumnya Bang Is sudah memotong pipa ukuran 3/4 untuk persiapan pemasangan pipa agar mudah di lapangan nanti.

Terik matahari saat bayang-bayang zawal bergeser ke barat tak menyulutkan semangat kami. Dibantu oleh ibu-ibu untuk mengangkat reruntuhan bata dan batako, Pak Taufiq begitu bersemangat memandu ke mana reruntuhan itu harus dibawa.

Aku, Bang is, Pdan ak wawan dibantu beberapa warga menurunkan batu-batu besar itu dari atas kepala ibu-ibu yang bersemangat sekali bergotong royong. Ikut juga anak-anak kecil yang wajahnya ingin mengatakan ‘berat sekali batu ini, tapi demi posko kami, kami harus bersemangat’ begitulah ekspresi wajah anak-anak korban gempa di Lombok saat kamera ponselku mengabadikan momen semangat 45 mereka.

Dua jam lebih kami menyeka keringat saat mentari tak mau mengalah dengan awan teduh. Akhirnya, baru dua kran air terpasang, bumi kembali bergoyang.

“Gempa!” teriak seorang ibu di tenda sebelah utara. Kami sekitar tujuh orang berhenti sejenak. Semenjak empat hari di Lombok, baru siang ini aku merasakan getaran gempa. “Ya Allah, mudahkan urusan hamba selama di sini. Aku telah berserah diri. Amiin.” Hanya doa yang bisa kupanjatkan, tempatku berpegang dalam setiap waktu dan keadaan yang kuhadapi.

Tak sampai semenit, gempa berhenti. Empat kran air lagi harus terpasang, apa pun ceritanya. Itu sudah menjadi tugas kami relawan. Bang Hasrul langsung menggali tanah untuk sanggaan pipa air. Dengan cepat asisten Pak Taufiq memotong bambu untuk tiang penyangga.

Pak Haris meminta anaknya untuk menghidupkan pompa air yang berjarak 50 meter dari tandon. Tampak keceriaan dan luapan bahagia dari Pak Taufiq, ketika air dari kran mengalir deras. Alhamdulillah, aku merasa bersyukur, lelah karena lillah terbayar dengan hasil yang memuaskan.

Pak Wawan langsung menyerahkan fasilitas wudu sederhana tersebut kepada perwakilan desa. Kami tak bisa berlama-lama, masih ada tempat lain yang harus kami kunjungi.

“Kalau begitu Pak Taufiq, kami izin pamit. Semoga bermanfaat apa yang kita kerjakan hari ini. Assalamualaikum,” tutup Pak Wawan pria berkaca mata itu.

***

Tak ada istilahnya tidur siang di sini. Saya dan tim Cilinaya Lombok bersinergi terus bekerja membantu saudara-saudara kita di Lombok. Yang ada hanya makan siang dan salat.

Bakda asar kami berangkat lagi. Kali ini ke Lombok Tengah mencari hewan kurban amanah sahabat donatur Yayasan Tetesan Zamzam dari Aceh. Setelah melihat dan memilih kambing dengan kualitas yang bagus, saya dan Bang Is memilih kambing berwarna hitam. Deal dengan harga Rp3,1 juta. Insyaallah kambing tersebut akan dipotong hari raya kedua. Idul Adha

Magrib hampir memasuki waktunya, kami pun pulang ke Mataram. Sepanjang perjalanan kami mencicipi makanan khas Lombok. Bentuknya seperti bulan sabit, rasanya lemak, dan gurih sekali. Kue komak namanya. Aku tak tahu persis komposisinya, sepertinya terbuat dari tepung beras dan santan sebagai bahan utama.

Untuk sore itu aku senang, karena Bang Andi atau lebih dikenal dengan panggilan LA kembali bergabung bersama kami. Dua hari lalu beliau sakit saat kami mengantarkan bantuan di pedalaman Guntur Macan. Sukses terus untuk Bang Andi.[]

Mataram, 19 Agustus 2018

Ditulis dibawah tenda pengungsian saat malam mulai menyapa fajar

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK