Dek Gam, Maestro Pencipta Tari Ratoh Jaroe

Dek Gam, Pria yang memiliki nama lengkap Yusri Saleh. Lahir di Banda Aceh 1977. Diberi gelar sebagai “The King of Ratoeh Jaroe”. Dia adalah seorang tokoh utama di balik hebohnya tarian Aceh “Ratoeh Jaroe” di ibukota Jakarta (Jabodetabek).

Akhir tahun 1999 dia menginjak Ibukota Jakarta dan hingga akhirnya sekitar pada tahun 2001-2002 tarian ini menjadi sangat populer khususnya bagi para pelajar putri di berbagai SMP, SMA dan juga di perguruan tinggi/universitas hingga bertahan sampai hari ini.

Walaupun banyak orang yang belum mengenalnya secara langsung, tapi nama tarian ratoeh jaroe sangatlah familiar dan juga telah menjadi program ekstrakurikuler, juga seringnya diadakan Kompetisi di setiap bulannya, di setiap acara wisuda kelulusan siswa, malahan tidak hanya digelar di sekolah saja, terkadang juga digelar di berbagai gedung pertunjukan yang bisa disewa atau juga di hotel berbintang.

Dek Gam telah mengajarkan ratoh jaroe lebih dari seratusan sekolah dan universitas di Ibukota (Jabodetabek) memiliki murid ribuan jumlahnya, tidak hanya sampai di situ, dia juga telah membawakan dan memperkenalkan tari ratoh jaroe ke berbagai negara, sudah lebih dari 30 negara di dunia dan sempat juga mengajarkan tari di negara konflik Syiria.

Seiring berjalannya waktu, di pertengahan jalan pun ternyata ada hal yang sangat mengganggu, apakah hal yang sangat mengganggu itu? Adalah tentang penyebutan nama tarian Aceh ini, pada awal-awalnya para pelajar dan orang-orang sangat akrab dengan menyebutnya tari saman, sementara tarian saman itu aslinya berasal dari Dataran Tinggi Gayo Lues. Akhirnya pun, mulailah ada pihak-pihak yang mempersoalkan hal ini, bersyukurnya lambat laun permasalahan ini pun telah selesai diklarifikasi.

Seperti yang kita ketahui, dalam bahasa Aceh pesisir, tari/menari juga disebut saman/meusaman, contoh : Jak ta meusaman (ayo kita menari) karena Suku Gayo Lues pun bagian dari Provinsi Aceh tentunya kita juga bersaudara.

Upacara Pembukaan Asian Games 2018

1500 Penari ratoeh jaroe memeriahkan pembukaan Asean Games di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Ibukota Jakarta pada Sabtu Malam tanggal 18 Agustus 2018. Kemeriahan dan kemegahan pagelaran pada opening sontak membuat masyarakat Indonesia kagum akan pertunjukan tersebut. Di media sosial pun penuh dengan bermacam ragam unggahan mengenai pembukaan dan juga bangga dapat menyaksikan pertunjukan yang spektakuler tersebut walau ada yang hanya melihat melalui Televisi.

Akan tetapi di saat berlangsungnya acara tersebut yang ditayangkan live di televisi, di situ tertulis bukannya tarian ratoeh jaroe, melainkan tari saman asal Dataran Tinggi Gayo Lues yang juga menjadi bagian dari Provinsi Aceh dan akhirnya pun para netizen bertanya-tanya, juga ada yang berdebat.

Tidak hanya mengenai hal itu saja, bahkan ada seorang seniman musik dan tari tradisional Aceh yang bernama Moertala, berdomisili di Sydney, Australia mempertanyakan perihal siapa aktor di balik tarian massal ratoeh jaroe tersebut di media Facebook.

‘..Kira-kira siapa ya seniman Aceh dibelakang pembukaan Asian Games?
Jangan-jangan ngak ada..’
#bukan saman, #bek bangai

Ada yang aneh dalam pertanyaan ini, apakah ia memang sudah tahu bahwasannya tidak ada satu orangpun seniman Aceh dalam garapan tari ratoeh jaroe di pembukaan Asean Games 2018, hingga ia komplain dan juga perihal tertera tulisan saman pada layar televisi, padahal tariannya ratoeh jaroe.

Seperti yang kita semua ketahui, di setiap kegiatan tarian massal ratoeh jaroe yang digelar di Ibukota Jakarta (Jabodetabek) tidak lain dan tidak bukan hanyalah Dek Gam beserta kawan-kawan khususnya yang berasal dari Aceh (Taufik & Teuku Karnosi alias Dek Tek). yang menjadi koreografernya.

Terkesan pertanyaan tersebut menegangkan, lalu saya mencoba untuk menenangkan dengan cara saya : “

..ka sep kah poet angen diglee, singoh padee than meurasa, ka sep kah groep hai boh hate, hancoe hate dalam dada..” Uyee bang Dek Gam..
lirik lagu itu adalah bagian syair dari tari ratoeh jaroe

Lantas Dek Gam langsung merespon komentar saya, tapi anehnya dia dengan sangat santai membalas komentar saya :
‘..Ambil hikmah nya saja, intinya tarian Aceh itu bukan hanya satu tapi banyak dan sudah di lihat oleh dunia internasional..”Uyeee..

Saya pun langsung merespon balik : “..Mantap… Berjiwa besar..”
(dan akhirnya pun keterusan berkomentar)

Dek Gam : “..yang kopi Aceh…. Uyee..”

saya : Bang Dek Gam.. hahahahaii..
Pokoknya nanti merapat ke jakarta lagi. Tunggu saya ya bang..

Dek Gam : nanti kita buat yang lebih heboh lagi

saya : bang Dek Gam, Insya Allah bang.. saya sudah siap bergerilya untuk yang ke sekian kalinya,
dari ACEH untuk INDONESIA.
# 2019IndonesiaTanpaFitnah

ada juga yang bertanya : butuh klarifikasi tu sebagai Master of Ratoeh Jaroe, banyak nitizen bertanya tanya opening Asean games tari Saman, Ratoeh Duk Atawa Ratoeh Jaroe..? Mohon penjelasannya.

itu RATOH JAROE karna saya sudah sampaikan ke DENI MALIK sebelum acara ini berlangsung tapi sepertinya tidak begitu direspon oleh deni malik. Dan sedari awal para pelatih ekstrakurikuler Ratoh jaroe pun tidak dilibatkan tapi saya sudah jelaskan ini tari Ratoh jaroe jangan sebut tari saman

ada juga yang nyeletuk
Nyan ka betoi..kudinge tari aceh..tp leh peu bahasa ikheun hana metateupeu..kon lage budaya tanyoe.

saya akhiri saja cerita ini dengan :

“..kita semua berharap permasalahan semacam ini, kita ambil yang positivenya saja dan diklarifikasi dengan sebaik-baiknya dan juga disetiap permasalahan apapun bisa dimusyawarahkan dengan sebaik-baiknya..”

( # 2019 Indonesia Tanpa Fitnah )

Ramadhan Moeslem Arrasuly

KOMENTAR FACEBOOK